Gapuspindo: Peningkatan populasi sapi tak turunkan defisit daging

·Bacaan 2 menit

Ketua Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo) Didiek Purwanto mengatakan meningkatnya populasi sapi potong secara nasional sejak 2018 hingga 2021 ternyata belum mampu menurunkan defisit kebutuhan daging sapi dalam negeri.

"Peningkatan populasi sapi ternyata tidak turunkan gap produksi nasional dengan permintaan dalam negeri. Berarti peningkatan populasi tidak terlalu signifikan untuk menurunkan gap," kata Didiek dalam webinar mengenai impor daging yang diselenggarakan oleh Pataka yang dipantau di Jakarta, Kamis.

Didiek menyebutkan bahwa defisit daging sapi secara nasional terus meningkat sejak 2016 hingga 2021. Defisit daging sapi dilihat dari kebutuhan konsumsi yang lebih tinggi dibandingkan dengan produksi dalam negeri sejak tahun 2016 hingga 2021 secara berturut-turut yakni 250 ribu ton, 233 ribu ton, 278 ribu ton, 294 ribu ton, dan 270 ribu ton.

Baca juga: Gapuspindo sarankan pemerintah impor sapi bakalan daripada daging beku

Sementara populasi sapi potong secara nasional terus meningkat sejak 2018 hingga 2021, yakni secara berturut-turut 16,4 juta ekor, 16,9 juta ekor, 17,4 juta ekor, dan 18 juta ekor.

Didiek mengungkapkan bahwa populasi sapi sebesar 18.054.000 ekor saat ini merupakan jumlah secara keseluruhan mulai dari sapi dewasa, muda, dan anakan. Dari jumlah tersebut sebanyak 5.750.199 ekor merupakan sapi jantan, dan sapi betinanya 12.306.801.

Dari jumlah sapi jantan sebanyak 5,7 juta ekor tersebut, ternyata hanya 1,8 juta ekor yang merupakan sapi dewasa. Dari 1,8 juta itu hanya 90 persen yang bisa dijadikan sapi potong atau sekitar 1,6 juta.

Baca juga: Dharma Jaya berencana impor 2.500 ton daging sapi hingga April 2022

Sedangkan untuk sapi betina, hanya sapi yang sudah tidak produktif menjadi indukan yang bisa dijadikan sapi potong atau sekitar 5 persen dari total populasi atau sekitar 406 ribu. Jadi secara total kurang lebih terdapat 2 juta ekor sapi potong yang berpotensi dijadikan sebagai pasokan daging nasional. Jika dikonversikan menjadi daging maka kurang lebih dapat memenuhi kebutuhan hingga 366 ribu ton.

Namun total populasi sapi tersebut tersebar di seluruh Indonesia yang dimiliki baik oleh pengusaha sapi potong maupun petani di berbagai wilayah.

Untuk memenuhi defisit kebutuhan daging sapi nasional tersebut, Gapuspindo menyarankan agar pemerintah lebih baik melakukan impor sapi bakalan dibandingkan mengimpor daging beku. Importasi sapi bakalan, kata Didiek, memiliki nilai tambah lebih yang bisa memberikan dampak ekonomi ganda secara nasional.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel