Gejolak Ekonomi Global Pengaruhi Ekspor Industri Manufaktur RI

Merdeka.com - Merdeka.com - Indeks manufaktur Indonesia pada Oktober 2022 berada di level 51,8 atau turun dari 53,7 dibandingkan bulan sebelumnya. Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan kondisi global turut berkontribusi terhadap indeks manufaktur dalam negeri.

"Pasar tujuan ekspor yang mengalami pelemahan ekonomi seperti China, Amerika Serikat, dan Eropa, hal ini berdampak pada penyerapan beberapa produk ekspor unggulan seperti tekstil dan pakaian jadi, alas kaki, dan furnitur," ujar Agus dikutip pada Rabu (2/11).

Selanjutnya, tantangan industri manufaktur juga dibayangi harga input tinggi yang dapat menurunkan daya saing produk. Agus juga mengatakan, selain bahan baku yang semakin mahal, pasokannya juga masih belum lancar.

Dia menuturkan, untuk menjaga optimisme sektor industri, perlunya upaya antisipasi terhadap kondisi ekonomi global yang sedang lesu, salah satunya melalui kemitraan antara industri skala besar dengan industri kecil dan menengah.

"Upaya ini dapat meningkatkan kemandirian rantai pasok di dalam negeri mendukung program substitusi impor serta menjaga agar industri masih bisa tumbuh sehat untuk berproduksi," ucap Agus.

Dia menambahkan, untuk mengurangi harga input, pemerintah juga perlu berkoordinasi dan mengambil kebijakan-kebijakan yang mendukung. Selain itu, demi menjaga demand atau permintaan terhadap produk dalam negeri, Agus menilai pemerintah perlu memberikan dukungan dalam bentuk pemberian insentif maupun stimulus, seperti yang pernah dilakukan pada awal pandemi Covid-19.

"Hal ini perlu dipelajari dan dikaji agar sektor industri tidak mengalami perlambatan," tegas Agus.

Sementara terkait produk ekspor yang mulai terdampak kondisi ekonomi negara tujuan, Agus mengatakan perlu adanya penguatan pasar dalam negeri yang mampu menyerap produk-produk tersebut termasuk dengan cara pengoptimalan belanja pemerintah melalui program peningkatan produk dalam negeri (P3DN).

Namun demikian, Agus tetap optimis terhadap industri manufaktur di tengah bayang-bayang inflasi, industri manufaktur akan tetap menjadi kontributor paling besar dalam menopang kinerja perekonomian nasional.

"Berdasarkan laporan S&P Global, pertumbuhan berkelanjutan di keseluruhan aspek permintaan pada sektor manufaktur Indonesia, mendorong kenaikan produksi manufaktur pada bulan Oktober," sebutnya.

Merujuk data BPS, industri pengolahan mencatatkan nilai ekspor sepanjang Januari-September 2022 sebesar USD156,17 miliar, atau naik 22,23 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sektor industri tetap memberikan kontribusi paling besar, dengan sumbangsihnya hingga 71,2 persen terhadap total nilai ekspor nasional yang sebesar USD219,35 miliar.

S&P Global menyampaikan, sentimen secara keseluruhan pada sektor manufaktur di Indonesia bertahan positif dengan tingkat kepercayaan diri bisnis menguat sejak bulan Maret. Selain itu, industri manufaktur Indonesia secara umum berharap penuh bahwa penjualan akan membaik sejalan dengan kondisi ekonomi yang lebih baik.

Jingyi Pan selaku Economics Associate Director S&P Global Market Intelligence mengemukakan, data PMI manufaktur Indonesia pada bulan Oktober menunjukkan konsistensi terhadap kondisi perbaikan sektor manufaktur Indonesia sejak bulan Januari. "Kondisi permintaan yang lebih baik membantu mendorong kenaikan tajam pada permintaan hamper selama satu tahun," jelasnya.

Di samping itu, perbaikan kondisi permintaan juga mengarah pada kenaikan produksi yang lebih kuat, termasuk ketenagakerjaan dan aktivitas pembelian selama bulan September. " Berita menggembirakan lain terkait data bulan September adalah tekanan inflasi yang terus berkurang. Inflasi biaya input dan harga jual berkurang masing-masing hingga di posisi terendah dalam 20 bulan dan 15 bulan," tandasnya. [azz]