Geger Kuburan Bansos di Depok

Merdeka.com - Merdeka.com - Video berdurasi 6 menit 47 detik yang memperlihatkan penemuan bantuan sosial (bansos) dikubur di Kota Depok, Jawa Barat membikin geger. Berbagai spekulasi muncul, polisi pun bergerak mengumpulkan sejumlah informasi terkait kasus ini.

Kuburan bansos itu ditemukan di lahan kosong, Jalan Tugu Jaya, Kelurahan Tirta Jaya, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok. Lokasi itu sehari-hari diketahui sebagai area parkir mobil perusahaan ekspedisi PT JNE.

Viralnya temuan ini membuat warga yang penasaran datang ke lokasi. Mereka ramai-ramai ingin melihat langsung bansos yang dikubur.

Beras dari Bulog

Sementara polisi juga bertindak. Mereka memeriksa sejumlah pihak yang mengetahui ihwal penguburan bansos.

Keterangan awal diperoleh polisi, bansos yang dikubur merupakan bagian dari penugasan pemerintah kepada Bulog. Perusahaan pelat merah ini ditugasi untuk menyalurkan bantuan kepada masyarakat terdampak Covid-19 pada tahun 2020.

Bulog kemudian melelang distribusi bansos yang ditugaskan kepada mereka. PT DNR yang menjadi pemenang tender.

Untuk distribusi bansos dari Bulog kepada masyarakat, PT DNR bekerja sama dengan perusahaan jasa ekspedisi PT JNE. Pihak JNE bertanggung jawab atas pengiriman paket beras ke penerima yang namanya sudah ada dalam list sesuai data dari pemerintah.

"Jumlah beras yang dikirim oleh PT JNE dalam kontraknya dengan PT DNR sebagai pemenang vendor dari pemerintah sekitar ratusan ribu ton," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Endra Zulpan di Mapolda Metro Jaya, Senin (1/8).

Beras Rusak karena Hujan

Sesuai instruksi PT DNR, pihak JNE menjemput langsung bansos ke Gudang Bulog di Pulogadung, Jakarta Timur. Pada proses inilah terjadi kerusakan beras.

Perwakilan JNE yang diperiksa polisi, Samsul Jamaludin memaparkan, beras yang diangkut rusak akibat diguyur hujan.

"Pada saat pengambilan beras di Pulogadung ini mengalami di perjalanan akibat cuaca hujan deras sehingga beras dikatakan dalam kondisi rusak," sebut Zulpan.

Pihak JNE bertanggung jawab atas kesalahan yang terjadi. Sebagaimana keterangan Samsul Jamaludin, ada pergantian setara dengan bantuan sosial.

"Menurut keterangan pihak JNE dikarenakan basah akibat kesalahan operasional pihak JNE, maka mereka mengganti dan tidak dibebankan kepada pemerintah, dan atas kejadian ini mereka mengatakan telah melakukan pembayaran ke pemerintah," ujar dia.

Namun, keterangan Samsul kepada polisi belum dilengkapi data-data atau dokumen resmi. "Mereka menganggap beras itu sudah jadi milik PT JNE karena telah mengganti kepada pihak pemerintah. Ini keterangan belum didukung dokumen. Jadi baru keterangan secara lisan tentu akan didalami dari pihak JNE," jelas Zulpan.

Penyelidikan masih Berlanjut

Zulpan mengatakan, penyelidik masih mendalami pengakuan dari Samsul Jamaludin termasuk penerima yang mendapat pergantian beras yang basah tersebut.

"Nah untuk ini pun kita masih perlu pendalaman terkait dokumen dan orang-orang yang siapa yang menerima," katanya.

Rencananya, beberapa pihak terkait, termasuk dari Bulog, Kementerian Sosial, dan PT JNE, akan kembali menjalani pemeriksaan di Polres Metro Depok pada hari ini, Selasa (2/8).

"Mereka janjikan akan membawa data," ujar Zulpan.

Data dan dokumen pendukung dari pihak-pihak yang akan diperiksa diharapkan dapat membuat kasus ini terang-benderang. Publik yang sudah terlanjur geger ingin mendapat informasi yang lengkap dan sebenar-benarnya. [cob]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel