Gelar RUPSLB, Bentoel Internasional Investama Raih Restu Delisting dari BEI

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta - Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Bentoel Internasional Investama Tbk (RMBA) pada Selasa (28/9/2021) menyetujui rencana perseroan untuk keluar dari Bursa Efek Indonesia (BEI) secara sukarela atau delisting.

Berdasarkan laporan informasi fakta material yang rilis di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), 20 Agustus 2021, British American Tobacco (BAT) selalu pengendali Bentoel akan membeli sisa saham publik di level Rp 1.000 per saham.

Harga itu lebih mahal 226,8 persen dibandingkan harga penutupan terakhir saham RMBA sebelum disuspensi pada 5 Agustus 2021 yaitu Rp 306 per saham. Nominal itu juga 356,21 persen lebih tinggi dari harga rata-rata tertinggi perdagangan harian di BEI dalam jangka waktu 90 hari terakhir sebelum pengumuman rencana go private pada 20 Agustus 2021.

Bentoel Internasional Investama optimistis upaya ini dapat menjadi angin segar bagi perusahaan dan para pemegang saham publik sehingga proses ini segera dapat diselesaikan mengingat jumlah saham yang dimiliki oleh pemegang saham publik saat ini relatif kecil.

Jumlah itu kurang lebih 7,52 persen dari modal ditempatkan perseroan, dengan 7,29 persen dimiliki oleh satu pihak sehingga hanya 0,23 persen yang dimiliki pemegang saham publik lainnya. Jumlah pemegang saham publik saat ini kurang lebih 2.385 pemegang saham.

Berkomitmen Tetap Investasi di Indonesia

Ilustrasi logo BAT Indonesia (Dok: Bat Indonesia)
Ilustrasi logo BAT Indonesia (Dok: Bat Indonesia)

BAT akan menanggung semua biaya yang relevan dengan penawaran tender sukarela, termasuk komisi transaksi melalui BEI dan biaya yang dibayarkan kepada Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), tetapi tidak termasuk pajak terkait yang harus ditanggung oleh pemegang saham yang menjual sahamnya.

"Tanpa tender offer, maka tentu tidak mudah bagi pemegang saham minoritas untuk menjual sahamnya di BEI karena saham RMBA relatif tidak likuid,” tulis perseroan dikutip dari keterangan tertulis, Selasa (28/9/2021).

Oleh karena itu, Perusahaan percaya go private plan adalah demi kepentingan terbaik pemegang saham, karena penawaran tender ini memberi pemegang saham publik kesempatan untuk menjual saham mereka dengan harga premium.

Meskipun melakukan delisting, BAT selaku pengendali Bentoel Group tetap berkomitmen untuk memiliki bisnis jangka panjang dan terus berinvestasi di Indonesia.

Alasan Go Private

Ilustrasi logo BAT Indonesia (Dok: BAT Indonesia)
Ilustrasi logo BAT Indonesia (Dok: BAT Indonesia)

Sebelumnya, PT Bentoel Internasional Investama Tbk (RMBA) akan mengubah status perusahaan menjadi go private dan melakukan penghapusan pencatatan (delisting) saham perseroan.

PT Bentoel Internasional Investama Tbk pun akan meminta persetujuan pemegang saham untuk melaksanakan go private dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Perseroan akan gelar RUPSLB pada 28 September 2021.

Dalam keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat, 20 Agustus 2021, perseroan menyampaikan sejumlah alasan untuk go private. Perseroan menyatakan jumlah saham yang dimiliki oleh pemegang saham publik saat ini relatif kecil yaitu kurang lebih 7,52 persen dari modal ditempatkan perseroan.

“7,29 persen dimiliki oleh satu pihak, sehingga hanya 0,23 persen yang dimiliki pemegang saham publik lainnya, dengan jumlah pemegang saham public saat ini kurang lebih 2.385 pemegang saham,” tulis perseroan.

Saham perseroan itu tidak secara aktif diperdagangkan dan relatif tidak likuid. Oleh karena itu, perseroan mengajukan rencana go private dengan sejumlah alasan ini:

-Setelah rights issue pada 2016, perseroan tidak melakukan penggalangan dana (capital raising) dari pasar modal dan tidak ada rencana untuk melakukannya di masa depan.

-Kinerja keuangan perseroan merugi yang berpengaruh pada kinerja harga saham.

-Perseroan tidak memberikan dividen kepada pemegang sahamnya setelah tahun buku 2010 karena posisi saldo laba yang negatif.

-Saham perseroan tidak aktif diperdagangkan di BEI.

-Sejalan dengan saham yang tidak aktif diperdagangkan di BEI, karena relatif tidak likuidnya perdagangan saham perseroan, tidak mudah bagi pemegang saham untuk melakukan transaksi atas saham mereka melalui BEI.

"Dengan rencana go private, pemegang saham akan memiliki kesempatan untuk menjual kepemilikan saham mereka dengan harga premium terhadap harga pasar,” tulis perseroan.

Harga Penawaran

Karyawan berjalan di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (22/1/2021). Indeks acuan bursa nasional tersebut turun 96 poin atau 1,5 persen ke 6.317,864. (Liputan6.com/Johan Tallo)
Karyawan berjalan di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (22/1/2021). Indeks acuan bursa nasional tersebut turun 96 poin atau 1,5 persen ke 6.317,864. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Bagi pemegang saham publik yang melaksanakan hak untuk menjual saham miliknya dalam penawaran tender akan mendapatkan harga penawaran yang menarik untuk sahamnya.

Perseroan menawarkan harga Rp 1.000 per saham. Perseroan menilai harga penawaran yang secara signifikan lebih menarik dibandingkan harga penawaran yang disyaratkan dalam POJK Nomor 3/2021 dan Peraturan BEI Nomor I-I.

Harga penawaran Rp 1.000 per saham dalam penawaran tender itu 356,21 persen lebih tinggi dari harga rata-rata dari harga tertinggi perdagangan harian di BEI dalam jangka waktu 90 hari terakhir sebelum pengumuman rencana go private pada 20 Agustus 2021 yaitu Rp 281 per saham.

Selain itu, 571,43 persen lebih tinggi dari hasil penilaian harga atas saham berdasarkan penilaian penilai independen yaitu Rp 175 per saham.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel