Gelora: Indonesia harus pertahankan netralitas konflik Rusia-Ukraina

Ketua Umum Partai Gelora Anis Matta menilai Indonesia harus mempertahankan netralitas terkait konflik Rusia-Ukraina, bahkan perlu ambil langkah mediasi terhadap kedua negara tersebut.

"Indonesia harus pertahankan netralitasnya, ini bukan perang kita. Langkah Pemerintah mengundang Presiden Ukraina ke G20 itu menunjukkan langkah mediasi," kata Anis, di Jakarta, Minggu.

Dia mengatakan netralitas tersebut harus dipertahankan, karena dikhawatirkan perang Rusia-Ukraina akan berlangsung lama dan semakin besar.

Anis mencontohkan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengajukan tambahan untuk bantuan bagi Ukraina sebesar 33 miliar dolar AS.

"Parlemen Jerman memutuskan bantuan militer yang besar bagi Ukraina, begitu juga dengan Inggris. Itu semua memiliki makna bahwa Ukraina telah menjadi zona operasi NATO yang besar, artinya perang makin panjang," ujarnya.

Anis mengatakan posisi Indonesia yang netral pasti membuat AS dan sekutunya yang ada di G20 tidak senang. Karena itu, menurut dia, kalau sebelumnya AS, Inggris, dan Kanada walk out di rangkaian pertemuan G20 di Washington, AS, maka sangat mungkin mereka tidak akan hadir dalam pertemuan G20 pada November 2022 di Bali

"Kalau banyak anggota yang tidak hadir, maka Indonesia perlu pertimbangkan, jangan sampai acara G20 tidak jadi. Hal itu karena melihat eskalasi konflik semakin besar," katanya pula.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menjelaskan alasan mengundang Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 adalah demi pemulihan ekonomi dunia.

"Kita paham bahwa G20 memiliki peran sebagai katalisator dalam pemulihan ekonomi dunia dan kalau kita bicara mengenai pemulihan ekonomi dunia, maka terdapat dua hal besar yang mempengaruhi saat ini yaitu yang pertama pandemi COVID-19 dan yang kedua perang di Ukraina," kata Presiden Jokowi, di Istana Kepresidenan Bogor sebagaimana termuat dalam video yang ditayangkan di kanal Youtube Sekretariat Presiden pada Jumat (29/4).

Rencananya, KTT G20 yang akan dihadiri para kepala negara dan pemerintahan anggota G20 akan berlangsung pada 30-31 Oktober 2022.

"Dalam konteks inilah, maka dalam pembicaraan telepon kemarin, saya mengundang Presiden Zelenskyy untuk hadir dalam KTT G20," kata Presiden.

Presiden Jokowi menyebut undangan itu ia sampaikan melalui percakapan via telepon dengan Presiden Zelenskyy pada Rabu, 27 April 2022 pukul 15.00 WIB.
Baca juga: Akademisi: Upaya diplomasi Jokowi terkait Ukraina patut diapresiasi
Baca juga: PM Jepang: Serangan militer ke Ukraina tidak dapat diterima

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel