Gas alam mampu dukung transisi energi untuk 40 tahun

·Bacaan 1 menit

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif mengatakan potensi gas alam mampu mendukung program transisi energi di Indonesia sampai 40 tahun ke depan.

"Kita masih memiliki (gas alam) 30-40 tahun. Kita bisa optimalkan sumber-sumber gas alam di dalam negeri untuk bisa mendukung proses transisi ini berjalan dengan baik," ujarnya dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi VII DPR RI di Jakarta, Senin.

Berdasarkan perhitungan Kementerian ESDM, cadangan gas alam di Indonesia mencapai 62,4 triliun kaki kubik dengan cadangan terbukti sebanyak 43,6 triliun kaki kubik.

Pemerintah beralasan menjadikan gas alam sebagai pendukung transisi energi karena mudah didistribusikan dan disimpan, serta rendah karbon.

Berdasarkan data The Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), badan PBB untuk menilai ilmu terkait perubahan iklim, gas alam hanya menghasilkan 469 gram karbon dioksida per kilowatt jam (kWh).

Angka emisi itu lebih rendah dibandingkan batu bara yang mencapai 1.001 gram karbon dioksida per kWh dan minyak bumi sebesar 840 gram karbon dioksida per kWh.

Dalam proyeksi kebutuhan energi Indonesia yang dirumuskan Dewan Energi Nasional, porsi bauran energi untuk gas alam diproyeksikan meningkatkan selama 29 tahun ke depan.

Pada 2020, bauran gas alam tercatat hanya sebesar 21,2 persen dengan volume mencapai 6.557 MMSCFD.

Jumlah itu bertambah menjadi 21,8 persen dengan volume sebesar 11.728 MMSCFD pada 2030.

Kemudian meningkat signifikan menjadi 24,0 persen dengan volume mencapai 26.112 MMSCFD pada 2050.

Pemerintah berkomitmen untuk terus meningkatkan cadangan dan produksi gas alam melalui aktivitas eksplorasi sumur-sumur baru dan kegiatan eksploitasi agar bisa memenuhi kebutuhan energi di masa transisi.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel