Gara-Gara Corona, Victoria's Secret Tutup Ratusan Gerai di AS dan Canada

Liputan6.com, Jakarta - Perusahaan induk Victoria's Secret, L Brands, mengumumkan akan menutup secara permanen 250 gerai Victoria's Secret dan PINK di AS dan Kanada. Penutupan tersebut dilakukan karena penjualan perusahaan tersebut terimbas pandemi Corona covid-19.

Victoria's Secret, yang memiliki 1.091 toko di AS dan Kanada, akan menutup 235 gerai Victoria's Secret AS dan tiga gerai Pink. 12 lainnya yang ditutup berada di Kanada.

Selain 250 gerai Victoria's Secret, L Brands juga menutup 50 gerai Bath & Body Works.

Melansir dari laman Forbes, Kamis (21/5/2020), penjualan bersih Bath & Body Works, yang juga dinaungi oleh L Brands, mencatatkan penurunan selama kuartal I 2020 sebesar 37 persen menjadi USD 1,65 miliar, dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yakni USD 2,63 miliar.

Secara total, penjualan di Bath & Body Works turun 18 persen menjadi USD 712,7 juta, meskipun bisnis online Bath & Body Works melonjak 85 persen, dengan produk yang oaling dicati berupa pembersih tangan dan sabun wangi.

Sementara penjualan total untuk Victoria's Secret terjun bebas sebesar 46 persen menjadi USD 821,5 juta.

Dalam pengajuan sekuritas terpisah di hari yang sama, perusahaan ini mengumumkan bahwa CEO saat ini, Charles McGuigan mengundurkan diri.

 

Komitmen

Victoria's Secret membuka toko lingerie pertamanya di Jakarta, tepatnya di EastMall Grand Indonesia. (Foto: fimela.com/Bambang E. Ros)

L Brands mengatakan masih berkomitmen untuk membuat Bath & Body Works menjadi prusahaan mandiri, dengan Victoria's Secret yang beroperasi sebagai bisnis mandiri lainnya.

Perusahaan ini telah menunjuk CEO L Brands, L Stuart Burgdoerfer sebagai CEO sementara Victoria's Secret. Dikatakan, pihaknya memperkirakan akan secara permanen menutup sekitar 250 toko Victoria's Secret dan PINK di Amerika Utara tahun ini.

Sebagai informasi, pada penutupan pasar Rabu (21/5), saham L Brands telah jatuh lebih dari 32 persen untuk tahun ini, dengan kapitalisasi pasar sekitar USD 3,4 miliar.