Generasi Z dan Milenial Paling Ogah Ngantor

·Bacaan 2 menit

VIVA – Sebuah laporan baru dari Citrix Systems menemukan bahwa orang yang lahir setelah 1981, yang disebut born digital generation, tidak lagi tertarik untuk bekerja penuh waktu di kantor dan jauh lebih paham teknologi daripada generasi sebelumnya.

Studi Born Digital Effect menampilkan wawasan yang dikumpulkan dari seribu pemimpin bisnis dan dua ribu pekerja di 10 negara mencoba untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang orang-orang yang lahir di era yang dibanjiri oleh teknologi.

Baca: Profil Ganosec Team, Hacker Indonesia Tukang Acak-acak Israel

Responden survei berbasis di Prancis, Jerman, Belanda, Inggris, Meksiko, Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, China, India, dan Jepang, dengan fokus utama mereka yang bekerja di sektor jasa keuangan, perawatan kesehatan, teknologi, dan manufaktur.

Dari 2.000 responden 750 di antaranya adalah generasi Z, yang berarti mereka lahir setelah 1997 dan 1.250 adalah generasi milenial yang lahir setelah 1981, melansir dari situs ZDNet, Rabu, 26 Mei 2021.

Survei tersebut mencakup model ekonomi yang menunjukkan bahwa perusahaan mengharapkan generasi Z dan milenial mampu menghasilkan keuntungan tambahan untuk perusahaan sebesar US$1,9 triliun.

Saat ini kedua populasi tersebut menjadi mayoritas dari angkatan kerja global. Tetapi mereka tidak memiliki hubungan yang dekat dengan para pemimpin perusahaan karena faktor pendekatan berbeda terhadap keseimbangan kehidupan kerja, bisnis, dan banyak lagi.

Survei tersebut menemukan bahwa 87 persen responden fokus pada stabilitas karir, keamanan, dan keseimbangan kehidupan kerja yang sehat. Tanggapannya sangat kontras dengan para pemimpin bisnis, yang sebagian besar mengira karyawan mereka yang lebih muda paling tertarik pada teknologi di tempat kerja dan peluang pelatihan.

Menurut survei tersebut, 90 persen responden tidak berminat kembali bekerja secara penuh waktu setelah pandemi COVID-19 selesai. Lebih dari separuh memilih model kerja hybrid, di mana mereka dapat bekerja dari rumah sebagian atau sepanjang waktu. Hanya 18 persen yang menginginkan lebih banyak bekerja dari kantor.

Lebih dari 20 persen menginginkan waktu yang sama antara bekerja dari rumah dan antor. Hanya 10 persen saja yang ingin bekerja penuh waktu dari kantor. Angka-angka ini sangat kontras dengan apa yang dipikirkan para pemimpin bisnis.

Hampir 60 persen pemimpin bisnis percaya bahwa pekerja yang lebih muda ingin menghabiskan sebagian besar atau semua waktu mereka di kantor. Vice President Executive Citrix, Donna Kimmel mengatakan, meskipun banyak karyawan yang lebih muda ingin bekerja dari rumah mereka memahami perlunya interaksi secara langsung.

Ia mengaku jika perlu memberikan kesempatan kepada karyawan untuk berkumpul bersama secara fisik di kantor. Bekerja secara virtual dari rumah dan tetap terhubung adalah masa depan pekerjaan.

Hampir 20 persen karyawan yang lebih muda juga tertarik pada tempat kerja fleksibel yang menawarkan opsi empat hari kerja dalam seminggu. Sementara 27 persen menginginkan jam kerja yang dapat mereka putuskan sendiri.