Gelombang Kedua COVID-19 Lebih Mematikan, Mitos atau Fakta?

Diza Liane Sahputri, Diza Liane Sahputri

VIVA – Era New Normal atau tatanan kehidupan baru bakal diterapkan oleh berbagai negara yang terjangkit virus corona jenis baru atau COVID-19. Banyak pakar beranggapan bahwa di masa tersebut, gelombang kedua dari penyakit menular itu bakal terjadi dan lebih mematikan. Benarkah?

 

Gelombang kedua diprediksi bakal terjadi saat masyarakat mulai beraktivitas seperti sedia kala. Di masa ini, ada kemungkinan banyak kelompok usia reproduktif yang mulai kembali bekerja dan tak menerapkan peraturan New Normal.

Anggapan bahwa usia reproduktif cukup kebal dari penularan virus dan mencegah kematian di kelompok tersebut, dapat memicu sikap acuh. Hal itu terbukti pada saat pandemi Flu Spanyol di tahun 1917 silam.

"Kalau dari sejarah, tahun 1917 kematian paling tinggi di gelombang kedua. Yang meninggal usia reproduktif. Ada potensi ini (Gelombang kedua lebih berbahaya) menjadi fakta," ujar dokter spesialis penyakit dalam, dr Robert Shinto SpPD-KPTI, di acara Hidup Sehat, tvOne, Rabu 3 Juni 2020.

Sikap acuh untuk menjalankan perilaku hidup bersih dan sehat, bisa menjadi kemungkinan paling utama yang memicu keparahan serangan gelombang kedua. Kemungkinan lainnya, mereka yang pernah terjangkit lalu sembuh dari COVID-19, bisa merasa lebih kebal.

Hal itu juga yang mengakibatkan sikap acuh untuk berperilaku hidup bersih dapat dilakukan, bahkan tak segan berada dalam kerumunan. Padahal, bisa saja tingkat keparahan lebih berat pada kasus infeksi kembali.

"Kekebalan tidak bertahan lama dan bisa terinfeksi ulang. Kita tidak tahu infeksi ini akan lebih berat atau tidak saat terinfeksi ulang. Jika ya, mungkin saja angka kematian lebih tinggi," tuturnya.