AS Gencar Produksi Senjata Hipersonik untuk Kejar Rusia dan China

Merdeka.com - Merdeka.com - Pemerintah Amerika Serikat (AS) sedang berusaha mengejar Rusia dan China dalam hal pengembangan dan produksi senjata hipersonik melalui peningkatan kecepatan penelitian dan pengujian.

"Sampai baru-baru ini, belum ada pendorong nyata bagi kami untuk menggunakan teknologi itu dan memasukkannya ke dalam sistem senjata. Tidak ada kebutuhan untuk itu. Kebutuhannya sekarang ada, itulah sebabnya kami memiliki rasa urgensi untuk mendapatkannya setelah ini," jelas direktur program Sistem Strategis Angkatan Laut AS, Wakil Laksamana Johnny Wolfe dikutip dari CNN, Senin (21/11).

Sebelumnya Wolfe yakin Rusia dan China telah lama mengembangkan senjata yang tidak dimiliki AS. Karena itu pemerintah AS bulan lalu melakukan dua peluncuran roket untuk menguji bahan tahan panas, perangkat elektronik kelas atas, dan bahan ringan demi mengumpulkan data untuk pengembangan hipersonik.

Wolfe mengungkapkan, AS terpaksa mengembangkan senjata hipersonik karena didorong Rusia dan China yang telah mengembangkan dan menggunakan senjata itu.

Rusia sendiri sudah menggunakan rudal hipersonik miliknya bernama Kinzhal di Ukraina. Sedangkan China menguji rudal hipersoniknya yang terbang mengelilingi dunia sebelum mengenai target.

Sebelumnya rudal hipersonik adalah senjata yang dapat terbang hingga kecepatan Mach 5 atau 6.125 kilometer per jam. Kecepatan itu membuat rudal hipersonik dapat terbang tinggi dan sulit ditembak jatuh.

Untuk menyaingi Rusia dan China, Pentagon AS meminta dana sebesar USD4,7 miliar atau Rp73,8 triliun. Dana itu juga akan digunakan militer AS untuk mengembangkan senjata-senjata hipersonik lainnya.

Meski menghadapi beberapa kegagalan, namun militer AS enggan tersaingi dengan kemampuan Rusia dan China.

"Menurut sayakegagalan adalah bagian dari proses. Ketika Anda melihat teknologi canggih dan Anda melihat bagaimana Anda benar-benar ingin bersandar dan mendapatkan sesuatu di tangan prajurit dengan cepat, kami harus menerima kenyataan bahwa untuk melakukan itu, kami akan mengambil risiko," jelas Wolfe.

Militer AS berencana meluncurkan Senjata Hipersonik Jarak Jauh (LRHW) tahun depan. Senjata yang menggunakan roket pendorong dua tahap yang dapat meluncur dengan kecepatan tinggi itu akan menjadi senjata hipersonik pertama yang digunakan militer AS.

Angkatan Laut AS juga berencana menggunakan senjata hipersonik pertamanya di kapal perang seri Zumwalt pada 2025 nanti.

Senjata hipersonik sendiri digadang-gadang sebagai rudal generasi terbaru karena dikembangkan dan digunakan berbagai negara.

"Pada dasarnya, ini hanyalah rudal generasi berikutnya," jelas Tom Karako, direktur Proyek Pertahanan Rudal di Pusat Kajian Strategis dan Internasional.

Karako menjelaskan alasan AS mengembangkan senjata hipersonik karena didorong Rusia dan China yang telah mengembangkan senjata itu. AS akhirnya terburu-buru mengejar ketinggalannya untuk mengembangkan senjata yang dapat bermanuver cepat itu.

"Anda membutuhkan ketidakpastian itu, bukan hanya kecepatan. Rudal balistik akan memberi Anda kecepatan, tetapi peluncur hipersonik dan scramjetlah yang menggabungkan kecepatan dengan kemampuan manuver," jelas Karako.

Sebelumnya Iran dan Korea Utara juga diyakini sedang mengembangkan senjata hipersonik itu. Bahkan pekan lalu, Pasukan Dirgantara Garda Revolusi Islam menyatakan mereka berhasil mengembangkan rudal hipersonik.

Reporter Magang: Theofilus Jose Setiawan [pan]