Gebrakan Rektor Cantik Risa Santoso untuk Dunia Pendidikan Tanah Air

Liputan6.com, Malang - Terpilihnya Risa Santoso sebagai rektor menjadi angin segar bagi civitas akademika Institut Teknologi dan Bisnis ASIA Malang. Betapa tidak, rektor cantik berusia 27 tahun itu tegas mengatakan siap membawa institusi yang dipimpinnya melintang di dunia internasional.

Risa jelas mengatakan, untuk menjadi maju, butuh semangat dan komitmen kuat yang harus diorbitkan dalam bekerja. Apalagi berjuang di dunia pendidikan, katanya, membutuhkan koordinasi kerja sama internal dan eksternal yang kuat.

"Gimana tetap sama-sama maju supaya visi tercapai. Dan, yang terpenting bareng-bareng. Satu penyamaan visi, apa saja yang akan dirancang, tranparansi, dan profesionalisme. Kalau bekerja ya profesional saja," kata rektor cantik ini kepada TIMES Indonesia di ruang kerjanya, Selasa (5/11/2019).

Institut Teknologi dan Bisnis ASIA merupakan fusi atau penggabungan dari Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) ASIA Malang dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) ASIA Malang. Keduanya berada di bawah naungan Yayasan Wahana Edukasi Cendekia.

"Nah, momen ini sangat pas bagaimana menyinergikan dua bidang keilmuan ini," ungkapnya.

Rektor cantik ini termasuk rektor termuda di Indonesia. Ia baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-27 tahun pada 27 Oktober 2019 lalu. Meskipun masih muda, Risa mengatakan akan tetap berkoordinasi baik dan profesional dengan partner kerja, baik senior maupun yang kalangan muda.

 

Baca berita menarik lainnya di Times Indonesia.

 

Mahasiswa Lebih Berinovasi

Risa Santoso, Rektor Institut Teknologi dan Bisnis ASIA Malang. (Times Indonesia/Widya Amalia)

Lahir di Surabaya, Risa menjalani pendidikan S1 dan S2-nya di Amerika Serikat. Dia kuliah di University of California, Berkeley dan meraih Master Education of Harvard University.

Pengalaman selama kuliah di luar negeri, menurut Risa, perlu dicontoh hal positif dan membangun yang cocok diimplementasikan di Indonesia.

"Banyak sih pengalamannya. salah satunya, tugas akhir waktu saya di luar negeri gak ada skripsi. Jadi lebih kepada tugas akhir, final project. Gak saklek dengan skripsi. Jadi bisa diaplikasikan di masyarakat," aku Risa.

Selain itu juga program internship. Mahasiswa di luar negeri lebih diberdayakan di bidang khusus sesuai kompetensi masing-masing individu, termasuk industri.

"Selain itu, teman-teman yang saya tahu, mahasiswanya lebih bisa berinovasi. Gimana caranya kita bisa mendukung mahasiswa di sini lebih berinovasi," tandasnya.

Risa menjadi inisiator Asia Hackton dan program magang di luar negeri. Mahasiswa Institut ASIA saat ini dapat melakukan internship ke perusahaan luar negeri selama satu bulan. Hal ini menjadi terobosan untuk mencetak mahasiswa yang mandiri dan berpandangan luas.

"Saya harap alumni kita nanti dapat menjadi generasi pasti, profesional, aktif, smart, tangguh dan inovatif. Juga, mampu mampu memenangkan persaingan di dunia kerja, bahkan menciptakan lapangan kerja di era industri digital 4.0 ini," harapnya.

 

Simak video pilihan berikut ini: