Gejala Kanker Lambung Mirip Sakit Mag, Cek Bedanya

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Gejala kanker lambung rupanya mirip sakit mag (ulkus atau tukak lambung). Seseorang akan merasa nyeri perut dan tidak mood makan. Lalu, apa yang membedakan dengan gejala kanker lambung?

Ketua Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Aru Sudoyo menjelaskan, perbedaan gejala kanker lambung yang mirip sakit mag. Masyarakat pun harus mengetahui agar segera memeroleh penanganan segera.

"Ulkus lambung akan hilang dengan makan, biasanya sakit (nyeri perut) terasa terutama di pagi hari saat baru bangun tidur, namun berat badan tidak turun," jelas Aru saat dialog Gaya Hidup Masa Kini: Waspada Kanker Lambung Mengintai Anda! pada Rabu, 10 Februari 2021.

"Sedangkan pada kanker lambung, kondisi akan semakin parah dengan makan dan berat badan turun banyak. Nafsu makan turun, perut nyeri ulu, tubuh terasa lemas, dan mual muntah dengan dengan atau tanpa darah."

Ketika seseorang merasakan gejala kanker lambung dan sakit mag berkepanjangan, diharapkan melakukan pemeriksaan deteksi dini. Upaya ini melihat diagnosis yang dialami, apakah sakit mag, kanker lambung atau masalah pencernaan lain.

"Jika dirasa terjadi ciri-ciri kanker lambung atau dengan sakit mag yang berkepanjangan, segeralah melakukan deteksi dini,” saran Aru.

Faktor yang Tingkatkan Risiko Kanker Lambung

Ilustrasi Makanan Cepat Saji Credit: pexels.com/Robin
Ilustrasi Makanan Cepat Saji Credit: pexels.com/Robin

Kanker lambung disebabkan oleh adanya sel-sel kanker yang tumbuh di dalam lambung menjadi tumor, dan biasanya tumbuh perlahan selama bertahun-tahun. Kebanyakan diderita oleh pasien berusia 60-80 tahun.

Beberapa hal dapat meningkatkan risiko kanker lambung, menurut Aru, di antaranya bakteri Helicobactor pylori (bakteri yang hidup di dalam lambung), metaplasia usus (sel jaringan atas pencernaan berubah menjadi seperti sel di usus), atrophic gastritis (peradangan lambung) kronis, anemia pernisiosa--tubuh kekurangan vitamin B12, dan polip (tumor) lambung.

Selain itu, kebiasaan merokok, obesitas, makanan yang diproses atau diasinkan, dan genetika.

Faktor-faktor risiko terkena kanker hanya 5-10 persen yang diakibatkan oleh faktor genetika, 90-95 persen disebabkan faktor lingkungan. Ini meliputi diet (30-35 persen), rokok (25-30 persen), infeksi (15-20 persen), obesitas (10-20 persen), alkohol (4-6 persen), dan lain-lain (10-15 persen).

“Dengan demikian, kanker dapat dicegah dengan pola hidup sehat dan melakukan deteksi dini kanker,” ucap Aru.

Infografis Akar Bajakah dari Kalimantan Bisa Sembuhkan Kanker?

Infografis Akar Bajakah dari Kalimantan Bisa Sembuhkan Kanker? (Liputan6.com/Triyasni)
Infografis Akar Bajakah dari Kalimantan Bisa Sembuhkan Kanker? (Liputan6.com/Triyasni)

Simak Video Pilihan Berikut Ini: