Gelar Ritual di Hutan, Pemangku Adat Baduy Doa Pandemi Segera Berakhir

Raden Jihad Akbar
·Bacaan 3 menit

VIVA – Masyarakat Baduy yang tinggal di Pegunungan Kendeng dengan luas 5.100 hektare tersebar di 65 perkampungan dan dihuni sekitar 11.600 jiwa di pedalaman Lebak, Banten, merasa terpanggil untuk bersama-sama berdoa agar wabah pandemi COVID-19 segera berakhir.

Apalagi, meski dinyatakan tidak ada kasus penularan, Pandemi COVID-19 membuat sekitar 2.000 pelaku ekonomi di kawasan Baduy terancam gulung tikar. Termasuk, penjual aneka kerajinan di kawasan Baduy yang omzet nya menurun drastis karena tidak adanya wisatawan.

Baca juga: Pengendara Moge Terjaring Razia COVID-19: Kita Warga Negara Biasa

Pemuka adat Baduy pun berkumpul untuk berdoa agar penyebaran wabah pandemi COVID-19 hilang di atas bumi itu. Mereka di berkumpul di Hutan Cibongkok Kawasan Baduy sambil memanjatkan doa-doa khusus untuk keselamatan, kesejahteraan, keamanan dan kedamaian bangsa.

Acara itu dihadiri pemuka adat Baduy seperti jaro tanggungan 12, sebagian paranormal, dangka siradayeuh, dangka carungeun dan dangka singkalayeuh dengan doa khusyuk agar terkabulkan.

"Kami berharap ritual doa yang dilaksanakan lembaga adat itu bisa terkabulkan agar bangsa itu terbebas dari wabah pandemi COVID-19," kata Tetua adat Baduy yang juga Kepala Desa Kanekes Kabupaten Lebak Jaro Saija, dikutip Minggu 14 Februari 2021.

Masyarakat Baduy Dalam yang tersebar di Kampung Cibeo, Cikeusik dan Cikawartana mulai 13 Februari hingga 14 Mei 2021 juga menutup diri dari wisatawan. Karena tengah melaksanakan Ritual Kawalu selama tiga bulan.

Selama ritual Kawalu, mereka fokus pada ketenangan dan ketentraman sehingga wisatawan tidak diizinkan berkunjung. Selain itu, warga Baduy Dalam juga dilarang menggelar perkawinan, sunatan anak yang bisa menimbulkan keramaian.

Sepanjang periode ritual itu, doa dipanjatkan diiringi puasa agar bangsa Indonesia diberikan keselamatan, kedamaian, kesejahteraan dan keamanan serta dijauhkan dari marabahaya. Termasuk dibebaskan dari penyebaran COVID-19.

"Kami minta wisatawan dapat menghargai keputusan adat yang melarang kawasan Baduy Dalam itu dikunjungi orang luar," kata tokoh Baduy Dalam Cibeo Ayah Mursid.

Penutupan kawasan Baduy Dalam itu berdasarkan keputusan adat Nomor 141.01/13-Ds.Kan-200I/2021, tertanggal 13 Februari 2021 yang ditandatangani Kepala Desa Kanekes. Pemerintahan desa telah memasang peringatan di pintu gerbang Baduy di Ciboleger agar wisatawan menaati hukum adat.

Tradisi Kawalu warisan nenek moyang sejak turun temurun dan wajib dilaksanakan setiap tahun dan tiga kali selama tiga bulan dengan puasa seharian.

Perayaan Kawalu merupakan salah satu tradisi ritual yang dipercaya oleh warga Baduy Dalam. Dalam perayaan Kawalu itu, masyarakat Baduy mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Hingga kini penyebaran COVID-19 di kalangan Baduy belum ditemukan alias nol kasus. Sejak, pemerintah menetapkan wabah corona sebagai bencana nasional pada 13 April 2020.

Mereka warga Baduy lebih ketat dalam menerapkan protokol kesehatan dengan 5 M guna mencegah penularan COVID-19. Lembaga adat setempat mengimbau masyarakat tidak ke luar daerah, terlebih dari daerah zona merah penyebaran COVID-19.

"Sampai saat ini warga Baduy masih nol kasus COVID-19," kata Petugas Medis Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Cisimeut, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak Iton Rustandi.

Selama ini aktivitas masyarakat Baduy lebih banyak di rumah dan ladang untuk mengembangkan pertanian. Begitu juga warga Baduy yang merantau diminta untuk pulang dan sebelum masuk pemukiman adat terlebih dahulu menjalani pengecekan kesehatan di Puskesmas setempat.

Puskesmas setempat terus berupaya mengendalikan pandemi COVID-19 dengan membagikan ribuan masker di permukiman warga dan melakukan penyemprotan disinfektan. Selain itu, juga menyiapkan wastafel di sepanjang jalan memasuki pemukiman Baduy.

"Kami juga mengoptimalkan edukasi tentang bahaya COVID-19 agar mereka mengetahui penyebaran penyakit yang mematikan itu," katanya. (Ant)