Gelar Rights Issue, Ini Daftar Terbaru Pemegang Saham Bank Jago

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Menarik investor baru, PT Bank Jago Tbk (ARTO) melakukan penawaran terbatas dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue. Hal ini membuat komposisi kepemilikan saham akhirnya mengalami perubahan.

Melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), emiten berkode ARTO tersebut mengumumkan adanya GIC Private Limited sebagai pemegang saham 9,12 persen.

"PT Metamorfosis Ekosistem Indonesia 29,81%, Wealth Track Technology Limited 11,69 persen, PT Dompet Karya Anak Bangsa 21,40 persen. Lalu GIC Private Limited 9,12 persen dan publik 27,99 persen,” tulis Sekretaris Perusahaan sekaligus Direktur Kepatuhan Bank Jago Tjit Siat Fun, ditulis Sabtu (27/3/2021).

Berlaku sejak 24 Maret 2021, kepemilikan saham yang disebutkan memiliki bagian di atas 5 persen. Dalam laporan tersebut, ARTO juga menyebutkan pemegang saham sebelumnya.

Sebelum right issue, PT Metamorfosis Ekosistem Indonesia memegang 37,65 persen, Wealth Track Technology Limited 13,35 persen, PT Dompet Karya Anak Bangsa sebanyak 22,16 persen dan publik memiliki 26,84 persen.

Selain Bank Jago, sejumlah bank siap beroperasi penuh sebagai bank digital, antara lain PT BCA Tbk memiliki Bank Digital BCA yang akan diluncurkan semester pertama 2021.

Lalu ada PT BRI Agroniaga Tbk (AGRO) akan dikembangkan menjadi bank digital. Selain itu, dikabarkan PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB), PT Bank Harda Internasional Tbk (BBHI), PT Bank Net Indonesia Syariah Tbk (BANK), dan PT Bank Bumi Artha Tbk (BNBA) juga dalam proses menjadi bank digital.

Gelar Rights Issue

Layar pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (18/11/2019). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada zona merah pada perdagangan saham awal pekan ini IHSG ditutup melemah 5,72 poin atau 0,09 persen ke posisi 6.122,62. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Layar pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (18/11/2019). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada zona merah pada perdagangan saham awal pekan ini IHSG ditutup melemah 5,72 poin atau 0,09 persen ke posisi 6.122,62. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, PT Bank Jago Tbk (ARTO) akan memiliki pemegang saham baru yaitu GIC Private Limited (GIC), lembaga pengelola dana abadi milik Pemerintah Singapura.

GIC masuk menjadi pemegang saham ARTO melalui mekanisme rights issue atau penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD).

GIC akan menyerap 1,19 miliar HMETD dengan nilai USD 225 juta atau setara Rp 3,15 triliun (asumsi kurs Rp 14.000 per dolar AS).

Jika GIC menyerap saham tersebut maka akan menggenggam 9,67 persen saham ARTO.GIC akan menerima pengalihan HMETD dari PT Metamorfosis Ekosistem Indonesia yang dimiliki bankir Jerry Ng dan PT Dompet Karya Anak Bangsa (DKAB). GIC menerima pengalihan HMETD masing-masing 1,086 miliar dari MEI dan PT Dompet Karya Anak Bangsa sebanyak 104,80 juta.

PT Bank Jago Tbk akan menawaran saham sebanyak-banyaknya 3 miliar saham baru dengan nilai nominal Rp 100. Harga pelaksanaan rights issue sebanyak Rp 2.350 per saham.

Dari pelaksanaan rights issue, perseroan akan mendapatkan dana Rp 7,05 triliun.Saat rights issue, setiap pemilik 579 saham lama perseroan akan memperoleh 160 HMETD. Hal ini terutama pemegang saham yang masuk dalam daftar pemegang saham pada 8 Maret 2021.

Demikian mengutip prospektus yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat, 26 Februari 2021.MEI sebagai pemegang saham utama perseroan yang genggam 37,65 persen memiliki 1,12 miliar HMETD. MEI hanya akan mengeksekusi 42,60 juta HMETD yang dimilikinya atau senilai Rp 100,11 miliar.

Sementara itu, PT Dompet Karya Anak Bangsa (DKAB) yang pegang 22,16 persen saham ARTO memiliki hak 664,80 juta saham baru. PT Dompet Karya Anak Bangsa hanya melaksanakan 560 juta HMETD yang dimilikinya dengan nilai Rp 1,31 triliun.

Sementara itu, Wealth Track Technology Limited (WTT) yang memiliki 22,16 persen saham memiliki hak 400,50 juta saham baru. WTT akan mengeksekusi 170 juta HMETD yang dimilikinya dengan jumlah Rp 399,50 miliar.

Adapun pemegang saham lama yang tidak melaksanakan haknya untuk membeli saham baru yang ditawarkan dalam rights issue ini akan mengalami penurunan persentase kepemilikan saham atau dilusi maksimum sebesar 21,65 persen.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini