Gelar konferensi, IATMI siapkan rekomendasi kejar target 1 juta barel

Ahmad Buchori
·Bacaan 3 menit

Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) akan menyiapkan rekomendasi dalam mendukung target produksi minyak Indonesia sebesar satu juta barel per hari (bph) dan 12 miliar standar kaki kubik gas per hari (Bcfd) pada 2030.

Untuk merealisasikan target tersebut perlu dobrakan inovasi, optimasi biaya operasi dan pengembangan lapangan, serta persiapan yang matang, mengingat kondisi lapangan-lapangan migas di Indonesia yang mature dan kompleks, kata Ketua IATMI John Hisar Simamora di Jakarta, Selasa.

John Simamora mengatakan kompleksitas tersebut perlu dijawab dengan sumber daya manusia yang kompeten untuk menyiapkan transisi energi dan untuk mencapai ketahanan energi Indonesia.

“Oleh karena itu, IATMI mengadakan acara International Virtual Conference 2021 untuk mendukung pemerintah mewujudkan target produksi satu juta bph minyak dan 12 Bcfd gas, serta mempersiapkan diri untuk transisi energi,” kata John dalam keterangan tertulisnya.

IATMI International Virtual Conference 2021 akan digelar pada 10 April 2021. Ajang yang menjadi pertemuan dari seluruh pelaku industri migas Indonesia yang tersebar di seluruh dunia itu akan mengusung tema “Bending the Production Curve and Transitioning to New Energy Landscape”.

Menurut John, konferensi terbuka bagi siapa saja yang tertarik dengan industri migas, khususnya pemerintah, praktisi industri migas, baik yang bekerja di Indonesia maupun luar negeri serta praktisi akademis.

“Kami berharap dengan datangnya peserta dari berbagai latar belakang, dapat terbentuk diskusi untuk menjawab keingintahuan dari berbagai sudut pandang,” kata John yang juga Direktur Strategic Planning & Business Development, Upstream Subholding PT Pertamina (Persero).

Henricus Herwin, Ketua Pelaksana IATMI International Virtual Conference 2021, mengatakan konferensi terdiri dari empat FGD, yakni pertama membahas tentang kebutuhan energi Indonesia yang terus meningkat dan upaya untuk merealisasikan target produksi migas nasional satu juta bph dan 12 Bcfd gas pada 2030.

FGD kedua akan membahas tentang lapangan migas di Indonesia yang didominasi oleh lapangan-lapangan yang sudah tua dan produksinya menurun secara alamiah.

“Untuk mengoperasikan lapangan secara berkelanjutan dan melakukan pengembangan lapangan untuk meningkatkan produksi diperlukan terobosan-terobosan untuk mengontrol biaya operasi dan biaya pengembangan,” kata Henricus yang juga Vice President Development and Production Technical Excellence & Coordination PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Upstrem Subholding PT Pertamina (Persero).

FGD ketiga akan mendiskusikan tentang tantangan industri migas yang kompleks membutuhkan tenaga manusia yang berkualitas. Perlu metode yang tepat untuk mempersiapkan sumber daya manusia di dunia migas serta untuk mempertahankan dan menarik best talent bekerja di dunia migas. Di sisi lain perlu dipikirkan strategi yang tepat untuk menyerap lulusan universitas-universitas teknik perminyakan di Indonesia yang tinggi.

FGD terakhir membicarakan tentang transisi energi yang sedang berlangsung. Pada sesi ini akan dibahas outlook energy di masa depan, bagaimana perusahaan migas akan berevolusi dan apa yang harus dipersiapkan oleh para pelaku industri migas.

Henricus mengatakan dengan diadakannya konferensi yang berbentuk diskusi aktif, diharapkan dapat terbentuknya pedoman bersama untuk membangun kompetensi penggiat migas di Indonesia, membuka koneksi antar stakeholders di industri migas, serta membantu pemerintah untuk menghadapi tantangan industri ke depannya.

“Hasil diskusi dari event ini akan dijadikan rekomendasi dari IATMI untuk pemerintah dan praktisi dunia migas dalam mendukung target produksi satu juta bph minyak dan 12 Bcfd gas,” kata Henricus.

Baca juga: IATMI dukung pemerintah jaga kelangsungan industri migas saat pandemi

Baca juga: Pandemi COVID-19 akan ubah pola bisnis industri hulu migas

Baca juga: IATMI : Skema bagi hasil migas harus menarik dan fleksibel

Baca juga: Resmi dilantik, IATMI dorong peningkatan kompetensi SDM migas