Genjot Industri, Pemerintah Bidik Pasar Ekspor Amerika Latin Hingga Timur Tengah

Merdeka.com - Merdeka.com - Pemerintah membidik sejumlah pasar ekspor baru di negara Amerika Latin hingga Timur Tengah, guna menguatkan sektor industri di tengah tantangan global saat ini. Mengingat, tantangan industri ke depannya akan semakin berat, sehingga pemerintah sudah mulai membahas mitigasi dengan sejumlah asosiasi merespons risiko global.

"Pertama, yang penting adalah membuka pasar baru ekspor, kita akan buka akses, mencoba membuka akses pasar di Amerika Latin, Amerika Selatan, Afrika, Timur Tengah dan Asia," kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam Konferensi Pers Pertumbuhan Ekonomi di Triwulan ke-3, Senin (7/11).

Langkah mitigasi ketiga, adalah dengan peningkatan penguasaan pasar dalam negeri, memperkuat dan mendorong promosi dan kerja sama lintas sektoral. Ini juga didukung oleh kebijakan Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN).

"Dan langkah ketiga, penguatan daya saing industri melalui kemudahan akses bahan baku, penguatan ekosistem usaha dan produksi. Kita lihat berbagai instrumen, bea masuk pemerintah, atau bahan baku industri bisa kita relaksasi fiskalnya, dan banyak sekali instrumen lain yang bisa digunakan," bebernya.

Dia mencatat, industri non migas tumbuh positif mencapai 4,88 persen di kuartal III 2022 dibanding angka sebelumnya di tahun lalu sebesar 4,43 persen. Industri yang mengalami penguatan, di antaranya industri alat angkutan, kemudian industri mesin hingga industri elektronika.

Kemudian, di klaster industri yang mengalami perlambatan pertumbuhan, ada industri makanan dan minuman. Menurutnya, pertumbuhan industri makanan minuman masih rendah ketimbang kondisi sebelum pandemi Covid-19.

"Ini akan kita kembalikan dari berbagai macam alasan kenapa tumbuh melambat ini ada kaitan bahwa permintaan dari luar negeri juga terganggu karena tekanan ekonomi global dan juga inputnya cukup tinggi. Sekarang berkaitan dengan bahan baku, baik itu ketersediaan maupun harga dari bahan baku itu sendiri, salah satunya (karena) menguatnya (nilai tukar) dolar," terangnya.

Sementara itu, industri yang mengalami pertumbuhan negatif, yakni industri bahan galian dan industri logam. "Cukup terpukul juga furnit, seperti yang kami sampaikan, sama seperti klaster sebelumnya, banyak pelemahan market khususnya di Eropa dan tingginya nilai input atau bahan baku," bebernya.

Mengacu data Badan Pusat Statistik (BPS), di kuartal III ini, sektor industri memiliki kontribusi 17,88 persen dan sektor pertambangan berkontribusi 13,47 persen. Kemudian sektor Pertanian berkontribusi 12,91 persen, sektor perdagangan berkontribusi 12,74 persen, dan sektor konstruksi berkontribusi 9,45 persen.

Reporter: Arief Rahman H.

Sumber: Liputan6.com [azz]