Gawat, Bahaya Ganda Intai Indonesia Jika Perang China-Amerika Pecah

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Sejumlah peristiwa yang terjadi sejak awal 2020 di Laut China Selatan, menunjukkan bahwa ketegangan antara dua kekuatan besar dunia, China dan Amerika Serikat (AS), semakin memanas. Kemungkinan terburuk adalah meletusnya perang, dan sangat membahayakan negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia.

Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) maupun Angkatan Bersenjata AS (US Armed Forces) terus saling balas perang urat syaraf, menyusul hubungan kedua negara yang semakin memburuk.

Amerika sebagai kekuatan militer terbesar dunia jelas tak mau membiarkan China, yang dalam pandangannya telah banyak melakukan pelanggaran hukum internasional.

Di satu sisi, meski kerap menyebut bahwa latihan militer adalah kegiatan rutinnya, Tentara Pembebasan Rakyat China sangat jelas menunjukkan ambisinya. Di bawah komando Presiden sekaligus Ketua Komisi Militer Pusat China, Xi Jinping, armada militer China belum berhenti untuk meninngkatkan kemajuan teknologinya.

VIVA Militer: Kapal perang Angkatan Laut China menembakkan meriam
VIVA Militer: Kapal perang Angkatan Laut China menembakkan meriam

Dalam berita VIVA Militer sebelumnya, militer Amerika memastikan bakal merombak strateginya untuk menghadapi dominasi China di Laut China Selatan. Dengan teknologi canggih yang dimiliki, Amerika berniat untuk menggabungkannya dengan jumlah personel yang besar untuk mencapai kekuatan maksimal.

Akan tetapi, hal itu rupanya tak mempengaruhi pandangan China. Seorang pakar militer laut yang berbasis di Beijing, Li Jie, menyebut bahwa perubahan strategi yang dilakukan militer Amerika adalah bentuk kekhawatiran terhadap peningkatan armada tempur China yang signifikan.

Li, bahkan menganggap bahwa Amerika pada akhirnya akan meminta bantuan kepada negara-negara sekutu regionalnya. Akan tetapi, Li juga berpandangan bahwa hanya Australia yang masih setia dengan Amerika.

Sementara, sejumlah negara Asia semisal Jepang, Korea Selatan, dan 11 negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dianggap Li masih ragu-ragu untuk menyatakan dukungannya. Baik terhadap China, maupun Amerika.

VIVA Militer: Presiden Joko Widodo dan Panglima TNI, Marsekal Hadi Tjahjanto
VIVA Militer: Presiden Joko Widodo dan Panglima TNI, Marsekal Hadi Tjahjanto

"Saat ini, hanya Australia yang mendengaran AS. Sekutu lainnya seperti Jepang, Singapura, Filipina, dan anggota ASEAN (Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara), ragu-ragu tentang apa yang harus dilakukan. Karena, mereka tidak ingin memihak antara Beijing dan Washington," ujar Li dikutip VIVA Militer dari South China Morning Post (SCMP).

Jika melihat pengamatan Li, Indonesia yang memiliki wilayah dekat dengan Laut China Selatan bakal terkena dampak besar jika China dan AS terlibat konforntasi militer. Di sisi lain, jika dalam pengamatan Li sejumlah negara Asia Tenggara memilih bersikap netral, lantas bagaimana dengan posisi Indonesia.

Dalam berita VIVA Militer 4 Juli 2020, terdapat bukti bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki kerjasama di sejumlah sektor termasuk militer dengan Australia.

Yang lebih berbahaya, China tengah memantau aktivitas sejumlah negara yang tergabung dalam Kemitraan Strategis Kompeherensif (CSP), sebuah kemitraan yang dibuat Australia dengan sejumlah negara, dan salah satunya adalah Indonesia.

BACA: Tak Mau Terusir dari Laut China, Taktik Perang Militer Amerika Diubah