Gawat, Rusia Bantu Tentara Nasional Libya Bakal Serang Turki

Rifki Arsilan

VIVA – Tentara Nasional Libya (LNA) pimpinan Khalifa Haftar berencana akan melakukan serangan udara besar-besaran kepada militer Turki dan pasukan Pemerintahan Kesepatakan Nasional (GNA) di Tripoli, Libya dalam waktu dekat ini. Serangan yang akan digencarkan oleh Singa LNA itu mendapatkan dukungan penuh dari sekutu Singa LNA, Rusia. 

Serangan udara besar-besaran yang akan digencarkan oleh pasukan Khalifa Haftar itu merupakan balasan atas penyerangan basis pertahanan Khalifa Haftar, yaitu pangkalan militer Al-Watiyah pekan lalu oleh pasukan GNA yang didukung oleh Turki.

Kepala Angkatan Udara LNA, Saqr Al-Jaroushi menyatakan, pihaknya akan melakukan serangan "kampanye udara terbesar dalam sejarah Libya" dengan menargetkan semua pasukan Turki yang ada di Libya. "(Turki) target yang sah untuk angkatan udara kami," kata Jaroushi dalam sebuah pernyataan resminya dikutip Viva Militer dari Bloomberg, Jum'at, 22 Mei 2020.

Dalam laporan itu mengatakan, para pejabat kepala keamanan Pemerintahan GNA di Tripoli juga sudah mendapatkan informasi bahwa saat ini beberapa jet era Soviet telah tiba di Markas Singa LNA di daerah timur Libya. Jet-jet tempur itu didatangkan dari Pangkalan Rusia di Suriah. 

Sebagaimana telah diberitakan sebelumnya, pasukan Khalifa Haftar pekan lalu telah mengalami kekalahan besar dari pasukan GNA yang didukung oleh militer Turki. Pasukan GNA dan Turki berhasil memukul mundur pasukan Khalifa Haftar dari Pangkalan Militer miliknya, Al-Watiyah. Saat ini, pangkalan militer Al-Watiyah sudah berada dibawah kendali pasukan GNA dan Turki. 

Konflik di Libya antara Singa LNA pimpinan Khalifa Haftar dan pasukan pemerintah kesepakatan nasional (GNA) terjadi pasca tumbangnya rezim pemerintahan Muammar Qadafi tahun 2011 silam. Dua kelompok itu saling mengklaim bahwa mereka adalah pemerintahan yang sah dalam mengendalikan pemerintahan Libya pasca tumbangnya Qadafi. Dan masing-masing kelompok itu mendapatkan dukungan dari negara asing. GNA didukung Turki dan Itali, sementara LNA pimpinan Khalifa Haftar didukung oleh Rusia, UEA, dan Mesir. Diduga kuat masuknya campur tangan negara asing ke Libya itu ditenggarai dengan kepentingan sumber energi yang terdapat di tanah Libya.