Gaya Hidup Minim Sampah Sisa Makanan

·Bacaan 3 menit

VIVA – Jika selama ini mindset kita mengatakan, bahwa sampah anorganik atau sampah yang tidak bisa terurai seperti plastik dan sterofoam itu berbahaya, maka sepertinya harus pula berpikir bahwa tumpukan sampah organik pun bisa menjadi ancaman besar baik pada keselamatan manusia maupun pada kelestarian lingkungan.

Sampah organik yang paling banyak menumpuk di TPA itulah yang memicu munculnya ledakan di TPA. Tentu karena selama ini banyak yang menganggap, bahkan bagi saya sendiri sampah organik ini tidak membahayakan karena mudah terurai. Nyatanya, pernyataan itu tidak sepenuhnya benar.

Sampah organik yang menumpuk di TPA ini akan mengalami proses anaerob, sehingga menghasilkan gas metana apalagi tidak menggunakan sistem pelapisan tanah setiap ketinggian satu meter.

Hal tersebut menyebabkan akumulasi gas metan di bagian bawah. Ketika hujan mengguyur sampah, gas metan akan keluar naik karena berat jenis gas yang lebih ringan dari air sehingga gas metan terjebak dan volumenya semakin meningkat.

Peningkatan volume gas yang bereaksi dengan udara tersebut akan memicu terjadinya ledakan dan dampak buruk pada nyawa manusia. Di Indonesia belum banyak TPA yang memiliki sistem pengelolaan untuk mengolah kembali gas metan sebagai sumber energi sehingga gas metan menjadi zat berbahaya.

Oleh karena itu, perlu kesadaran dari masyarakat untuk mengolah sampah organik dari sumbernya atau dari rumah (domestik). Salah satu sampah organik yang cukup besar adalah sampah sisa makanan.

Satu fakta yang cukup mengejutkan adalah ternyata Indonesia menjadi negara kedua dengan sampah makanan (food waste) terbesar di dunia setelah Arab Saudi. Indonesia diperkirakan menghasilkan sampah sisa makanan sebesar 300 kg per orang per tahun.

Dan dari semua jenis sampah makanan (food waste) domestik tersebut, sampah sayuran menjadi jenis sampah terbesar berkisar 7,3 kg.

Dampak Negatif Food Waste

Sebenarnya dampak negatif sampah makanan (food waste) tersebut sangat luas dan berjangka panjang seperti:

1.Meningkatkan efek gas rumah kaca

Sampah organik yang selama ini didominasi oleh sampah food waste menumpuk di TPA hingga memicu timbulnya gas metana. Jika zat itu lepas ke udara akan menjadi gas yang 21 kali lebih berbahaya bagi lapisan ozon dibanding karbon dioksida yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor dan asap pabrik. Lama-kelamaan lapisan ozon akan menipis. Tahu sendiri kan bagaimana bahayanya jika lapisan ozon menipis?

Dampak negatifnya akan menjadi “multiplier effect” bagi kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Cuaca yang tidak menentu membuat kegagalan panen terjadi. Tentunya akan berpengaruh pada produksi pangan yang sangat dibutuhkan manusia.

Selain cuaca yang tak menentu, kenaikan muka air laut akan cepat terjadi sehingga banyak pulau-pulau kecil yang mulai tenggelam. Begitu juga kehidupan masyarakat di pesisir yang sering mengalami banjir. Kelangkaan air pun terjadi. Kekeringan terjadi di banyak daerah. Selain itu, keanekaragaman hayati akan punah karena tidak mampu menyesuaikan dengan kondisi cuaca yang berubah.

2.Membuang-buang sumber daya air dan menyia-nyiakan tanah

Penggunaan air untuk perkebunan atau pertanian tentu tidak sedikit. Menurut FAO, untuk memproduksi 1,3 milyar ton makanan yang terbuang memerlukan volume air 250 km3 per tahun (setidaknya sama dengan volume air danau toba). Wow, banyak sekali ya!

Sementara untuk memproduksi makanan yang terbuang ini diperlukan 1,4 milyar hektar lahan pertanian (28% lahan pertanian dunia) atau sama dengan 1,5 kali daratan China! Padahal lahan yang luas untuk pertanian ini dimanfaatkan untuk kegiatan produksi lainnya yang lebih bernilai tinggi.

Begitu juga dengan air yang seharusnya bisa digunakan untuk aktivitas lainnya malah terbuang sia-sia. Bayangkan betapa banyak kerugian yang telah kita peroleh akibat pembuangan sampah makanan.

3.Mengancam biodiversitas

Sampah makanan bisa saja mengancam biodiversitas secara tidak langsung. Food loss pada hasil perikanan kelautan bisa menyebabkan kelangkaan karena penangkapan terus terjadi.

4.Boros penggunaan minyak bumi
Saat pengolahan tanah untuk lahan pertanian tentu juga menggunakan bahan bakar minyak bumi baik untuk produksi maupun untuk pengiriman hingga ke konsumen. Pemborosan penggunaan minyak bumi yang tidak dihemat juga akan berdampak pada kelangkaan sumber daya minyak bumi.

5.Meningkatkan pengeluaran
Di negara maju, kerugian yang diakibatkan oleh food waste sebesar USD 680 juta dan di Negara berkembang seperti Indonesia sebesar USD 310 juta (sustaination.id). Belum lagi jika sampah tidak dipilah juga akan memberikan kerugian keuangan.

Seperti penelitian yang dilakukan oleh Joko Priono di kampus UI, kerugian akibat tidak dilakukan pemilahan sampah sebesar Rp 46 juta, sementara jika dilakukan pemilahan dan pengolahan sampah maka keuntungan yang diperoleh sebesar 73,6 juta.

SUMBER ASLI

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel