Gapuspindo nilai perlu peran pemerintah atasi kebutuhan daging

Faisal Yunianto
·Bacaan 2 menit

Gabungan Pelaku Usaha Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo) menyebutkan peran pemerintah sangat dibutuhkan untuk mengatasi kebutuhan daging nasional di samping juga harus menjaga kelangsungan usaha industri sapi potong dalam negeri agar tidak tergerus oleh daging impor.

Anggota Dewan Gabungan Pelaku Usaha Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo) Dicky Adikelana Adiwoso dalam webinar yang dipantau di Jakarta, Rabu, mengatakan perubahan iklim yang menyebabkan menurunnya pasokan sapi bakalan dari Australia untuk digemukkan di Indonesia oleh peternak lokal memaksa pemerintah harus mengimpor daging kerbau beku dari India yang merebut pangsa pasar daging sapi lokal.

Kebutuhan daging nasional yang memang belum bisa dipenuhi dari pasokan dalam negeri, selama ini diatasi dengan importasi sapi bakalan dari Australia dan sebagian importasi daging sapi beku dari Negara Kanguru tersebut. Namun menurunnya produksi sapi bakalan di Australia akibat perubahan iklim yang berpengaruh pada menurunnya importasi ke Indonesia menyebabkan stok sapi potong di kalangan pengusaha semakin menipis.

"Pemerintah sudah mengambil kebijakan mendatangkan daging yang lebih murah seperti dari India, dan ini sudah masuk pasar yang biasanya dipasok oleh sapi feedlot kita semua. Ini akan menjadi sebuah tantangan kita di masa depan, kita kehilangan konsumen yang biasanya membeli daging sapi kita, mereka sudah membeli daging alternatif yang didatangkan pemerintah yaitu daging kerbau dari India," kata Dicky.

Dia mengatakan pihaknya telah berupaya secara maksimal dalam memenuhi permintaan daging sapi pada tahun 2020 di saat pasokan daging impor mengalami kendala karena pandemi COVID-19. Dicky mengaku Gapuspindo masih memiliki banyak stok sapi yang didatangkan secara besar-besaran dari Australia pada akhir 2019 sebelum terjadinya banjir bandang dan kebakaran hutan di negara tersebut.

Namun Dicky mengatakan Gapuspindo tidak bisa secara terus menerus memenuhi permintaan daging nasional yang memang masih defisit, terlebih pada bulan Ramadhan dan menjelang Hari Raya Idul Fitri. Selain itu, impor sapi bakalan dari Australia mengalami keterbatasan dikarenakan pasokan yang menurun dan juga harga yang kian meningkat.

Pemerintah telah melakukan importasi daging kerbau yang ditugaskan kepada Perum Bulog untuk memenuhi kebutuhan konsumsi daging masyarakat Indonesia. Hingga saat ini Bulog telah memiliki stok hingga 13 ribu ton daging kerbau yang diimpor dari India. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus meningkat untuk memenuhi kebutuhan daging di sisa tahun 2021 lantaran sudah ada kontrak importasi dengan total 80 ribu ton.

"Sekarang sudah ada 13 ribu ton, tapi setelah Lebaran akan ada masukan yang sangat banyak ke pasar Indonesia. Dengan adanya elastisitas harga, konsumen akan memilih harga yang lebih murah," kata Dicky.

Menurutnya permintaan daging segar dari pemotongan sapi di Indonesia akan tetap ada sesuai dengan segmentasi pasar. Namun pelaku usaha harus mempertimbangkan elastisitas harga agar bisa bersaing dengan daging impor dari India.

Dia berpendapat dibutuhkan kerja bersama untuk menurunkan harga sapi bakalan yang biasa diimpor dari Australia. Kerja sama antara Indonesia dan Australia dalam sektor daging sapi dan sapi bakalan sendiri sudah berlangsung lebih dari 30 tahun.

Baca juga: Pemerintah siapkan kebutuhan daging dengan memobilisasi sapi lokal
Baca juga: Bulog stok 13 ribu ton daging untuk kebutuhan puasa-Lebaran 2021
Baca juga: Bulog jual daging lewat daring atasi tingginya harga