Kisah Letjen TNI Prabowo Marah-marah di Istana Presiden

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 5 menit

VIVA – Banyak pihak yang menyebut jika sosok seorang Letjen TNI (Purn.) H. Prabowo Subianto seorang yang arogan. Bisa dipastikan bahwa anggapan itu salah besar. Sebab, sejak masih aktif berdinas di Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD), Prabowo justru dikenal sebagai pimpinan yang sangat peduli dengan para anak buahnya.

Dikutip VIVA Militer dari akun Facebook resmi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), dikisahkan bahwa Prabowo pernah murka kepada sejumlah Perwira Menengah (Pamen) TNI Angkatan Darat yang berdinas di Komando Daerah Militer (Kodam) Jayakarta/Jaya.

Ceritanya bermula pada saat meletusnya Peristiwa 27 Juli 1996, atau yang dikenal juga dengan Peristiwa Kudatuli. Situasi Jakarta yang mencekam pasca insiden itu, membuat seluruh anggota satuan elite Komando Pasukan Khusus (Kopassus) disiagakan.

Tak hanya yang bermarkas di Cijantung, Grup-1 Serang, Grup-2 Surakarta (Kandang Menjangan), hingga yang berada di Pusat Pendidikan Kopassus (Pusdikpassus), Batujajar, Bandung, berada dalam status siap.

Penyiagaan pasukan Korps Baret Merah saat itu diinstruksikan langsung oleh Prabowo, yang kala itu juga menjabat sebagai Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Danjen Kopassus).

Dua Satuan Setingkat Kompi (SSK) Kopassus pun dikerahkan untuk menjaga Istana Presiden, dan sejumlah objek vital lainnya. Cerita pun dimulai dan datang dari SSK yang bertugas untuk menjaga Istana Negara.

Para anggota Kopassus yang mendapat tugas, menjalankannya dengan sangat tertib. Tak hanya melakukan patroli, para anggota Kopassus ini juga berolahraga dan melakukan beberapa kegiatan lain untuk menghilangkan kejenuhan.

Ternyata, para prajurit TNI ini justru mendapat perlakukan yang tak layak. Para prajurit mendapatkan jatah makan dari dapur lapangan Kopassus, tidak mendapatkan velbet, hingga Mandi Cuci Kakus (MCK) yang tak terpenuhi. Prabowo yang datang ke Istana Negara akhirnya tahu dari laporan anak buahnya bahwa yang seharusnya bertanggung jawab adalah pihak Kodam Jaya.

Para anggota Kopassus itu geger saat ada seorang petugas Istana Negara yang memberi tahu bahwa Prabowo datang. Mengetahui kedatangan Prabowo, Komandan Pleton (Danton) yang bertugas langsung bergerak cepat memberi tahu anak buahnya. Sial, ternyata ada dua orang anggota Kopassus yang masih tertidur.

Dengan cepat Danton pun melapor kepada Prabowo, meskipun sang Danjen Kopassus itu tak mendengarkan laporan anak buahnya. Perhatian Prabowo tersita saat melihat dua anak buahnya tertidur pulas. Danton segera membangunkannya, namun Prabowo dengan tegas melarangnya.

Tak disangka, Prabowo sempat mengusap kepala dua anak buahnya yang tengah terlelap. Setelah itu, Prabowo pun menanyakan kepada Danton perihal siapa yang bertanggung jawab terhadap SSK yang berjaga di Istana Negara.

Prabowo juga sempat menanyakan kepada Danton mengapa para prajurit dibiarkan tidur di emperan Istana Negara, dan hanya menggunakan matras.

"Biarkan dia tidur, jangan dibangunkan. Siapa yang bertanggung jawab pengerahan Pasukan disini ? dan seluruh unsur Komandanya menghadap saya di sini!" ucap Prabowo.

"Hei perwira, ini kan anggotamu. Mengapa dia tidur di emperan dan menggunakan matras? Kalian tidak diberi velbet dan tenda?" tanya Prabowo.

Mendapat pertanyaan dari orang nomor satu Kopassus, sang Danton pun memberikan jawaban yang membuat Prabowo tercengang. Disebut sang Danton pihak Kodam Jaya melum mengirimkan perlengkapan yang ditanyakan oleh Prabowo tadi.

"Siap, velbet dan tenda belum didukung oleh Kodam Jaya," jawab sang Komandan Pleton.

Mendengar informasi itu, Prabowo kembali bertanya. Prabowo heran mengapa prajuritnya tak diperlakukan dengan baik. Padahal, SSK Kopassus yang bertugas untuk mengamankan Istana Negara adalah Bantuan Kendali Operasi (BKO) Kodam Jaya. Prabowo juga sempat menanyakan soal konsumsi bagi para prajuritnya.

"Bukannya kalian BKO ke Kodam Jaya? Mengapa mereka tidak mendukung? Bagaimana makan kalian?" tanya Prabowo lagi.

Namun lagi-lagi Prabowo terkejut menerima jawaban sang Danton. Seperti yang tertulis tadi, jawaban Danton soal konsumsi para prajuritnya berasal dari dapur lapangan Kopassus.

"Siap, dari dapur lapangan Kopassus," kata Danton.

Setelah mendengar permasalahan yang dihadapi oleh anak buahnya, Prabowo langsung menyuruh Danton untuk memberi tahu perintahnya kepada Asisten Logistik (Aslog), Asisten (Operasi), Kepala Staf Kodam Jaya, dan dokter.

"Kamu kontak Asop, Aslog, Kasdam Jaya, dan dokter. Suruh dia menghadap saya sekarang di sini!" tegas Prabowo.

Usai memberikan perintah, muncul lah dua orang pejabat Kodam Jaya yang memang diminta datang oleh Prabowo. Diketahui ada dua orang Perwira Menengah (Pamen) TNI Angkatan Darat berpangkat Kolonel TNI yang menghadap Prabowo.

Begitu dua orang Kolonel TNI itu tiba, Prabowo langsung memberondongnya dengan pertanyan. Prabowo kecewa dengan perlakuan Kodam Jaya terhadap anak buahnya.

"Kalian kan yang meminta pasukan saya. Mengapa mereka terlantar di Istana? Mereka makan, tidur, dan MCK tidak jelas. Dimana tanggung jawab kalian? Kami tahu, prajurit ini mahal. Berapa uang negara dan rakyat dihabiskan untuk mendidik dan membentuk mereka?" tanya Prabowo.

"Bukankan orang tuanya menitipkan anak mereka ke kita untuk jadi pengawal negara? Mengapa mereka bisa terlantar?" katanya.

Menerima pertanyaan bertubi-tubi, seorang Kolonel pun memberikan jawaban bahwa perlengkapan bagi SSK Kopassus yang menjaga Istana Negara tengah disiapkan.

"Siap, sedang kami siapkan," ujar salah seorang Kolonel TNI yang bertugas di Kodam Jaya.

Akan tetapi, Prabowo tak mendapat jawaban yang sesuai dan malah memarahi kedua orang perwira tersebut. Tak terima dengan jawabannya, Prabowo menyebut bahwa jawaban itu hanya alasan. Kemarahan Prabowo juga bukan tanpa alasan. Sebab, anak buahnya sudah beberapa hari bertugas menjaga Istana Negara.

"Siapkan? Bukannya mereka sudah berhar-hari di sini? Kamu jangan banyak alasan, jangan pernah menyepelekan prajuritmu. Mereka siang malam siaga, patroli, kamu enak-enakan di kantor. Kamu turun ke lapangan, cek pasukan!" tegas Prabowo geram.

"Mana dokter? Kamu cek dua orang prajurit saya yang tidur itu. Badan mereka panas. Sepertinya mereka demam. Kalian jangan sembrono. Cek anggota kalian jangan sampai sakit dan kalian tidak tahu. Saya tidak mau tahu, setelah saya menghadap, tenda sudah berdiri, mobil MCK sudah di sini, dan velbet untuk mereka tidur sudah ada di sini. Terserah bagaimana cara kalian!"

Peristiwa ini jadi bukti nyata bahwa sosok seorang Prabowo adalah pemimpin sejati. Prabowo takkan membiarkan anak buahnya terlantar atau bahkan sampai menderita. Sebagai pemimpin, Prabowo punya jiwa mengayomi dan menyayangi anak buahnya.