Gelar Pawai Budaya, Masyarakat Tradisi Yogyakarta Singgung Peran Ganjar Pranowo

Merdeka.com - Merdeka.com - Masyarakat Tradisi Yogyakarta (Matra) menggelar pagelaran budaya dan doa bersama untuk kemajuan dan kemakmuran Bangsa. Dalam doa mereka, terselip juga permohonan agar Indonesia diberi pemimpin yang baik, cinta rakyat, nasionalis, dan membawa kemajuan.

Prosesi budaya serta doa diikuti oleh sekitar 200 orang di kawasan Tugu Pal Putih atau Tugu Yogyakarta, Jalan Jenderal Sudirman, Gowongan, Kecamatan Jetis, Kota Yogyakarta, Minggu (4/9).

Koordinator Acara, Totok Ispurwanto membicarakan sosok Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang tak mungkin dilupakan warga Daerah Istimewa Yogyakarta. Kala itu sebagai anggota DPR RI Komisi II, Ganjar Pranowo berada di garda terdepan dalam mempertahankan Yogyakarta sebagai daerah istimewa.

Ganjar punya andil besar dalam penyusunan hingga pengesahan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 yang menegaskan keistimewaan Yogyakarta sebagai provinsi yang mempunyai kekhususan dalam penyelenggaraan pemerintahan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Kami masyarakat tradisi Yogyakarta pada hari ini mengadakan gelar budaya dan ritual sebagai ungkapan doa meminta keutuhan dan kemakmuran Bangsa ini. Juga sekaligus ucapan terima kasih untuk Mas Ganjar Pranowo, agar beliau selalu mendapatkan kekuatan, semangat di dalam menjalankan tugas-tugasnya sebagai pemimpin di Jawa Tengah," kata Totok usai prosesi doa di lokasi, Minggu (4/9).

Totok menjelaskan, perjuangan mempertahankan keistimewaan Yogyakarta ditempuh melalui dua jalur, yakni jalur diplomasi dan jalur gerakan kerakyatan. Kala itu, Ganjar memperjuangkan keistimewaan Yogyakarta melalui jalur diplomasi dalam kapasitasnya sebagai wakil rakyat.

"Tanpa mengurangi peran dari komponen masyarakat lain, yang kami saksikan, yang nyata di lapangan, Bapak Ganjar ini secara konsisten, secara berani, langsung memberikan kontribusi yang sangat besar," ucapnya.

Masyarakat Yogyakarta, kata Totok, tidak akan lupa akan jasa Gubernur Jateng dua periode tersebut. "Ucapan terima kasih ini tidak terlepas dari peran beliau Mas Ganjar 10 tahun yang lalu di dalam pengesahan UU Nomor 13 Tahun 2012 terkait keistimewaan Yogyakarta," tuturnya.

Menurut Totok, acara ini dikemas dalam bentuk pagelaran budaya yang melibatkan sedulur-sedulur abdi dalem dan Empat Bergada (Seni keprajuritan yang berasal dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat) dengan jumlah total 200 orang.

Mereka mengenakan pakaian adat keprajuritan dan pakaian adat setempat dari empat arah dan berkumpul di Tugu Pal Putih untuk melakukan ritual doa.

Totok menambahkan, kirab budaya dan doa ini juga sekaligus memperingati Satu Dasawarsa Keistimewaan Yogyakarta.

Pengakuan peran Ganjar dalam lahirnya UU Keistimewaan Yogyakarta itu disampaikan juga oleh Ketua Lembaga Kebudayaan Jawa Sekar Pangawikan, Yogyakarta, Bambang Nursinggih.

Menurut Bambang, perjuangan kerakyatan dilakukan oleh pihaknya bersama-sama elemen masyarakat. Sementara diplomasi dilakukan Ganjar. "Ucapan terima kasih kepada Mas Ganjar yang ikut berperan dalam lahirnya UU Keistimewaan Yogyakarta," ucapnya.

Bambang menambahkan, dalam doa itu dipanjatkan juga agar masyarakat Yogyakarta mampu hidup damai dan sejahtera. "Dengan bahasa jawa berdoa kepada Allah SWT supaya masyarakat Yogyakarta tentram dan tidak berpengaruh oleh provokasi-provakasi dari luar," imbuhnya. [bal]