Gelar Upacara di Istana, Presiden Sementara Bolivia Bentuk Kabinet Baru

Liputan6.com, Sucre - Senator Bolivia Jeanine Añez yang menyatakan dirinya sebagai presiden sementara setelah lengsernya Evo Morales, membentuk kabinet baru untuk bekerja dengannya.

Anez, pada Rabu 14 November mengadakan upacara di istana kepresidenan di ibu kota, La Paz, di mana para pemimpin baru militer juga dipilih. Demikian dikutip dari VOA Indonesia, Jumat (15/11/2019).

"Kepresidenan sementara ini akan mengembangkan penghormatan mutlak terhadap tatanan konstitusi. Kami akan berupaya membangun peluang dan meninggalkan stigma dan perpecahan lama," ujar Anez dalam kata sambutannya.

Anez, mengambil peran sebagai presiden sementara, Selasa 12 November ketika Morales melarikan diri ke Meksiko setelah 14 tahun pemerintahan sosialisnya berakhir dengan protes keras.

Bentrokan baru mengguncang ibu kota Bolivia itu pada Rabu 13 November sementara klaim Añez untuk menduduki kursi kepresidenan menghadapi tantangan dari para pendukung Morales.

Protes di Bolivia bermula setelah Morales menyatakan dirinya sebagai pemenang dalam pemilihan bulan lalu meskipun hasil parsial memperkirakan ia akan menghadapi putaran kedua pada bulan Desember melawan mantan Presiden Carlos Mesa, saingan utamanya.

Presiden Sementara

Orang-orang mengibarkan bendera Bolivia merayakan pengunduran diri Presiden Evo Morales di La Paz, Minggu (10/11/2019). Morales memutuskan mengundurkan diri buntut aksi protes yang dilatarbelakangi dugaan dirinya melakukan kecurangan dalam pemilu dalam beberapa pekan terakhir. (JORGE BERNAL/AFP)

Senator oposisi Jeanine Áñez menyatakan dirinya sebagai presiden sementara bagi Bolivia setelah presiden sebelumnya, Evo Morales mengundurkan diri. 

Anggota parlemen dari partai Morales memboikot pernyataan tersebut, ditandai dengan tak terpenuhinya syarat kuorum atau jumlah minimum anggota yang hadir dalam rapat penentuan.

Mengutip dari BBC, Rabu 13 November 2019, Jeanine Áñez mengatakan bahwa ia berada di urutan berikutnya di bawah konstitusi dan berjanji untuk segera mengadakan pemilihan.

Evo Morales mengutuk pernyataan Jeanine Áñez, menggambarkan wanita itu sebagai "anggota parlemen haluan kanan yang berkudeta."

Jeanine Áñez mengambil kendali sementara pada Selasa 12 November, dan menempatkan dirinya di urutan berikutnya dalam pemilihan presiden.

Mantan wakil pemimpin parlemen tersebut mengambil posisi setelah serangkaian pengunduran diri oleh presiden sebelumnya.

Sementara anggota parlemen dari Movement for Socialism, partai sosialis di Bolivia dari pihak Morales tidak hadir di sesi legislatif, Jeanine Áñez tetap menyatakan dirinya sebagai pemimpin sementara.

Dalam akun Twitternya, Morales menyatakan bahwa keputusan tersebut merupakan kudeta yang paling licik dan jahat sepanjang sejarah.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: