Genjot Daya Beli Masyarakat untuk Dongkrak Kredit Bank

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Perlambatan ekonomi terjadi seiring dengan pandemi COVID-19 yang terjadi. Melihat hal ini, beragam upaya dilakukan agar pemulihan ekonomi kembali terjadi di Indonesia. Salah satu langkah yang ditempuh ialah mencoba menumbuhkan kredit di masyarakat, seperti yang diungkapkan Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI), Sunarso.

"Kreditnya ditumbuhkan, dengan cara apa, beragam kebijakan diberikan, salah satunya suku bunga kredit di turunkan. Namun hal ini tak membuat kredit naik signifikan," ujar dia secara virtual, Kamis (25/3/2021).

Sunarso menuturkan, tahun lalu pertumbuhan kredit nasional melambat hingga 2,24 persen. Untuk bank-bank swasta minus 4 persen dan bank swasta asing minus hingga 20 persen.

"Yang paling elastis mendorong pertumbuhan kredit ialah satu mendorong kebutuhan rumah tangga, dua meningkatkan daya beli masyarakat," ujarnya.

Oleh karena itu, pemerintah fokus memberikan pekerjaan kepada masyarakat agar pendapatan mengalir ke bawah melalui proyek padat karya, serta memberikan uang agar bisa meningkatkan daya beli.

"Jangan khawatir terlalu berlebihan, perbankan saat ini kondisinya masih relatif kuat dan solid. CAR (capital adequacy ratio) itu masih 24,25 persen, lalu NPL (Non Performing Loan) 3,18 persen di tahun 2020. Jadi masih terkelola dengan baik," tuturnya.

Penyaluran Kredit Bank Asing dan Bank Swasta di Indonesia Masih Melempem

Ilustrasi Bank
Ilustrasi Bank

Sebelumnya, kinerja penyaluran kredit bank asing dan bank Swasta di Indonesia tidak maksimal selama pandemi COVID-19. Hal tersebut terbukti dengan angka penyaluran yang minus jika dibandingkan dengan kelompok lain.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menjelaskan, pertumbuhan kredit industri perbankan terkontraksi -1,92 perzen (yoy) pada Januari 2021. Penyaluran kredit untuk bank BUMN dan Bank Pembangunan Daerah (BPD) sudah positif namun bank asing dan swasta masih negatif.

Ada beberapa catatan di sini yang kami garis bawahi, pertumbuhan kredit yang sudah positif itu Bank BUMN dan BPD. Yaitu BPD 5,6 persen dan bank BUMN sampai 1,5 persen justru bank swasta nasional dan bank asing yang kreditnya masih negatif," kata dalam acara Temu Stakeholder untuk Percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional, yang disiarkan lewat Youtube Kemenkeu RI, Kamis, 25 Maret 2021.

Dalam paparannya, hingga Januari 2021 pertumbuhan kredit bank swasta masih minus 5 persen bahkan untuk bank asing kreditnya masih minus 25 persen (yoy).

Di sisi lain OJK mencatat, kinerja kredit sektor modal kerja masih menjadi penopang pertumbuhan kredit di awal tahun 2021. "Jadi kami menaruh perhatian betul ya untuk yang swasta ini ini kenapa demikian dan ini akan kami lihat secara lebih detail bahkan debitur debiturnya kenapa," jelas Wimboh.

Meskipun begitu, Wimboh menilai permodalan lembaga jasa keuangan sampai saat ini relatif terjaga pada level yang memadai. Di mana untuk Capital Adequacy Ratio perbankan tercatat sebesar 24,50 persen.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini