Gawat, Jenderal SBY Jadi Korban Pemukulan

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 3 menit

VIVA – Tak disangsikan lagi bahwa setiap prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) harus melewati pendidikan yang keras dan berat, sebelum resmi bergabung dengan kesatuan. Salah satu pengalaman berharga didapatkan Presiden ke-6 Republik Indonesia, Jenderal TNI (HOR) (Purn.) Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono.

Sebelum terjun ke dunia politik bersama Partai Demokrat, pria yang akrab disapa SBY ini dikenal sebagai sosok seorang prajurit TNI Angkatan Darat (TNI AD). SBY dikenal sebagai prajurit cerdas sejak ia lulus dari Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) pada 1973.

Tak main-main, SBY adalah lulusan terbaik AKABRI, atau yang saat ini dikenal dengan istilah Akademi Militer (Akmil) TNI. SBY resmi memasuki kariernya di TNI sebagai peraih gelar Adhi Makayasa, atau lulusan terbaik di Akademi Militer.

Bukan cuma kemampuannya dalam akademik saja yang menonjol, SBY juga punya kemampuan tempur yang terasah saat diturunkan dalam Operasi Seroja periode 1979-1980 dan 1968 hingga 1988.

Sebagai seorang prajurit TNI, SBY benar-benar memiliki mental dan daya juang yang tinggi. Hal itu lahir karena tempaan yang pernah dirasakannya sejak masih menempuh pendidikan di Akmil, bertugas selama 30 tahun, hingga saat menduduki posisi-posisi penting di kesatuan TNI Angkatan Darat.

Satu hal yang membuat mental SBY sekuat baja tentu saja adalah para seniornya di Akademi Militer, yang kelak menjadi atasannya saat sudah resmi menjadi prajurit TNI. Bukan cuma makian dan omelan, SBY juga merasakan bagaimana kerasnya sikap para Taruna senior di Akmil.

Menurut laporan yang dikutip VIVA Militer dari buku berjudul "SBY Sang Demokrat", pria kelahiran Pacitan, Jawa Timur, 71 tahun silam, pernah menceritakan momen kerasnya sikap para senior terhadapnya.

Saat masih berstatus sebagai Taruna tingkat III Akademi Militer, SBY dan rekan-rekannya yang tengah berada di asrama, mendadak dapat panggilan dari para Taruna tingkat IV. Di suatu malam, para senior menyuruh SBY dan teman-teman seangkatannya, untuk segera berkumpul di Lapangan Damarwulan, Akmil, Magelang, Jawa Tengah.

Setelah itu, SBY dan kawan-kawannya diminta mengarungi Sungai Baben. Sungai Baben sendiri berada di luar Gedung Akademi Militer, dengan kondisi sangat kotor dan bau. Tak bisa membantah, SBY dan kawan-kawannya masuh ke sungai dan melangkah maju.

Belum berhenti sampai di situ. Sesudah selesai menjelajah Sungai Baben, SBY ikut dikumpulkan bersama Taruna tingkat III lainnya di Lapangan Damarwulan. Di sini lah SBY jadi korban pemukulan para seniornya.

SBY bahkan sempat dihujani pertanyaan oleh para Taruna tingkat IV. Pertanyaan demi pertanyaan yang diberikan oleh para senior SBY, ternyata meningkatkan solidaritas dan loyalitasnya kepada kesatuan TNI dan rekan-rekannya.

"Apakah kamu akan mengadu ke Komandan Resimen dan Komandan Batalion? Apakah kamu akan memberi tahu, nama-nama yang memukuli kalian?" ucap SBY menceritakan.

"Siap Mayor Taruna. Saya punya jiwa korps. Saya tidak akan mengadu-adu seperti itu," kata SBY saat menjawab pertanyaan Taruna tingkat IV seniornya.

Kasus pemukulan ini menjadi besar hingga diketahui oleh Perwira Pengasuh Akmil, dan menjadi masalah serius. Gubernur Akmil saat itu, Brigjen TNI Sarwo Edhie Wibowo, marah besar. Sarwo Edhie memberi instruksi langsung larangan pemukulan antar sesama Taruna.

Seluruh Taruna yang terlibat dalam insiden pemukulan itu diinterogasi oleh Perwira Akademi Militer, termasuk SBY. Jiwa Korsa SBY yang semakin terbangun, membuatnya mampu menunjukkan sikap sebagai seorang ksatria dengan tidak menyebutkan nama-nama senior yang memukulinya.