Gejala Omicron Subvarian BA.5 Mirip dengan Influenza

Merdeka.com - Merdeka.com - Ketua Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dan RSUP Persahabatan, dr. Prasenohadi, PhD, SpP (K), KIC mengatakan, subvarian BA.5 merupakan jenis baru dari virus penyebab Covid-19 yang saat ini telah menjadi dominan dalam pandemi. Varian ini bisa menginfeksi lebih cepat dan gejalanya mirip dengan Influenza.

Menurutnya, pasien yang terinfeksi BA.5 sering mengalami gejala pernapasan bagian atas mirip dengan gejala Influenza. Pada dasarnya, pemeriksaan minimal antigen bisa menjadi hal yang sangat penting dalam menentukan apakah seorang pasien terkena Influenza biasa atau memang terjangkit Covid-19.

"Tentu akan menjadi problem karena kan keluhannya mirip dengan influenza yang sehari-hari kita hadapi. Kami punya program yang disebut dengan screening pasien dengan dengan gejala influenza yaitu demam, batuk, pilek dan sesak napas. Kalau memang membuat tambah sesak napas yang hebat itu perlu penanganan di rumah sakit," kata Prasenohadi dalam Talkshow ‘Perkembangan Gejala Pada Subvarian BA.5’, Jumat (26/8).

Dia menjelaskan, vaksinasi Covid-19 diperlukan untuk meningkatkan sistem imun dalam tubuh.

“Kalau dilihat dari pengalaman saya di RSUP Persahabatan yang cukup banyak merawat pasien Covid-19, baik varian terdahulu seperti alpha dan delta mirip seperti Influenza. Setelah varian ini, kemudian kita mempunyai program vaksinasi 1 dan 2. Memang betul vaksinasi membuat tubuh menjadi lebih kuat, lebih baik imun kita terhadap virus ini,” ujarnya.

Prasenohadi menambahkan, perbedaan gejala pada pasien terkonfirmasi positif Covid-19 varian omicron BA.5 yaitu dapat menular sangat cepat. Sebelumnya, omicron pertama kali diidentifikasi di Afrika Selatan dalam waktu kurang dari satu bulan menyebar ke seluruh dunia.

Jelas berbeda dengan varian sebelumnya, seperti delta yang membutuhkan waktu hampir satu tahun untuk menyebar di seluruh dunia. Varian ini pertama kali muncul pada awal bulan Januari 2021.

“Varian ini (omicron subvarian BA.5) penularannya lebih cepat datang. Waktu omicron pertama kali di Afrika Selatan ditemukan dalam waktu tidak sampai satu bulan 30 hari sudah menyebar ke seluruh dunia. Berbeda dengan varian delta bulan Januari ditemukan awal 2021 kemudian membutuhkan waktu 11 bulan atau hampir satu tahun dia menyebar ke seluruh dunia,” terangnya.

Secara global, sebanyak 172.042 sekuens SARS-CoV-2 telah dikirimkan ke GISAID terhitung dari 15 Juli hingga 15 Agustus 2022. Di antara sekuens ini, VOC lebih menyoroti varian omicron sebagai varian dominan yang beredar secara global, yaitu 99,3% dari sekuens.

Dalam mengatasi pandemi Covid-19 yang menambahkan subvarian baru yaitu subvarian BA.5, masyarakat perlu melakukan tes seperti Antigen atau PCR agar lebih aware pada gejala Covid-19 terbaru. Tes ini diperlukan untuk mengecek hasil apakah seorang pasen benar terjangkit Covid-19 atau tidak.

Sebelumnya, dilansir dari WHO Weekly Situation Report per tanggal 17 Agustus 2022, sebuah studi terdahulu menunjukkan peningkatan keparahan pada BA.5.

Gejala omicron BA.5 memiliki perbedaan dengan varian Covid-19 sebelumnya seperti varian alpha dan delta, yakni gejala yang dirasakan lebih ringan. Hal ini didasarkan pada bertambahnya tingkat kekebalan tubuh manusia setelah infeksi SARS-CoV-2, vaksinasi, atau kombinasi keduanya.

Reporter Magang: Syifa Annisa Yaniar [fik]