Garap Proyek Energi Surya, SUN Energy Kantongi Pendanaan Rp 360 Miliar

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - SUN Energy mengantongi pendanaan seri A sebesar USD 25 juta atau lebih dari Rp 360 miliar. Pendanaan seri A yang didapat pengembang proyek tenaga surya ini meningkatkan valuasi SUN Energy hingga USD 200 juta.

Putaran pendanaan ini dipimpin oleh sejumlah konglomerat terkemuka di Indonesia, yaitu TBS Energi Utama melalui anak perusahaannya PT Toba Bara Energi (TBAE). Selain itu ada PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID), induk perusahaan dari PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA).

SUN Energy akan menggunakan pendanaan ini untuk mengembangkan berbagai proyek di Indonesia. Selain itu untuk memperluas skala bisnis di wilayah regional, serta memperkuat platform perusahaan yang berada di garis depan dalam gerakan transisi energi Indonesia.

"SUN Energy berharap bisa mengambil andil besar dalam perjalanan transformasi energi masa depan dan akan mengubah lanskap energi terbarukan di kawasan ini dengan inovasi teknologi serta proyek-proyek yang inovatif," ungkap Chief Executive Officer SUN Energy, Philip Lee di Jakarta, Selasa (23/11).

Melalui visi ingin melistriki Indonesia secara berkelanjutan dengan energi bersih, kini SUN Energy melengkapi ekosistem energi terbarukan dengan memperluas layanan. Ini terdiri dari solusi energi surya berbasis teknologi untuk perumahan, mobilitas, kendaraan listrik, dan sertifikat energi baru terbarukan.

Di sisi lain, SUN Energy juga berkomitmen menerapkan Environmental, Social, and Governance (ESG) sebagai inti dari DNA perusahaan. Perusahaan menginisiasi program-program elektrifikasi di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), sekolah, puskesmas, hingga distribusi cold storage di pedesaan.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Ekspansi Bisnis

Pekerja memeriksa intalasi panel surya di Gedung Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM di Jalan Rasuna Said, Jakarta, Senin (27/9/2021). Kementerian Perindustrian mencatat importasi komponen PLTS sejak 2018 hingga 2020 mengalami penurunan. (Liputan6.com/Herman Zakharia)
Pekerja memeriksa intalasi panel surya di Gedung Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM di Jalan Rasuna Said, Jakarta, Senin (27/9/2021). Kementerian Perindustrian mencatat importasi komponen PLTS sejak 2018 hingga 2020 mengalami penurunan. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

SUN Energy juga telah melakukan ekspansi bisnis di pasar utama, seperti Thailand, Vietnam, dan Taiwan, serta baru-baru ini mengakuisisi pembangkit listrik tenaga surya terbesar di Australia Barat sebesar 132 MWp.

Pendanaan seri A ini semakin memperkuat posisi SUN Energy di Indonesia serta meningkatkan pertumbuhan perusahaan di regional bersama dengan mitra strategis unggulan yang memiliki kesamaan visi dalam mendorong transisi energi bersih.

SUN Energy berkomitmen untuk memainkan peran penting menuju target Indonesia nol emisi karbon tahun 2060 yang ditetapkan pada COP26, konferensi iklim terbesar di dunia yang diadakan di Glasgow awal bulan November ini.

Wakil Direktur Utama TBS Energi Utama, Pandu Sjahrir mengatakan bahwa investasi ini adalah salah satu strategi perusahaan untuk mendorong target nol emisi Karbon pada tahun 2030. Melalui kapabilitas yang dimiliki oleh SUN Energy, TBS Energi Utama dapat mengakselerasi target tersebut.

"Kami berkomitmen untuk mengembangkan energi bersih, baru dan terbarukan demi menciptakan masa depan berkelanjutan. Industri pembangkit listrik tenaga surya merupakan salah satu fokus serta strategi untuk mengurangi jejak karbon. Dengan rekam jejak yang dimiliki oleh SUN Energy, kami percaya kol aborasi ini akan mengakselerasi target nol emisi karbon di tahun 2030," ujar Pandu.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel