Gelora Magnumentary: Saparua, Sejarah Scene Rock Metal di Indonesia

Lutfi Dwi Puji Astuti
·Bacaan 4 menit

VIVA – Bandung selalu mendapatkan tempat spesial di dunia musik Indonesia. Banyak musisi rock dan metal berkelas nasional dan internasional yang dilahirkan melalui pergerakan komunitas kota Bandung.

Salah satunya, Saparua menjadi salah satu tempat ikonik yang menjadi saksi sejarah pergerakan musik tersebut sejak tahun 1970-an hingga akhir 1990-an. Sejarah tersebutlah yang hendak diceritakan di dokumenter yang akan tayang tahun 2021 ini.

Digarap oleh Rich Music yang menjadi penggagas proyek rangkaian program Distorsi Keras dan menjadi eksekutif produser dari film ini. Film “Gelora Magnumentary: Saparua” akan disutradarai oleh Alvin Yunata, gitaris dari Teenage Death Star yang juga merupakan seorang penggiat musik dengan pengalaman di bidang jurnalistik dan aktivisme konservasi musik.

Para pelaku sejarah pergerakan musik Bandung seperti Sam Bimbo, Arian13 (Vokalis Seringai), Dadan Ketu (Manager Burgerkill/Riotic Records), Eben (Gitaris Burgerkill), Suar (Mantan Vokalis Pure Saturday), dan banyak lagi lainnya dilibatkan sebagai narasumber.

“Film ini adalah sebuah jurnal dari sebuah gedung yang kemudian sejak berdirinya dengan sengaja dialihfungsikan juga sebagai sarana panggung seni dan hiburan dari generasi ke generasi," kata Alvin Yunata sebagai Sutradara dalam Virtual Press Conference Distorsi Keras, Selasa, 30 Maret 2021.

Namun lanjutnya, ada fenomena menarik di dekade terakhir sebelum gedung ini dinonaktifkan, yaitu lahirnya sebuah generasi yang menjunjung tinggi kolektivitas di mana mereka bisa mengubah gedung ini bukan lagi menjadi sekadar gedung pertunjukan seni namun lebih dari itu. Bagaikan sebuah titik melting pot yang melahirkan ideologi baru di kalangan budaya pop, ruang pertukaran informasi dan sebuah pergerakan yang mampu membawa gedung ini sebagai salah satu kuil rock n roll dalam sejarah scene musik underground di Indonesia.

Film Dokumenter Gelora Magnumentary: Saparua ini dihadirkan untuk mengapresiasi sejarah scene rock-metal di Indonesia. Program ini didasarkan pada proyek Membakar Batas yang diprakarsai oleh Cerahati sejak tahun 2011. Tujuan dari proyek ini adalah untuk menangkap semua tonggak besar dalam sejarah rock dan metal scene.

“Proyek ini inisiatif dari pihak Cerahati, Arian13 dan Roni Pramaditia. Kami sama2 berasal dari Bandung, dan turut merasakan pertumbuhan budaya di Bandung era 90an saat gerakan independen mulai membesar di Bandung. Dan kami menyadari ternyata selama ini belum banyak dokumentasi dari momen sejarah tersebut.” ucap Edy Khemod selaku Creative Director.

Ia menyadari pentingnya dokumenter untuk memberikan semangat ke generasi berikutnya. “Dokumenter ini penting karena ada motivasi yang berbeda yang generasi ke depan perlu tahu. Bahwa pergerakan musik independen saat itu memulai tidak atas dasar ekonomi tapi passion atas musiknya. Hal ini penting agar generasi ke depan tidak melulu berorientasi ada kesuksesan ekonomi.” tambahnya

Film dokumenter ini menunjukkan bahwa komunitas musik di Bandung tidak hanya sekadar berkumpul, tapi juga saling rangkul. Bahkan dengan keterbatasan, mereka bisa bersatu menjadi sebuah komunal yang solid dan aktif berkreasi untuk menaklukkan segala pandangan negatif masyarakat umum di masa lalu. Segala tantangan dan hambatan dilewati bersama-sama untuk kemudian membesar menjadi sebuah industri musik yang kita kenal sekarang. Kepedulian yang sudah lama sejak ada ini lah yang berusaha dibangkitkan kembali melalui inspirasi kejayaan sebelumnya.

Kehadiran film ini diharapkan dapat memancing semangat untuk para pecinta musik terutama rock dan metal. Karena kisah kejayaan Saparua juga awalnya berasal dari mereka yang berhasil melawan ketidakpedulian dan mengobarkan gelora untuk menunjukkan siapa mereka sebenarnya. Sehingga kedepannya akan tercipta lagi bibit-bibit baru yang meneruskan api perjuangan pendahulunya dan bersama sama menjadikan skena rock dan metal menjadi lebih besar

Proyek film dokumenter ini akan menjadi awal mula dari tujuan jangka panjang. Selagi Gelora Magnumentary: Saparua ini diluncurkan, banyak sekali program lain yang dikerjakan untuk memperlihatkan semangat berkarya dari pergerakan musik rock dan metal Indonesia. Salah satunya adalah, feature film yang akan menceritakan gejolak kehidupan orang-orang di balik dunia musik rock dan metal.

Selain itu ada juga virtual concert dengan line up Rocket Rockers, Burgerkill, Teenage Death Star, The Panturas, Koil, Jasad, KILMS, Avhath dan lain lain lalu kolaborasi brand fashion bersama Maternal, Lawless, Wellborn dan lain lain dan juga kolaborasi musisi bersama Buluk Superglad, Otong Koil, Robi Navicula, Aska Rocket Rockers dan lain lain. Dalam beberapa bulan berikutnya akan ada info mengenai program-program lain yang sedang dikerjakan.

Diketahui juga film dokumenter ini akan di rilis sekitaran awal bulan Juli 2021 mendatang dan akan tayang di bioskop kesayangan Anda sambil melihat keadaan juga situasi terkini yang masih dalam keadaan pandemi. Setelah di bioskop, film dokumenter ini akan tayang di OTT dan menayangkan series-series lainnya agar dapat ditonton semua kalangan karena bukan hanya perihal musik namun film dokumenter ini juga diangkat dari nilai kebersamaannya.

Laporan: Aufa Prasya Namyra