Geliat penyedia transportasi kawasan wisata Kudus di tengah pandemi

Risbiani Fardaniah
·Bacaan 5 menit

Pandemi penyakit Virus Corona baru (COVID-19) sangat berdampak terhadap penyedia jasa transportasi yang melayani wisatawan menuju sejumlah objek wisata di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Di antaranya, penyedia jasa transportasi berupa ojek motor, becak, hingga angkutan kota yang khusus melayani wisatawan di kawasan wisata Sunan Muria maupun Sunan Kudus karena sejak adanya wabah Corona kedua tempat wisata tersebut terpaksa ditutup sementara.

Meskipun beberapa bulan terpukul karena tidak memiliki pemasukan sama sekali, kini mereka secara bertahap mulai mendapatkan pemasukan.

"Alhamdulillah setelah Lebaran Idul Fitri pemerintah kabupaten mulai mengizinkan kawasan wisata membuka kunjungan wisatawan dengan akses terbatas untuk masyarakat lokal Kudus," salah satu penyedia jasa ojek wisata Sunan Muria Kudus Abdullah di Kudus, Selasa.

Karena wisatawan yang diperbolehkan berkunjung hanya wisatawan lokal, maka jumlahnya juga terbatas dan untuk bisa masuk ke kawasan wisata juga ada screening mulai dari wajib mencuci tangan pakai sabun, memakai masker, dan cek suhu tubuh.

Untuk itu, kata dia, ada penjadwalan untuk penyedia jasa ojek agar semua anggota ojek Muria Colo mendapatkan kesempatan yang sama.

Baca juga: Pengelola objek wisata di Kudus disiplin terapkan protokol kesehatan

Dampaknya, lanjut dia, belum bisa mendapatkan pemasukan setiap hari karena operasinya satu hari masuk dan satu hari libur.

Minimnya jumlah wisatawan juga berdampak pada pemasukan Abdullah karena setiap hari hanya bisa mengantarkan peziarah antara tiga hingga empat orang dengan biaya jasa antar Rp15.000 untuk sekali jalan.

Beberapa bulan terakhir, lanjut dia, wisatawan dari berbagai daerah di Tanah Air mulai diizinkan masuk ke Kudus setelah sebelumnya wajib membawa surat hasil tes (rapid test) COVID-19, kini agak dilonggarkan meskipun penerapan protokol kesehatan masih tetap diterapkan.

Kondisi tersebut juga berdampak pada pemasukan karena bisa kembali beroperasi setiap hari tanpa libur seperti sebelumnya yang sehari masuk sehari libur.

Hal serupa juga dialami penyedia jasa transportasi di kawasan Makam Sunan Kudus yang melayani wisatawan berziarah ke Makam Sunan Kudus dari Terminal Bakalan Krapyak. Mulai dari ojek sepeda motor, becak, angkutan perkotaan hingga andong.

Banyaknya moda transportasi, maka dibuatkan jadwal operasi untuk masing-masing penyedia jasa transportasi.

Hartono, penyedia jasa ojek Makam Sunan Kudus mengakui masa pandemi seperti sekarang memang belum normal, namun disyukuri karena sudah bisa beroperasi setelah tiga bulan lebih terpaksa menganggur.

Karena masa pandemi, dia mengaku hanya bisa menjadi pekerja serabutan agar keluarganya tetap bisa makan setiap harinya.

Sementara untuk saat ini pemasukan pria paruh baya itu juga belum banyak karena setiap hari hanya bisa melayani antara dua hingga empat kali mengantar peziarah dengan ongkos sekali antar Rp15.000.

"Karena penyedia jasa ojek juga banyak, maka operasinya juga dijadwal agar semua mendapat kesempatan mendapatkan penumpang," ujarnya.

Demikian halnya untuk angkutan kota yang melayani wisatawan juga dijadwal sehari masuk dan sehari libur.

Baca juga: Ada 15 desa di Kudus bakal ditetapkan sebagai desa wisata


Tabungan jadi andalan

Selama tidak bekerja karena masa pandemi yang berlangsung sejak Maret hingga Mei 2020 sejumlah penyedia jasa transportasi memiliki cara tersendiri untuk bisa bertahan di masa pandemi karena untuk beralih profesi juga tidak mudah mengingat sektor usaha lain juga ikut terdampak.

"Karena peluang usaha di sektor lain juga minim, sama-sama terdampak COVID-19, akhirnya menganggur sambil menunggu wisata Sunan Muria kembali dibuka," ujar penyedia jasa ojek di Makam Sunan Muria Abdullah.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya, bapak dua anak itu terpaksa memanfaatkan semua tabungannya agar tetap bisa makan.

Rasa khawatir memang sempat menghantui ketika pandemi berlangsung lama, sedangkan tabungannya sangat terbatas.

"Bantuan dari pemerintah juga tidak banyak karena hanya bantuan sembako yang diterima pada awal-awal masa pandemi, sedangkan dalam bentuk uang belum pernah mendapatkan," ujarnya.

Untuk itu dia harus pandai-pandai mengatur biaya pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya agar cukup hingga bisa kembali bekerja menjadi penyedia jasa ojek.

Ia mengakui untuk bisa bangkit kembali di masa pandemi memang dibutuhkan kesabaran agar kesehatan tetap terjaga dan bisa kembali bekerja seperti sekarang.

Baca juga: Dua objek wisata di Kudus bakal dibuka secara terbatas

"Alhamdulillah, kini bisa produktif lagi menghasilkan pemasukan untuk keluarga meskipun belum 100 persen normal seperti sebelum masa pandemi COVID-19," ujarnya.

Berapapun hasilnya, dia mengakui, tetap bersyukur karena masih bisa mendapatkan pemasukan dan keluarganya juga tidak kelaparan.

Hamid, penyedia jasa ojek lainnya memiliki cara lain untuk bertahan selama pandemi dengan banting setir berjualan kambing untuk sementara waktu sambil menunggu wisata Makam Sunan Muria dibuka kembali.

"Hasilnya memang tidak besar karena hampir semua sektor usaha terdampak pandemi COVID-19. Tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari," ujarnya.

Bersyukur saat ini sudah bisa kembali menarik ojek untuk mengantarkan peziarah ke Makam Sunan Muria, meskipun pemasukannya belum normal seperti sebelum ada COVID-19.

Hingga saat ini, ia belum tertarik beralih profesi karena masih memiliki rasa optimistis bahwa pandemi COVID-19 akan berakhir sehingga pemasukan dari jasa ojek juga akan normal kembali.

Deni, sopir angkutan wisata Sunan Kudus memiliki cara lain agar tetap mendapatkan pemasukan selama objek wisata ditutup dengan banting stir menjadi pengemudi ojek daring (dalam jaringan).

Meskipun pemasukannya tidak menentu, dia mengaku masih bersyukur bisa tetap bekerja sehingga setiap harinya masih bisa mendapatkan pemasukan.

"Selama masa pandemi, saya memang tidak menyerah dengan keadaan karena masih ada kesempatan kerja di bidang lain agar bisa mendapatkan pemasukan buat keluarga," ujar Deni.

Teman sopir angkutan lainnya, kata dia, ada yang beralih profesi menjadi petani karena kebetulan memang memiliki areal persawahan.

Mulyono penarik becak wisata Sunan Kudus mengakui selama penutupan objek wisata Sunan Kudus ia tetap beroperasi, namun mencari penumpangnya di jalanan umum sehingga dalam sehari hanya mendapatkan satu atau dua penumpang, bahkan beberapa kali tidak mendapatkan penumpang.

Pemasukannya sebelum masa pandemi, kata dia, lumayan besar karena dengan mengantarkan wisatawan berziarah ke Makam Sunan Kudus hingga delapan kali dalam sehari bisa mencapai Rp120 ribuan, sedangkan saat ini kondisinya berangsur pulih meskipun belum 100 persen.

Baca juga: Pemkab Kudus izinkan objek wisata dibuka lagi, ini syaratnya