Garuda Indonesia Kembalikan 2 Pesawat Sewaan B737-800 NG buat Atasi Krisis

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Maskapai PT Garuda Indonesia mengembalikan dua armada B737-800 NG sewaan kepada lessor. Pengembalian pesawat sebagai langkah perusahaan mengatasi kondisi yang terimbas pandemi Covid-19.

Pengembalian pesawat ini sengaja dilakukan sebelum jatuh tempo masa sewa. "Percepatan pengembalian armada yang belum jatuh tempo masa sewanya, merupakan bagian dari langkah strategis Garuda Indonesia dalam mengoptimalisasikan produktivitas armada dengan mempercepat jangka waktu sewa pesawat," kata Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra, Senin (7/5/2021).

Irfan mengatakan pengembalian pesawat juga sebagai upaya ataus strategi menyesuaikan kebutuhan pasar di era kenormalan baru.

"Ini merupakan langkah penting yang perlu kami lakukan di tengah tekanan kinerja usaha imbas pandemi Covid-19," jelasnya.

Irfan menuturkan percepatan pengembalian pesawat dilakukan setelah adanya kesepakatan bersama antara Garuda Indonesia dan pihak lessor pesawat.

Salah satu syarat pengembalian pesawat yakni dengan melakukan perubahan kode registrasi pesawat terkait.

Selain itu, manajemen Garuda Indonesia juga tengah membangun komunikasi yang sama dengan pihak lessor lainnya.

"Saat ini, kami juga terus menjalin komunikasi bersama lessor pesawat lainnya, tentunya dengan mengedepankan aspek legalitas dan compliance yang berlaku", kata dia.

Reporter: Anisya Alfaqir

Sumber: Merdeka.com

Garuda Indonesia Butuh Bantuan Pertamina

Desain masker baru pesawat Garuda Indonesia pada armada B737-800 NG (dok: GIA)
Desain masker baru pesawat Garuda Indonesia pada armada B737-800 NG (dok: GIA)

Utang maskapai nasional Garuda Indonesia terus menumpuk mencapai Rp 70 triliun dan diperkirakan terus bertambah Rp 1 triliun tiap bulannya.

Berbagai siasat pun dilakukan untuk menyelamatkan perusahaan, mulai dari pensiun dini karyawan hingga penangguhan gaji komisaris. Opsi penyelamatan pun disampaikan oleh Kementerian BUMN selaku pemilik saham terbesar perseroan.

Menurut pengamat penerbangan Gatot Raharjo, Garuda juga perlu membenahi kondisi eksternal, tidak hanya internal, karena faktor eksternal juga mempengaruhi kondisi perusahaan ke depan, misalnya soal pengadaan avtur.

"Avtur (oleh Pertamina) ini hampir 30 persen biaya maskapai. Kalau avtur bisa diringankan misal harganya diturunkan atau sistem pembayaran dibuat tidak memberatkan, itu sangat membantu Garuda," kata Gatot saat dihubungi Liputan6.com, Senin (7/6/2021).

Adapun, lanjutnya, manajemen internal perusahaan sudah melakukan restrukturisasi hutang sewa dan pengadaan pesawat sebesar 20 persen dari biaya maskapai. Restrukturisasi harus didorong agar meringankan beban Garuda.

"Soal komisaris, sebaiknya tidak usah dikurangi tapi diganti dengan orang-orang yang lebih kompeten, biayanya tidak mahal kok," kata Gatot.

Kata Gatot, pemerintah sebagai pemilik saham harus bisa mempertimbangkan, apakah Garuda Indonesia masih harus menjalani penerbangan penugasan yang biasanya rugi, atau penerbangan tersebut dikurangi agar rute-rute yang rugi segera ditutup.

Saksikan Video Ini