Geger, Jerome Polin Tanya Nadiem Makarim Pernahkah Cuci Piring?

Lutfi Dwi Puji Astuti
·Bacaan 2 menit

VIVA – Pandemi COVID-19 yang belum juga berakhir hingga sat ini, membuat banyak orang terpaksa lebih banyak melakukan kagiatan dari rumah. Banyak hal yang bisa dilakukan. Bahkan, kreator Youtube di balik saluran Nihongo Mantappu, Jerome Polin sempat membongkar kegiatan apa yang dilakukan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim saat di rumah aja.

Kegiatan Jerome polin mewawancarai Mas Menteri, Nadim Makariem pun jadi tren Google. Mereka melakukan komunikasi lewat Instagram Live. Apa saja yang dibahas.

Di tengah percakapan dengan Nadiem Makarim, ada pertanyaan Jerome Polin yang nyeleneh dan bikin warganet tercengah. Pertanyaan itu adalah, " Selama pandemi ini kita di rumah aja, Mas Menteri cuci piring juga gak," tanya Jerome.

Diakui oleh Jerome, pertanyaan itu memang agak lucu, tapi banyak yang penasaran, apa kira-kifra jawaban Nadiem.

"Enggak, saya gak cuci piring tapi saya ngangkat piring anak saya," katanya blak-blakan. Selengkapnya baca di halaman berikutnya.

Meski menjadi menteri, Nadiem mengaku tak melupakan tugasnya sebagai ayah yang juga memiliki kewajiban mengurus anak-anaknya. "Saya ngasih makan anak saya tapi gak sampai cuci piring," ujarnya lagi.

Nadiem pun menceritakan soal hobinya selama pandemi COVID-19. Ia terang-terangan mengatakan, bahwa sulit untuk menjalani hobinya di tengah kesibukannya sebagai menteri dan ayah. Namun, ia mengaku, di sela-sela kesibukannya jadi menteri, ia pun jadi memiliki hobi mengajarkan anak-anaknya belajar di rumah.

"Jadi hobi saya ya ngajarin anak-anak saya. Kayaknya hobi baca saya juga jadi akselerasi, karena ngurangin netflixnya dikit, jadi dampaknya saya malah belajar," katanya.

Nadiem mengaku, selain mengajari anak dia juga jari rajin membaca buku.. Bahkan dia punya target di tahun ini harus bisa membaca 50 buku. "Targat saya 50 buku tahun ini semoga tercapai," katanya lagi.

Dia pun membocorkan bahwa bukan hal yang mudah menjalani pekerjaan sebagai menteri juga sebagai ayah. Tapi katanya, ada beberapa skil yang haru dimiliki seseorang jika ingin jadi menteri. Selengkapnya baca di halaman berikutnya.

"Mungkin gak semua setuju, yang penting bukan penguasaan terhadap bidang, kalau di level menteri adalah kemampuan manajerial, bisa gak kumpulin orang satu tim, untuk setting target gmna caranya ciptakan budaya. Tim saya harus berani menchallenge saya," ujarnya.

Sebagai orang yang harus bikin keputusan, ia pun mengaku tak suka memiliki bawahan yang hanya nurut apa kata atasan. Hal itu, katanya tak akan berguna. "Kalau kalian cuma bilang iya-iya aja, gak ada gunanya saya, jadi kemampuan manajerial, kemampuan menciptakan budaya keterbukaan, kalau gak punya keberanian, gak siap digeser kapanpun, gak siap diserang publik mendingan gak usah jadi menteri," katanya blak-blakan.

Yang terpenting katanya, menjadi menteri harus punya muka tebal namun tetap memiliki integritas. "Jadi kalau gak punya muka tebal, harus safety nekat dan mungkin di luar itu yang terpenting dari semua inetgritas, kalau gak ada integritas semua nya sama aja bohong," ujar pria yang mengaku tak pernah bercita-cita menjadi menteri dan tak menyangka bisa jadi menteri termuda di Indonesia saat ini.