Garuda Indonesia harap dana talangan dorong kelangsungan maskapai

Satyagraha
·Bacaan 2 menit

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk mengharapkan dana talangan sebesar Rp8,5 triliun dengan skema obligasi wajib konversi atau mandatory convertible bond (MCB) yang diberikan pemerintah dalam rangka pemulihan ekonomi nasional akan dapat mendorong kelangsungan maskapai ke depan.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra dalam jumpa pers secara daring seusai RUPSLB di Jakarta, Jumat, mengatakan dana tersebut akan digunakan untuk mendukung likuiditas dan solvabilitas perusahaan.

"Tentu saja ini akan digunakan untuk pembiayaan operasional perusahaan ke depan. Pada akhirnya target MCB ini adalah kelangsungan perusahaan," katanya.

Irfan menuturkan, lebih dari itu, dana talangan diharapkan juga dapat mendorong lebih cepat pemulihan industri penerbangan yang terpukul keras karena pandemi, sehingga bisa ikut membantu memulihkan ekonomi nasional.

Baca juga: Gelar RUPSLB, Direktur Keuangan Garuda Indonesia diganti

Irfan menambahkan, dana talangan tersebut tidak akan digunakan untuk membayar kewajiban pegawai Garuda Indonesia yang terdampak karena pandemi COVID-19. Garuda Indonesia memastikan perusahaan tidak melakukan Pemutusan Hubungan Karyawan (PHK) melainkan memberikan penawaran pensiun dini dan mempercepat kontrak pegawai Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) tanpa menghilangkan hak mereka.

"Kita sudah selesaikan itu dan MCB tidak diperuntukkan untuk itu. MCB ini saya katakan peruntukannya untuk likuiditas, solvabilitas, untuk memastikan operasional perusahaan lancar di depan, bukan di belakang," katanya.

Dalam RUPSLB yang digelar, Jumat, pemegang saham Garuda Indonesia telah menyetujui penerbitan obligasi wajib konversi atau mandatory convertible bond (MCB) dengan nilai total maksimal Rp8,5 triliun dan tenor maksimal tujuh tahun yang wajib dikonversi menjadi saham baru begitu jatuh tempo.

Dengan persetujuan tersebut, maka perseroan sudah bisa melakukan diskusi lebih rinci mengenai pencairan MCB melalui pelaksana investasi dari Kementerian Keuangan yakni PT SMI.

"Kita berharap bisa selesai secepatnya dan kami tentu saja berharap ini bisa diselesaikan sebelum akhir tahun," kata Irfan.

Baca juga: Garuda Indonesia fokus pada layanan penerbangan

Baca juga: Hingga September 2020, Garuda bukukan pendapatan usaha Rp16 triliun