Gawat, Jenis Lain COVID-19 dari Inggris Lebih Menular

Donny Adhiyasa, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 3 menit

VIVA – Varian baru virus corona COVID-19 telah terdeteksi di Inggris dan dinilai lebih mudah menyebar. Hal ini terbukti dengan penyebaran varian lain itu di beberapa negara di luar Inggris.

Tak sedikit pakar yang mengkhawatirkan varian lain dair mutasi virus SARS-CoV-2 ini. Meski belum banyak data terkait virus corona jenis baru ini, peneliti sudah melihat adanya potensi penularan yang begitu cepat dan luas dibanding varian sebelumnya.

Otoritas Eropa bahkan menganggap ini sebagai masalah yang sangat serius. Seperti apa fakta terkait varian lain dari mutasi COVID-19 tersebut? Simak ulasan dan rangkumannya berikut ini.

Lebih menular
Ahli biologi molecular Riza Putranto mengatakan bahwa mutasi virus SARS-CoV-2 yang terjadi sekarang lebih banyak spike yang memendek dari strain sebelumnya (termasuk strain wuhan), sehingga jadi jauh lebih menular. Tapi pada strain baru UK sangat aneh, umumnya virus bermutasi step by step.

"Tapi kali ini rombongan langsung (antigenic shift), kemudian menyebar pada ribuan orang hanya dalam waktu singkat. Otoritas Eropa menganggap kasus ini serius dan langsung menerapkan flight ban dari UK," jelasnya kepada VIVA.

Antigenic shift adalah mekanisme mutasi virus dimana umumnya terjadi akibat perpindahan inang. Saat berpindah di inang yang memiliki virus juga, keduanya bertukar materi genetik menjadi virus baru yang berbeda. Proses ini terjadi di kasus swine flu dan influenza. Hanya antigenic shift yang bisa membuat perubahan sedrastis itu pada virusnya.

Senada, dikutip dari laman BBC, varian ini pertama kali terdeteksi pada bulan September. Pada November, sekitar seperempat kasus di London adalah varian baru. Ini mencapai hampir dua pertiga kasus pada pertengahan Desember.

Angka yang disebutkan oleh Perdana Menteri Boris Johnson adalah bahwa varian tersebut mungkin hingga 70 persen lebih menular. Dia mengatakan ini mungkin meningkatkan angka R - yang menunjukkan jika epidemi tumbuh atau menyusut - sebesar 0,4.

Penyebab mutasi terjadi
Ditambahkan Riza, permasalahannya yang di UK ini belum diidentifikasi apakah ada inang intermedier yang menyebabkan mutasi UIV tersebut. Ada mekanisme lain namanya antigenic drift, kalau ini perubahan sedikit demi sedikit membutuhkan waktu dari spike protein/antigen yang digunakan virus untuk berikatan dengan sel inang.

"Drift ini sudah dilakukan oleh SARS-CoV-2 lewat mutasi bulanannya yang selalu dipantau di GISAID. Hingga hari ini drift ini belum menyebabkan perubahan antigen sehingga menjadi tidak dikenali antibody," tambahnya.

Sementara dari laman BBC, Penjelasan yang paling mungkin adalah varian telah muncul pada pasien dengan sistem kekebalan yang lemah yang tidak mampu mengalahkan virus. Sebaliknya tubuh mereka menjadi tempat berkembang biak bagi virus untuk bermutasi.

Tercatat 17 perubahan
Analisis awal dari varian baru telah diterbitkan dan mengidentifikasi 17 perubahan yang berpotensi penting. Satu mutasi yang disebut N501Y mengubah bagian terpenting dari spike, yang dikenal sebagai "domain pengikat reseptor".

Di sinilah spike melakukan kontak pertama dengan permukaan sel tubuh kita. Setiap perubahan yang mempermudah virus untuk masuk kemungkinan akan memberikan keunggulan.

Seberapa mematikan?
Prof Ravi Gupta di Universitas Cambridge menunjukkan mutasi ini meningkatkan infektivitas dua kali lipat dalam percobaan laboratorium. Studi oleh kelompok yang sama menunjukkan bahwa mutasi tersebut membuat antibodi dari darah para penyintas menjadi kurang efektif dalam menyerang virus.

"Meskipun belum terbukti secara ilmiah menyebabkan keganasan. Virus baru yang menular lebih cepat juga akan merepotkan. Negara-negara Eropa take precautions untuk sementara ban all flights dari UK karena menurut info mereka pagi tadi virus barunya sudah ditemukan di Afrika Selatan. Ada warga UK terbang ke Afrika," jelas Riza.