Geliat Sektor Jasa Keuangan pada Momen Lebaran 2021

·Bacaan 2 menit

VIVA – Tak bisa dipungkiri bahwa momen lebaran menjadi waktu yang dinanti oleh masyarakat Indonesia untuk membelanjakan uang yang mereka miliki, dengan berbagai cara yang lumrah dialkukan selama ini.

Belanja untuk kebutuhan konsumsi rumahtangga terkait makanan, pakaian, furniture, perhiasan, serta barang-barang sekunder lainnya. Pengeluaran rumah tangga lain yang lazim dilakukan untuk berbagi kepada teman, sanak-saudara, relasi dan lain-lain dengan berbagai cara pula, yaitu: pengiriman parcel, pemberian angpao, transfer uang, bahkan transfer pulsa juga menjadi tren pada saat ini.

Masih terkait dengan larangan mudik, transfer diperkirakan menjadi salah satu alat yang banyak digunakan masyarakat pada lebaran tahun ini, dengan mempertimbangkan efektivitas dan efisiensi. Hal ini akan berakibat langsung pada sektor jasa keuangan terutama perbankan.

Namun demikian perputaran uang melalui transfer tidak sebesar uang yang dibelanjakan masyarakat secara langsung, terutama di kota-kota besar. Mengutip dari Kompas yang tayang pada 10 Mei 2021, ekonom Bhima Yudhistira menilai bahwa larangan mudik membuat konsentrasi perputaran uang hanya berada di Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang, dan Bekasi (Jabodetabek) dan kota-kota besar lainnya, jadi ada ketimpangan konsumsi antara kota besar dengan daerah.

Hal ini juga turut memberikan dampak pada penurunan gairah belanja di daerah khususnya di sektor yang biasa menikmati tradisi mudik seperti pusat oleh-oleh, restoran, pariwisata, jasa akomodasi dan banyak lainnya.

Sementara itu bersumber dari Kontan, Kepala Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia (BI) Marlison Hakim mengungkapkan, jumlah uang tunai layak edar yang disiapkan oleh bank sentral pada Ramadhan dan lebaran 2020 sebesar Rp 157,96 triliun, jumlah tersebut turun 17,7% bila dibandingkan dengan posisi uang tunai layak edar lebaran dan Ramadhan tahun 2019, sebesar Rp 192 triliun.

Sedangkan pada lebaran Tahun 2021 ini diperkirakan BI menyiapkan uang tuai layak edar pada kisaran Rp 140 sampai dengan Rp 160 trilliun, menurut Bhima Yudhistira. Lantas bagaimanakah pergerakan sektor jasa keuangan terkait momen lebaran jika dilihat dari kacamata Badan Pusat Statistik (BPS)?

Seperti kita ketahui bersama, bahwa BPS secara rutin menghitung produk domestik bruto yang salah satu tujuannya adalah untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi, baik per-sektor maupun secara keseluruhan.

Berdasarkan data hasil penghitungan yang telah dirilis, sektor jasa perantara keuangan pada Tahun 2020 mengalami pertumbuhan sebesar 3,98 persen, angka ini jauh di bawah kondisi tahun 2019 dengan laju pertumbuhan sebesar 9,42 persen, dan lagi-lagi hal ini terkait pandemi covid-19 serta larangan mudik pada tahun 2020 yang lalu, terbukti dengan pertumbuhan pada sektor ini pada triwulan dua mengalami perlambatan sebesar -15,93 persen.

Pada triwulan satu tahun 2021, laju pertumbuhan jasa perantara keuangan masih mengalami kontraksi perlambatan sebesar -3,76 persen. Dan dengan kondisi lebaran yang masih berkutat pada masalah pandemi covid-19 dan larangan mudik diperkirakan sektor jasa perantara keuangan pada triwulan dua tahun 2021 ini, akan mengalami pertumbuhan positif, meskipun tidak terlalu tinggi.