Geger Insiden Anggota Korps Marinir Berani Bentak Jenderal Kopassus

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Sumpah Prajurit adalah salah satu hal sakral yang wajib dijaga oleh setiap prajurit TNI, sampai titik darah penghabisan. Salah satu poinnya berbunyi, "Tunduk kepada atasan dengan tidak membantah perintah atau putusan." Namun, apa jadinya jika seorang bawahan berani membentak seorang atasannya?

Dikutip VIVA Militer dari catatan Julius Pour dalam buku "Benny Moerdani Profil Prajurit Negarawan", sebuah peristiwa terjadi sekitar akhir tahun 70an.

Sosok yang menjadi sorotan dalam peristiwa itu adalah Wakil Asisten Intelijen Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (Waasintel Kostrad), Mayjen TNI Leonardus Benyamin Moerdani.

Lantas, peristiwa apa yang dialami oleh pria yang akrab disapa Benny dan kelak menjadi Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), atau yang sekarang Panglima TNI?

Pada suatu ketika, Benny mengendarai mobil dinasnya untuk berkunjung ke Markas Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib).

Benny bermaksud untuk menemui Panglima Kopkamtib yang kala itu dijabat oleh Laksamana TNI Sudomo.Usai tiba di Markas Kopkamtib, Benny pun memarkir mobilnya di sebuah tempat dan bergegas masuk.

Siapa sangka, setelah mobilnya terparkir Benny justru didatangi oleh seorang prajurit TNI. Prajurit yang menyambagi Benny diketahui adalah anggota Korps Marinir, yang kala itu masih bernama Korps Komando (KKO) TNI Angkatan Laut.

Pangkat prajurit Korps Marinir itu sudah tentu berada jauh di bawah pangkat Benny yang berbintang dua. Namun demikian, anggota KKO itu dengan berani membentak Benny. Bukan tanpa alasan, anggota Korps Marinir itu memarahi Benny lantaran sang jenderal parkir tidak pada tempatnya.

Di sisi lain, anggota Korps Marinir itu juga berani memarahi Benny lantaran tidak mengenal sosok yang dijuluki "Raja Intel" Indonesia. Benny juga tidak mengenakan pakaian dinasnya, melainkan memakai pakaian biasa.

Di sini lah sosok besar hati Perwira Tinggi (Pati) TNI Angkatan Darat ini terlihat. Dengan tenang Benny kembali masuk ke mobilnya, dan memindahkannya ke tempat parkir yang telah ditentukan.

Sebenarnya, Benny bisa saja balik memarahi prajurit Korps Marinir tersebut. Selain ia juga adalah anggota satuan elite Komando Pasukan Khusus (Kopassus) yang saat itu bernama Komando Pasukan Sandhi Yudha (Kopassandha), Benny juga punya kekuasaan nyaris tak terbatas saat itu.

"Mungkin memang saya salah sendiri kok waktu itu pakai pakaian preman," ucap Benny.

Sosok Benny ternyata memang tidak cukup dikenal, meskipun pangkatnya sudah mencapai Mayor Jenderal (Mayjen) TNI. Kiprahnya sebagai perwira intelijen dengan sejumlah jabatan, membuatnya cukup jadi sosok yang misterius dan tidak terlalu diketahui oleh banyak prajurit TNI.

Sebuah kisah lain diceritakan Pour, seorang Perwira Menengah (Pamen) TNI bahkan sampai harus menanyakan seorang prajurit penjaga perihal sosok Benny. Benny pun mengakui, banyak perwira TNI yang tidak mengenal dirinya.

"Perwira ABRI saja enggak kenal saya," kata Benny.

Sejak menduduki sejumlah posisi penting di bidang intelijen strategis TNI hingga menjadi Panglima ABRI, Benny bahkan melarang para jurnalis memajang fotonya di setiap halaman surat kabar.

Setelah menduduki banyak jabatan intelijen, Benny ditunjuk menjadi Pangkopkamtib pada 29 Maret 1983 menggantikan posisi Laksamana TNI Sudomo. Setelah itu, Benny mencapai puncak kariernya di dunia militer dengan posisi sebagai Panglima ABRI yang didudukinya mulai 21 Maret 1988 hingga 17 Maret 1993.