Gara-gara Hartanya, Miliarder Dunia Justru Jadi Perusak Lingkungan Terbesar daripada Warga Biasa

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta Sejak tahun lalu, nama Elon Musk masuk jajaran miliarder yang banyak dibicarakan publik. Hanya dalam hitungan bulan, kekayaan Musk melonjak jadi USD 160 miliar dan menggeser beberapa nama besar seperti Warren Buffet hingga Bill Gates.

Musk bukanlah satu-satunya yang ketiban rejeki nomplok saat pandemi Covid-19 menghantam perekonomian global. Catatan Forbes, miliarder dunia mengalami penambahan kekayaan US 1,9 triliun pada 2020.

Seperti melansir The Conversation, Kamis (18/2/2021), Richard Wilk dan Beatriz Barros, akademisi dari Indiana University menulis analisisnya, menguraikan keterkaitan antara kekayaan miliarder dunia dengan potensi jejak karbon yang dihasilkan.

Deretan miliarder dengan aset yang berlimpah memiliki jejak karbon ribuan kali lebih besar dibanding rata-rata penduduk biasa. Artinya kontribusi mereka terhadap perubahan iklim dan kerusakan lingkungan juga jauh lebih besar.

Wilk dan Barros memilih 20 orang kaya dari daftar 2.095 miliarder dunia versi Forbes 2020. Terutama miliarder yang sudah secara terbuka mempublikasikan aset-asetnya.

Keduanya mendapati ke 20 miliarder tersebut rata-rata menghasilkan 8.190 ton CO2 pada tahun 2018. Sementara pada tahun yang sama, rata-rata orang Amerika menghasilkan 15 ton CO2 dan jauh lebih besar lagi dibanding rata-rata penduduk global yang hanya menyumbang 5 ton CO2 perorang.

Satu orang kaya dengan kepemilikan satu kapal pesiar mini mewah menyumbang sekitar 7.020 ton CO2 per tahun. Ini merupakan aset yang memiliki emisi paling buruk dibanding kendaraan barang mewah lain.

Salah satu kapal pesiar mini mewah yang berhasil dihitung ialah milik miliarder Roman Abramovich, pengusaha minyak dan gas sekaligus pemilik club sepak bola Chelsea.

Kapal pesiar Abramovich menghasilkan 25.100 ton CO2 pertahun, tiga kali lipat lebih banyak dari kapal pesiar mini mewah pada umumnya.

Abramovich merupakan miliarder dengan jejak karbon paling besar berdasarkan pehitungan Wilk dan Barros. Ia menghasilkan 33.859 ton CO2, sebagian besar disumbangkan dari kapal pesiar pribadi serta transportasi pribadi lainnya seperti pesawat, helikopter dan mobil.

Di mana Posisi Jeff Bezos, Ellon Musk dan Bill Gates?

Sekalipun beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan relasi yang sejajar antara tingginya kekayaan dengan semakin tingginya buangan CO2 ke atmosfer, hasil perhitungan Wilk dan Barros menyoroti tiga posisi miliarder kawakan, yaitu Jeff Bezos, Ellon Musk dan Bill Gates yang justru tidak sesuai prediksi.

Ketiganya berada di peringkat jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan miliarder lain yang memiliki kekayaan lebih kecil namun menghasilkan emisi lebih banyak.

Hanya Bernard Arnault, pemilik merk pakaian mahal Louis Vuitton (LV), merupakan miliarder jajaran lima besar yang memilik jejak karbon lebih dari 10 ribu ton per tahun.

Jumlah emisi yang dihasilkan Arnault sangat besar karena keberadaan kapal pesiarnya yang menyumbang hampir 90 persen total jejak karbon.

Beda lagi dengan Bezos, Musk dan Gates yang sedikit lebih baik karena tidak mengoleksi kapal pesiar.

Melacak aset Bill Gates, jejak karbonnya dominan datang dari kepemilikannya terhadap empat pesawat pribadi dan beberapa aset berupa hunian di banyak tempat berbeda. Meski begitu, dia bukanlah yang paling boros.

Begitupun dengan Bezos. Sebagai orang terkaya di dunia, dia berada di peringkat ketiga terbawah dari daftar 20 miliuner yang jejak karbonnya diteliti Wilk dan Barros.

Bezos menghasilkan emisi karbon sekitar 2.224 ton CO2, yang mayoritas juga datang dari koleksi kendaraan mewahnya.

Emisi yang diproduksi Elon Musk lebih rendah lagi. Tahun 2018, dia memiliki delapan rumah dan satu pesawat pribadi yang menyumbang sekitar 2.079 ton CO2.

Meski begitu, janji Musk pada tahun 2020 untuk menjual beberapa hunian dan menghibahkan asetnya membuat emisi yang dihasilkan Musk diprediksikan akan turun banyak.

Komitmen Jeff Bezos, Ellon Musk dan Bill Gates terhadap Perubahan Iklim

Ilustrasi Miliarder (pixabay.com)
Ilustrasi Miliarder (pixabay.com)

Sekalipun emisi karbon Bezos, Musk juga Gates masih sangat tinggi jika dibanding rata-rata emisi individu penduduk Amerika Serikat dan Global, beberapa pihak berpendapat hal itu jauh lebih baik jika melihat nilai kekayaan sebenarnya yang mereka miliki.

Disamping itu, ketiga miliarder ini juga terkenal dengan komitmennya dalam persoalan mengurangi emisi karbon dan mencegah perubahan iklim.

Februari tahun lalu Bezos baru saja meluncurkan yayasan amalnya bernama Bezos Earth Fund. Melalui lembaga ini, Bezos akan memberikan USD 10 miliar setara Rp 140 triliun kepada beberapa organisasi dunia di bidang penyelamatan lingkungan.

Gates lebih dulu lagi, tahun 2015 ia mendirikan Breakthrough Energy (BE), perusahaan ventura yang fokus pada penyaluran investasi pada perusahaan dan teknologi ramah lingkungan.

Sudah ada banyak nama-nama besar yang ikut serta sebagai investor di proyek ini, termasuk Bezos dan Mukesh Ambani, orang terkaya di India.

Beda lagi dengan Musk. Bos Tesla ini sempat mengumumkan di akun twitternya pertengahan Januari lalu, ia akan memberikan hadiah USD 100 juta setara Rp 1,4 triliun kepada perusahaan yang bisa membuat teknologi carbon capture storage (ccs) atau teknologi penangkapan karbon terbaik.

Kesadaran terhadap masalah perubahan iklim ini terus meningkat seiring waktu. Pakar iklim mengatakan bahwa untuk berharap membatasi pemanasan suhu global hingga 1,5 derajat celcius di atas tingkat pra-industri, negara-negara harus mengurangi setengah emisi mereka pada tahun 2030 dan menghilangkannya pada tahun 2050.

Reporter: Abdul Azis Said

Saksikan Video Ini