Gempa Magnitudo 8,9 Berpotensi Guncang Jawa, Ini Langkah Mitigasi BMKG

Merdeka.com - Merdeka.com - Gempa bumi dengan magnitudo maksimum 8,9 berpotensi mengguncang selatan Jawa bagian barat dan tenggara Sumatera yang dapat memicu tsunami 34 meter.

Koordinator Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Iman Fatchurochman mengatakan, potensi bencana tersebut perlu dikomunikasikan dengan pemerintah daerah (pemda) masing-masing guna mempersiapkan mitigasi bencana.

"Perlu kita komunikasikan terutama dengan pemda masing-masing. Tujuannya apa? Untuk mempersiapkan atau mengantisipasi jika potensi maksimum ini terjadi. Kita harus mulai memikirkan mitigasi bencana gempa bumi dan tsunami tersebut karena kita enggak pernah tahu ini akan terjadi kapan," katanya kepada merdeka.com, Rabu (9/11).

Dia menerangkan, pemda harus menyiapkan tempat-tempat aman untuk daerah evakuasi.

"Pemda akan melihat, ternyata di daerah situ juga ada wilayah-wilayah yang cukup aman, yang bisa kita jadikan tempat untuk evakuasi. Nah tempat penentuan evakuasi tersebut kan berdasarkan pemetaan-pemetaan wilayah-wilayah yang lebih aman dari tsunami," jelasnya.

Namun, Iman menambahkan, pemda perlu memikirkan wilayah-wilayah yang tidak aman dari gempa dan tsunami. Ia menyarankan, tempat tersebut tidak dijadikan untuk tempat tinggal permanen.

“Wilayah yang tidak aman ini yang perlu kita pikirkan. Sebaiknya tidak digunakan untuk lahan tempat tinggal permanen. Jadi sebaiknya mungkin bisa untuk dijadikan tempat publik, untuk wisata misalnya sehingga di situ tidak ada bangunan yang ditempatkan untuk tempat tinggal atau pemukiman,” ungkapnya.

Kemudian, pemda juga perlu menyiapkan ruang terbuka hijau dan melakukan vegetasi.

“Pemerintah juga bisa mengatur atau menata ruang terbukanya. Kemudian juga bisa melakukan antisipasi, kita mulai menggunakan vegetasi untuk meredam jika tsunami datang,” ujar Iman.

Tidak hanya itu, pemerintah daerah juga bisa belajar dari peristiwa tsunami sebelumnya. Misalnya, pemda harus dapat membuat masyarakatnya tahu bahwa daerah tersebut adalah wilayah yang rawan tsunami agar tahu tempat evakuasi.

“Jadi mereka harus tahu di mana sih tempat evakuasi, apakah mereka punya peta evakuasi, apakah mereka sudah membuat rambu-rambu evakuasi, apakah mereka sudah menempatkan papan informasi bahwa di sini adalah daerah rawan tsunami,” jelas Iman.

Dia berharap, masyarakat bisa meminta shelter tsunami kepada pemdanya bila tidak memiliki tempat untuk evakuasi.

“Kemudian kalau misalkan tidak ada tempat evakuasi, apakah mereka minta kepada pemda untuk mengadakan shelter tsunami begitu sehingga jika tidak ada tempat evakuasi, kita bisa menggunakan shelter tsunami itu untuk menyelamatkan di sekitar wilayah yang rawan tsunami,” terangnya.

Untuk memastikan pemda melakukan hal tersebut, Iman mengaku BMKG telah melakukan roadshow di berbagai kota di Indonesia. Saat ini, BMKG telah roadshow ke Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Sebelumnya, gempa bumi dengan magnitudo maksimum 8,9 berpotensi mengguncang selatan Jawa bagian barat dan tenggara Sumatera. Gempa ini diperkirakan bersumber dari zona megathrust di wilayah tersebut.

Ahli seismologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang juga Peneliti Postdoctoral di University of Cambridge, Pepen Supendi mengatakan, temuan potensi gempa itu berdasarkan hasil penelitian pada zona subduksi selatan Jawa bagian barat dan tenggara Sumatera. Khususnya, pada zona megathrust pada kedalaman yang relatif dangkal, kurang dari 50 km.

“Hasil penelitian kami menunjukkan adanya celah seismik (seismic gap) pada megathrust selatan Jawa bagian barat dan tenggara Sumatera yang berpotensi menghasilkan gempa maksimum magnitudo 8,9,” jelas Pepen, Jumat (4/11).

Pepen menyebut, aktivitas gempa yang tinggi di Jawa Barat dan sekitarnya terjadi akibat subduksi Lempeng Indo-Australia terhadap Lempeng Eurasia. Gempa megathrust ini kemungkinan besar menimbulkan bahaya gempa bumi dan tsunami bagi masyarakat sekitar.

Pepen menjelaskan, peneliti melakukan relokasi hiposenter gempa bumi dengan memanfaatkan data yang bersumber dari BMKG dan International Seismological Center (ISC) periode April 2009 sampai dengan Juli 2020. Lewat cara inilah, peneliti melihat ada celah seismik di selatan Jawa Barat yang akan menjadi sumber potensial gempa megathrust di masa depan.

Merujuk catatan sejarah, Jawa bagian barat pernah mengalami dua peristiwa gempa besar dengan magnitudo lebih dari 7,5. Pertama pada tahun 1903, kedua tahun 1921.

Selama dua dekade terakhir, juga terdapat dua gempa besar yang terjadi di daerah ini, yaitu peristiwa gempa megathrust magnitudo 7,8 pada 17 Juli 2006, yang menghasilkan tsunami dahsyat di Pangandaran. Kemudian gempa intra-slab magnitudo 6,8 pada 2 September 2009, yang melanda selatan Jawa bagian barat. [fik]