Genap 10 Tahun, Gojek Berhasil Raih Laba Operasional

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Memasuki usia 10 tahun, Gojek mengungkap deretan capaian yang sudah diperoleh startup berstatus unicorn tersebut. Salah satunya adalah Gojek kini berhasil mencetak laba operasional di luar biaya headquarter atau dikenal contribution margin positive.

"Dengan adanya pencapaian ini, kami menjadi lebih confidence, karena ke depannya untuk mencapai bisnis yang sustainable lebih mungkin," tutur Co-CEO Gojek, Andre Soelistyo, dalam konferensi pers virtual, Kamis (12/11/2020).

Andre menuturkan fundamental perusahaan di tahun ini juga semakin kuat sebab didukung total nilai transaksi di dalam platform Gojek (Gross Transaction Value-GTV) telah mencapai USD 12 miliar (Rp 170 triliun).

Pencapaian itu disebut tidak lepas dari 38 juta pengguna aktif bulanan Gojek yang tersebar di Asia Tenggara. Andre juga menuturkan GTV dari layanan GoPay saat ini telah melampaui di masa pra-pandemi.

"Hal ini terjadi seiring dengan semakin banyaknya konsumen dan merchant yang beralih ke layanan digital, lalu bertransaksi secara online," tutur Andre menuturkan.

Lebih lanjut Andre menuturkan transaksi dengan GoPay di Oktober 2020 naik hingga 2,7 kali lipat dibandingkan periode yang sama di tahun lalu. Adapun transaksi GoPay banyak digunakan untuk berlangganan video streaming, pembelian dalam gim, hingga e-commerce.

Gojek juga mencatat adanya kenaikan di layanan PayLater untuk Oktober 2020 hingga 2,7 ketimbang di waktu yang sama tahun lalu. Nilai donasi melalui GoPay juga naik hingga Rp 102 miliar dalam kurun waktu Maret hingga Oktober 2020.

Di sisi lain, layanan untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari, seperti GoMart dan GoShop yang dikembang sejak awal 2020 untuk merespons kebutuhan masyarakat di masa pandemi mengalami peningkatan GTV hingga 500 persen.

Komitmen Gojek di Masa Depan

Co-CEO Gojek Kevin Aluwi dan Andre Soelistyo. Dok: Gojek
Co-CEO Gojek Kevin Aluwi dan Andre Soelistyo. Dok: Gojek

Dalam kesempatan itu, Andre juga menegaskan komitmen Gojek untuk mendukung UMKM. Karenanya, perusahaan juga akan berupaya menyediakan tools dan infrastruktur untuk membantu UMKM berjualan online.

"Kami juga akan berupaya untuk terus menjadi andalan masyarakat dengan memperkuat produk dan layanan yang dibutuhkan," tutur Andre melanjutkan.

Di samping itu, Gojek akan terus berinvestasi pada inovasi teknologi maupun sumber daya manusia. Harapannya, Gojek dapat menjadi perusahaan yang lebih global dan memperkuat pertumbuhannya di Asia Tenggara.

"Terakhir, perusahaan akan menjaga efisiensi agar fundamental perusahaan semakin kuat dan dapat membangun pondasi kokoh untuk keberlanjutan usaha," ujarnya menutup pernyataan.

Deretan Capaian Gojek di Usia 10 Tahun

Gojek mulai uji coba penerapan sekat pelindung di layanan GoRide. (Sumber: Gojek)
Gojek mulai uji coba penerapan sekat pelindung di layanan GoRide. (Sumber: Gojek)

Gojek tahun ini menandai kiprahnya sebagai perusahaan rintisan yang sudah berusia 10 tahun. Menurut Co-CEO Gojek, Kevin Aluwi, dirinya tidak menyangka bahwa Gojek bisa menjadi seperti sekarang.

"Sebagai salah satu co-founder Gojek, sejujurnya saya sendiri tidak tahu kalau Gojek bisa keluar dari Jakarta. Itu seperti rencana suatu saat nanti," tuturnya saat konferensi pers virtual, Kamis (12/11/2020).

Dalam kurun waktu satu dekade ini, Kevin mengatakan Gojek sudah mengalami banyak perubahan. Salah satunya adalah Gojek kini sudah menjadi super app yang hadir di empat negara Asia Tenggara, dari sebelumnya adalah layanan call center.

"Dari 20 mitra pada 2010, kini ada dua juta mitra di 2020. Lalu pada 2015 ada 10 ribu mitra merchant di 2015, sekarang ada 900 ribu mitra merchant," tuturnya menjelaskan.

Selain itu, Gojek kini telah hadir dengan layanan dompet digital Gopay, dari sebelumnya menggunakan menggunakan pembayaran tunai. "Kini Gopay telah menjadi layanan dompet terdepan dan menjadi salah satu kami melakukan inklusi finansial," tuturnya melanjutkan.

Kevin juga bersyukur ekosistem Gojek dapat memberikan dampak positif bagi ekonomi Indonesia. Hal itu diketahui dari laporan Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, nilai produksi ekosistem Gojek setara 1 persen PDB nasional.

"Itu semua bisa dilakukan berkat tiga aplikasi super. Mungkin banyak yang mengenal aplikasi hanya untuk konsumen, tapi ada juga untuk driver dan merchant. Hal ini bisa dilakukan berkat dukungan dari semua ekosistem tersebut," ujarnya melanjutkan.

(Dam/Ysl)