WHO: Gelombang virus harus dilawan tanpa vaksin

·Bacaan 2 menit

Jenewa (AFP) - Direktur kedaruratan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Rabu memperingatkan bahwa vaksin tidak akan tiba pada waktunya untuk menaklukkan gelombang kedua pandemi COVID-19.

Michael Ryan mengatakan vaksin tidak boleh dianggap sebagai solusi ajaib "unicorn" - dan negara-negara yang sedang berjuang melawan kemunculan kembali virus sekali lagi harus "melakukan tugas ini" tanpa mereka (vaksin).

"Saya rasa setidaknya empat hingga enam bulan sebelum kami memiliki tingkat vaksinasi yang signifikan di mana pun," katanya, saat sesi tanya jawab publik secara langsung di media sosial.

Meski baru-baru ini terdapat pengumuman yang menjanjikan dari uji klinis fase akhir calon vaksin, "Kami belum sampai di sana dengan vaksin," kata Ryan.

"Banyak negara yang sedang melalui gelombang ini, dan mereka akan melalui gelombang ini, dan terus melalui gelombang ini, tanpa vaksin.

"Kita perlu memahami serta menginternalisasi, dan menyadari: Kali ini kita harus melaluinya, tanpa vaksin."

Pfizer pada Rabu mengatakan bahwa studi komprehensif dari vaksin eksperimental buatannya menunjukkan 95 persen ampuh, sedangkan produsen Moderna pekan ini menyebutkan bahwa calon vaksin produksinya ampuh 94,5 persen. Sementara itu, Rusia mengklaim bahwa calon vaksin mereka lebih dari 90 persen ampuh.

Ryan memperingatkan agar tidak mengurangi kewaspadaan individu terhadap virus, dengan keyakinan yang keliru bahwa vaksin saat ini akan menyelesaikan masalah.

"Sejumlah orang berpikir bahwa vaksin akan, dalam arti tertentu, menjadi solusinya: unicorn yang kita semua kejar. Bukan," kata pria asal Irlandia tersebut.

"Jika kita menambahkan vaksin dan melupakan hal-hal lain, COVID tidak akan menjadi nihil."

Jumlah kasus baru COVID-19 di Eropa pekan lalu turun untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga bulan, namun kematian di kawasan itu terus meningkat, menurut data WHO, Rabu.

Sedikitnya 55,6 juta kasus di seluruh dunia dilaporkan sejak wabah COVID-19 muncul di China pada Desember lalu. Virus corona juga merenggut lebih dari 1,3 juta korban jiwa secara global, menurut hitungan resmi yang dihimpun oleh AFP.

Ryan menyampaikan keprihatinan tentang bagaimana pandemi telah membuat banyak cucu berduka, yang tidak dapat melalui proses pemakaman akibat pembatasan COVID-19.

"Banyak anak-anak di sini yang kehilangan kakek-neneknya," ucap Ryan.

"Terdapat sedikit trauma di luar sana di antara anak-anak.

"Proses berduka bagi anak-anak, sulit, sebab anda tidak menjalani semua hal yang biasanya: situasi pemakaman, anda tidak boleh mengucapkan selamat tinggal, anda tidak bertemu, sehingga terhalangi.

"Saya prihatin jika kebutuhan anak untuk berduka karena kehilangan seorang kakek terhalangi, karena hal itu membekas seumur hidup."