Gelombang Panas di Kanada, Warga Banjiri Pusat Pendingin

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Ottawa - Warga di Kota Vancouver, British Columbia, Kanada dilaporkan membanjiri 25 pusat pendingin, di tengah gelombang panas di negara itu, yang sejauh ini menewaskan ratusan orang.

Jumlah korban tewas akibat gelombang panas di provinsi British Columbia telah meningkat menjadi ratusan jiwa.

"Kita pernah mengalami gelombang panas sebelumnya, tapi tidak sampai sejauh ini," kata Lou, yang merupakan salah satu warga, seperti dikutip dari AFP, Kamis (1/7/2021).

"Saya terkejut dengan banyaknya kematian yang terjadi," ungkapnya.

"Saya tidak memiliki AC, hanya kipas angin di rumah -- saya datang ke sini hanya untuk bekerja di tempat yang sejuk," terang Lou.

British Columbia yang merupakan provinsi paling barat di Kanada, dilanda gelombang panas selama beberapa hari.

Suhu di wilayah tersebut pun telah mencetak rekor, yakni mencapai 49,5 derajat Celsius, tercatat di kota Lytton yang berjarak 3 jam perjalanan di sebelah timur laut Vancouver pada Selasa (29/6) waktu setempat.

Gelombang panas ini telah memakan banyak korban jiwa. Keterangan dari kepolisian setempat menyatakan bahwa jumlahnya meningkat 'setiap jamnya'.

Adapun peringatan dari pakar meteorologi yang mengatakan bahwa suhu udara yang lebih ekstrem masih mungkin terjadi.

British Columbia Melihat Ratusan Kematian Akibat Gelombang Panas dalam 5 Hari

Seorang pria berjalan melewati air mancur di Yonge-Dundas Square di Toronto, Kanada (23/8/2020). Departemen Lingkungan dan Perubahan Iklim Kanada mengeluarkan peringatan cuaca panas untuk Toronto dengan suhu yang diperkirakan akan melonjak dengan suhu terendah mencapai 30-an. (Xinhua/Zou Zheng)
Seorang pria berjalan melewati air mancur di Yonge-Dundas Square di Toronto, Kanada (23/8/2020). Departemen Lingkungan dan Perubahan Iklim Kanada mengeluarkan peringatan cuaca panas untuk Toronto dengan suhu yang diperkirakan akan melonjak dengan suhu terendah mencapai 30-an. (Xinhua/Zou Zheng)

Laporan dari dinas koroner British Columbia mengatakan sedikitnya ada 486 'kematian mendadak' antara 25 Juni hingga Rabu (30/6) waktu setempat.

Angka itu juga jauh lebih tinggi jika dibandingkan angka normal yang mencapai 165 kematian setiap gelombang panas terjadi di British Columbia.

"Meskipun terlalu dini untuk mengatakan dengan pasti soal berapa banyak dari kematian ini yang terkait gelombang panas, diyakini bahwa peningkatan signifikan dalam kematian yang dilaporkan disebabkan oleh cuaca ekstrem yang melanda British Columbia dan terus mempengaruhi banyak wilayah provinsi kita," demikian pernyataan dinas koroner British Columbia.

Pakar meteorologi mengungkapkan, bahwa cuaca ekstrem disebabkan oleh kubah panas ekstrem di atas wilayah Pasifik barat laut, yang sebenarnya merupakan fenomena musim panas biasa namun tidak pernah terjadi dengan suhu sepanas ini dan waktu seawal ini.

"Peristiwa khusus ini benar-benar konsisten dengan ilmu perubahan iklim: gelombang panas yang lebih intensif, durasi yang lebih lama, panas yang lebih ekstrem, di awal musim," kata pakar meteorologi dari Otoritas Lingkungan Kanada, Terri Lang, kepada AFP.

"Orang-orang di komunitas meteorologi -- prakirawan cuaca dan klimatolog -- semuanya menahan napas melihat jumlahnya. Begitu mengkhawatirkan," jelasnya.

Infografis Ayo Jangan Ragu, Vaksin COVID-19 Dipastikan Aman

Infografis Ayo Jangan Ragu, Vaksin COVID-19 Dipastikan Aman. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis Ayo Jangan Ragu, Vaksin COVID-19 Dipastikan Aman. (Liputan6.com/Abdillah)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel