Georgia akan Hitung Ulang Suara Pemilu AS 2020 dengan Tangan

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Washington D.C- Georgia akan menghitung ulang semua surat suara pemilu Amerika Serikat 2020 dengan tangan. Hal itu disampaikan pejabat tinggi pemilu negara bagian tersebut pada Rabu 11 November waktu setempat.

Dikutip dari Channel News Asia, Kamis (12/11/2020), penghitugan suara dengan tangan tersebut dijadwalkan untuk selesai sebelum 20 November mendatang.

Presiden AS terpilih, Joe Biden meraih lebih dari 270 suara Electoral College yang diperlukan untuk mendapatkan kursi kepresidenan dengan memenangkan negara bagian Pennsylvania setelah empat hari proses penghitungan.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump dari Partai Republik masih enggan untuk mengakui kekalahannya dalam pemilu 2020 dan menyatakan klaim - tanpa bukti - bahwa adanya kecurangan dalam pemungutan suara.

Penghitungan suara di Georgia juga menandai keunggulan Biden atas Trump dengan hanya 14.101 suara lagi yang dibutuhkan dari sekitar 5 juta di seluruh negara bagian tersebut.

Sekretaris Negara Bagian Georgia, Brad Raffensperger menerangkan dalam pada konferensi pers, bahwa "Dengan selisih yang sangat kecil, penghitungan ulang diperlukan".

"Anda benar-benar harus melakukan penghitungan ulang tangan-dengan-tangan penuh karena selisihnya yang begitu dekat," jelas Raffensperger. "Kami ingin memulai ini sebelum pekan ini berakhir," lanjutnya.

"Orang-orang akan banyak bekerja lembur selama beberapa pekan mendatang," kata Raffensperger.

Pengitungan Ulang Mencakup Surat Suara Langsung dan Absentee Voting

Ilustrasi Pilpres AS. (Liputan6.com/Trie Yasni)
Ilustrasi Pilpres AS. (Liputan6.com/Trie Yasni)

Raffensperger juga memaparkan bahwa para pejabat pemilu di Georgia akan bekerja dalam kelompok, dan, menyortir tumpukan surat suara dan menghitungnya di bawah pengawasan pengamat dari kedua partai politik (Demokrat dan Republik).

Kumpulan surat suara tersebut pun mencakup yang diberikan secara langsung dan melalui pos (vote-by-mail/absentee voting).

"Itulah bagaimana kami melakukannya, dan akan menghitung semuanya. Ini proses yang besar," ujar Raffensperger.

Untuk penghitungan ulang, para pejabat pemilu harus menghitung lebih dari 23.000 surat suara dalam satu jam selama sembilan hari sebelum batas waktu untuk hasil yang nantinya disahkan.

Sebuah studi yang dilakukan oleh kelompok non-partisan, Fair Vote menemukan bahwa penghitungan ulang di seluruh 31 negara bagian antara tahun 2000 dan 2019, hasilnya berubah hanya dari tiga di antaranya.

Seringnya, pemenang dari pemilu disebut malah memenangkan sedikit lebih banyak suara.

Menurut Fair Vote, penghitungan ulang mengubah hasil hingga sebesar 0,024 persen - selisih yang masih jauh lebih kecil daripada yang dibutuhkan Trump.

Biden, saat ini tercatat unggul diatas Trump di Georgia dengan 49,5 persen menjadi 49,2 persen.

Dua senator Georgia dari Partai Republik AS, David Perdue dan Kelly Loeffler, telah meminta Raffensperger yang juga dari partai tersebut untuk mengundurkan diri dari tugasnya dalam pemilu. Namun, masih belum adanya bukti terkait penipuan dalam pemilu.

Saksikan Video Berikut Ini: