Geliat sineas Jambi di masa pandemi

Suryanto
·Bacaan 5 menit

Karya film, animasi, dan video merupakan bagian dari sektor ekonomi kreatif yang tengah mendapat perhatian besar dari pemerintah karena diyakini membawa andil dalam pemulihan ekonomi di tangah pandemi, lantas seperti apa perkembangan subsektor ini di Jambi.

Dalam upaya mendorong pelaku ekonomi kreatif tetap berinovasi meski di tengah pandemi COVID-19, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi pun terus mencari terobosan baru, sebagaimana diungkapkan Kabid Pengembangan Ekonomi Kreatif, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi, Jefry AD.

Jefry mengatakan, konsep film "Go to School" mungkin bisa menjadi solusi. Para sineas bisa datang ke sekolah dan menayangkan film karya mereka, menjual tiket sebagai pengganti biaya produksi. Hal ini juga sempat dibahas saat audiensi dengan Menteri Ekonomi Kreatif dan Pariwisata Sandiaga Uno beberapa waktu lalu terkait solusi industri perfilman yang terdampak pandemi.

Permasalahan dunia perfilman Jambi bukan saja terjadi di masa pandemi, karena secara umum pemasaran film lokal masih harus terus ditingkatkan, setidaknya mampu menguasai pasar daerah ini.

Baca juga: Asri Welas yakin perfilman Indonesia mulai bangkit

Menurut dia, Disbudpar Jambi juga sudah menyarankan agar sineas lokal mengadopsi cara bagaimana pelaku sineas dari Yogyakarta memasarkan karyanya selama pandemi. Kehadiran bioskop rakyat bisa menjadi solusi jika ingin memasarkan karya di tengah adaptasi kebiasaan baru ini.

“Metodenya bisa live streaming, insan perfilman memang harus jemput bola sebab komunitas dituntut untuk lebih efektif dan kreatif di masa seperti ini,” ujarnya.

Stimulus-stimulus yang diberikan untuk menggairahkan sektor ini sudah berjalan dari beberapa tahun belakangan. Diakui oleh Jefry, beberapa tahun lalu Disbudpar Provinsi Jambi sudah merekomendasikan bantuan dana bergulir kepada komunitas film Jambi yakni Forum Film Jambi (FFJ) berupa alat teknis perfilman senilai sekitar Rp400 juta.

Pihaknya juga telah memberikan penghargaan kepada FFJ karena sudah menciptakan inovasi melalui pemberdayaan anggota forum untuk mandiri mengembangkan dunia perfilman di Jambi.

Bukan sekadar stimulus dan bantuan saja, kolaborasi juga menjadi bagian terpenting agar dapat tercipta hasil karya maksimal. Untuk mendukung insan perfilman Jambi, pemerintah daerah juga menggandeng FFJ untuk berkolaborasi bersama dalam festival film yang akan diadakan pada akhir tahun 2021.

Baca juga: Sineas Indonesia optimistis industri perfilman membaik di 2021

Sementara itu, rencana terdekat, perayaan Hari Film Nasional mendatang juga dijadikan momentum bagi pemerintah untuk mengapresiasi para insan perfilman di Jambi dalam acara yang rencananya digelar pada 30 Maret 2021 di Taman Budaya Jambi.

Harapan dinas terkait terhadap perfilman Jambi yang cukup besar perlu dibarengi dengan upaya jemput bola misal melalui penggelaran audisi casting untuk mencari bibit-bibit baru insan film, juga kegiatan edukuasi perfilman. Ini semua bertujuan agar perfilman Jambi bisa berkembang cepat dan menguasai pasar Provinsi Jambi.

Dengan sudah menguasai dan digemari oleh pasar lokal Jambi, tentu ke depannya juga akan dilirik juga di provinsi lain. "Berbicara nasional akan mudah dimasuki yang penting kuasai Jambi terlebih dulu,” paparnya.

Lantas bagaimana aktivitas insan perfilman di Jambi selama pandemi?

Melalui FFJ, kita bisa melihat karya-karya sineas muda Jambi yang meraka akui sebagai bukti bahwa mereka tak surut walau dihantam pandemi. Ketua FFJ, Anton Oktavianto, mengatakan bahwa situasi pandemi ternyata tidak menyurutkan para sineas Jambi untuk berkarya meskipun tetap ada batasan-batasan yang harus dipatuhi dalam proses produksi. Mereka masih tetap berproduksi selama pandemi.

Baca juga: Perfilman Indonesia butuh lebih banyak literasi untuk mendunia

"Saya pikir stabil, produksi teman-teman juga jalan selama pandemi ini,” ujar Anton.

Apa yang diungkapkan Anton cukup masuk akal karena selama masa pandemi beragam stimulus dihadirkan Kemenparekraf, di antaranya pada November 2020 FFJ terpilih menjadi komunitas perfilman di Jambi dalam FESTIFF (Fasilitasi Ide Sinema Kreatif).

Bahkan ada pula dari Asosiasi Dokumenter Nusantara yang kemudian menggandeng 10 dokumentaris asal Jambi untuk memproduksi karya. Beberapa karya film yang tergarap selama pandemi melalui FFJ yakni "Janji Senja Pada Bayangan", "Maak", dan "Betandang".

Berbicara soal dukungan pemerintah daerah, menurut Anton, sudah cukup banyak tinggal atmosfir dan pergerakan atau aktivitas pelaku perfilman itu sendiri yang harus dikuatkan agar ke depannya bisa mandiri dalam berkarya.

Untuk Jambi memang pergerakan seni selalu butuh dorongan. Ia merasa bukan belum tergara,p hanya saja masih butuh koneksi yang baik dengan pemerintah.

FFJ sendiri ke depan akan berkolaborasi dengan pemerintah Jambi untuk festival film yang rencananya akan diadakan pada akhir tahun. Sebagai kegiatan tahunan, festival film itu akan dikemas dalam beragam agenda, seperti perlombaan film, diskusi, sarasehan serta pernak-pernik lain yang menyemarakkan festival dengan tetap memperhatikan aturan berkegiatan di tengah pandemi.

Baca juga: Babak baru perlawanan industri film Indonesia terhadap pembajakan

Sekolah perfilman

Sebagai pelaku kreatif, FFJ fokus dalam bidang sosial edukasi, sehingga tidak menutup kemungkinan ke depan dapat menghadirkan sekolah film Jambi.

"Itu cita-cita kami pegiat seni bisa ada Jambi film academy. Ini masih tahap kita perlu kaji kualitas di Jambi, minat generasi muda terutama lulusan SMK untuk sektor perfilmannya, bisa hadir dengan diploma 1 dan 2 sudah baik itu,” ujarnya.

Pemerintah memang harus lebih memperhatikan sektor perfilman dan videografi di Jambi. Anton meyakini industri perfilman dan videografi termasuk bidang yang potensial sebab akan banyak pekerjaan masa depan hadir pada bidang ini.

Kabid Pengembangan Ekonomi Kreatif, Disbudpar Provinsi Jambi, Jefry AD menambahkan bahwa rencana ini bisa saja terealisasi dengan baik bila semua proses perencanaan dilakukan dengan matang.

"Namun harus ada yang diperhatikan terkait kurikulum, SDM tenaga pengajar,” ujarnya.

Jika memang rencana ini dapat terealisasi, pihaknya menyarankan untuk menghadirkan program diploma 1 atau pun diploma 2 . Ia pun berharap agar dalam peringatan Hari Film nanti dapat menjadi kesempatan bagi insan perfilman untuk menjelaskan wacananya.

“Saya pikir Disbudpar siap mendampingi dan fasilitasi, kita punya taman budaya dan ruang kreatif lain seperti Museum Siginjei dan Gentala Arasy,” tutup Jefry.

Baca juga: Menko Airlangga: Gencarkan kampanye menonton di bioskop dengan aman

Baca juga: Peringatan Hari Film sekaligus peringatan 100 tahun Usmar Ismail

Baca juga: Bisakah bioskop diganti dengan layanan streaming digital?