Gawat, Jenderal Kopassus Ini Tak Mau Lagi Pakai Baret Merah

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 3 menit

VIVA – Bagi masyarakat sipil, sudah seharusnya kita membanggakan keberadaan satuan elite Komando Pasukan Khusus (Kopassus), yang menjadi garda terdepan penjaga kedaulatan negara. Namun, jangan asal-asalan menggunakan sapaan "Komando" atau seenaknya memakai baret merah kebanggannya.

Baret merah memang sudah jadi ciri kahas dan kebanggan bagi para prajurit Kopassus TNI Angkatan Darat. Meski hanya sebuah baret, para anggota Kopassus sangat menghargainya, karena tidak mudah untuk mendapatkannya. Perlu perjuangan keras agar bisa mendapat baret merah Kopassus.

Tapi siapa sangka, ternyata ada seorang Perwira Tinggi (Pati) TNI Angkatan Darat dari satuan Kopassus yang justru tak mau lagi memakai baret merah. Ya, sosok itu adalah Jenderal TNI (Purn.) Leonardus Benyamin Moerdani, atau yang lebih dikenal dengan sapaan Benny Moerdani.

Mengapa Benny tak mau memakai baret merah kebanggaannya? Padahal, Benny merupakan perwira awal Kopassus yang dahulu masih bernama Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD). Ini kisahnya, yang dikutip VIVA Militer dari buku Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando.

Tepatnya pada 1985, Benny yang saat itu menjabat sebagai Panglima ABRI, memberikan penghargaan kepada Yang di-Pertuan Agong Malaysia, Sultan Iskandar. Penghargaan itu berupa pengangkatan Sultan Iskandar sebagai Warga Kehormatan Kopassus.

Sesaat sebelum acara dimulai, Benny sudah berada di ruang kerja Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus, yang saat itu dijabat oleh Brigjen TNI Sintong Panjaitan (pensiun Letjen TNI).

Sintong yang merupakan orang nomor satu di Kopassus, mengambil baret merah dari laci meja kerjanya dan memberikannya kepada Benny. Benny kemudian sempat menerima dan memakai baret merah kebanggan Kopassus itu.

Akan tetapi, alangkah terkejutnya Sintong saat Benny melempar baret merah itu. Baret itu meluncur kencang di atas meja kerja Sintong, bahkan hingga jatuh ke lantai.

Sesaat kemudian, iring-iringan rombongan Sultan Iskandar pun datang. Benny pun segera memanggil ajudannya untuk meminta baret merah tadi kepada Sintong. Meski sempat kaget, Sintong akhirnya merasa lega saat Benny akhirnya mau memakai baret merah itu.

Selesai acara, Benny pun memanggil Sintong dan menjelaskan mengapa ia tak mau lagi memakai baret merah. Ternyata, ada kekecewaan Benny terhadap Danjen Kopassus ke-4, Mayjen TNI (Purn.) Mung Parahadimulyo.

"Saya sudah berjanji kepada diri sendiri bahwa saya tidak akan memakai baret merah lagi, setelah mereka mengusir saya dari Cijantung. Tiga jam setelah saya menerima perintah keluar dari RPKAD, saya sudah keluar dari Cijantung," ujar Benny kepada Sintong.

Benny kecewa dengan kepemimpinan Mung yang mendukung kebijakan mengeluarkan anggota Kopassus yang cacat. Kebijakan itu jelas membuat anggota Kopassus yang cacat akibat luka dalam pertempuran khawatir. Terutama, Lettu Inf. Agus Hernoto, anak buah Benny di Batalyon 1 Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD).

VIVA Militer pernah mengisahkan sosok Agus Hernoto, dalam berita 29 November 2020 lalu. Agus kehilangan kedua kakinya akibat luka tembak yang membusuk, dalam pertempuran Operasi Dwikora di Irian Barat (sekarang Papua).

Sebagai Komandan Batalyon 1 RPKAD, Benny pernah menghadap Mung dan menyampaikan keresahan anak buahnya dalam sebuah rapat staf. Ternyata, tindakan Benny ini menuai kemarahan Menteri Panglima Angkatan Darat (Menpangad), Letjen TNI Ahmad Yani.

Yani menganggap apa yang dilakukan Benny adalah pelanggaran terhadap Sumpah Prajurit. Perdebatan pun terjadi antara Benny dengan Yani. Hingga akhirnya, Yani pun secara lisan memerintahkan Benny untuk segera keluar dari Kopassus. Sejak saat itu lah, Benny sudah tak mau lagi memakai baret merah kebanggaan Kopassus.