Gerah, Miliarder Jeff Bezos Desak Manajemen Amazon Mulai Ladeni Kritikan Politisi AS

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta Gesekan antara sejumlah politisi Amerika Serikat dengan raksasa teknologi Amazon mulai memasuki babak baru. Kini giliran petinggi Amazon yang turun langsung meladeni kritikan para politisi lewat cuitan di Twitter, bahkan media resmi perusahaan melakukan hal serupa.

Dikutip dari Vox, Kamis (1/4/2021) sikap agresif Amazon tidak lain usai sang bos perusahaan, miliarder Jeff Bezos mulai gerah dengan gencarnya kritikan yang dialamatkan kepada perusahaannya itu.

Recode menyebut Bezos menunjukkan ketidakpuasannya terhadap kinerja para eksekutif dalam menanggapi berbagai kritikan yang disebutnya menyesatkan dan tidak benar.

Gertakan sang bos ini ikut mendorong salah satu eksekutif perusahaan, Dave Clark untuk angkat bicara. Dalam cuitannya Rabu minggu lalu, ia menanggapi rencana senator asal Vermont, Bernie Sanders yang akan hadir dalam hari terakhir pemungutan suara pembentukan serikat pekerja gudang Amazon di Alabama.

“Saya menyambut @SenSanders (akun twitter Sanders) di Birmingham dan menghargai dorongannya untuk tempat kerja yang progresif," kata dia dalam cuitan yang dituliskan ke dalam sebuah utasan.

"Saya sering mengatakan bahwa kami adalah pemberi kerja Bernie Sanders, tetapi itu kurang tepat karena kami sebenarnya memberikan tempat kerja yang progresif," tambahnya.

Dia pun merincikan apa yang dimaksud. Dengan menyebut perusahaannya telah bertaruh memberi gaji relatif besar sekitar USD 15 atau sekitar Rp 216.000 per jam (kurs USD 1 = Rp 14.400).

Dia juga menyebut perusahaan telah memberi jaminan kesehatan dan lingkungan kerja yang inklusif. Klaim Clark atas budaya kerja Amazon yang progresif tersebut sontak ditanggapi kritikan balik dari politisi lainnya.

Kini giliran anggota dewan dari partai Demokrat, Mark Pocan yang menyebut keberanian Amazon untuk memberi gaji besar saja tidak serta merta menjadikan Amazon lebih baik.

Pocan menyinggung tuntutan kerja yang besar justru membuat adanya beberapa laporan yang menyebut pekerja Amazon bahkan harus 'buang air kecil di botol air mineral'.

Lagi-lagi perusahaan membalas kritikan tersebut dengan nada lebih keras. Bukan lagi ditanggapi perorangan, cuitan Pocan tersebut direspon langsung oleh akun Twitter dari media resmi perusahaan, @amazonnews yang membantah tudingan tersebut.

"Anda tidak benar-benar percaya ada yang buang air dalam botol, bukan? Jika itu benar, tidak ada yang akan bekerja untuk kita," tulis akun tersebut.

Bermula dari Alabama

Kantor Amazon
Kantor Amazon

Perdebatan tentang sistem kerja ini kian memanas beberapa bulan terakhir pasca dimulainya pemungutan suara untuk membentuk organisasi serikat pekerja di gudang Amazon di Alabama. Hal yang sejak beberpa tahun terakhir tidak pernah berhasil direalisasikan.

Sementara itu, perusahaan diketahui terang-terangan menentang aksi tersebut. Beberapa ahli berpendapat jika serikat pekerja di Alabama berhasil terbentuk, ini akan mempengaruhi adanya desakan serupa di berbagai daerah lainnya. Lebih lanjut, ini akan mempengaruhi perubahan signifikan terhadap aturan dan sistem kerja perusahaan.

Karena itu, dikutip dari The Guardian, Amazon bahkan sudah mengkampanyekan anti-serikat pekerja sejak pemungutan suara dimulai awal Februari lalu.

Perusahaan membuat situs khusus DoItWithoutDues.com yang berisi kampanye anti-serikat pekerja, dan mempromosikannya melalui Facebook.

Amazon VS Elizabet Warren

Jeff Bezos (AP Photo/Ted S. Warren, File)
Jeff Bezos (AP Photo/Ted S. Warren, File)

Jika dengan Sanders dan Pocan Amazon berdebat perkara budaya kerja, beda lagi dengan senator partai Demokrat, Elizabeth Warren. Dia terkenal dengan berbagai desakan politiknya soal reformasi perpajakan di AS.

Jumat lalu, Warren membagikan cuitannya di Twitter dengan menyebut, perusahaan raksasa seperti Amazon telah melaporkan keuntungan yang fantastis.

Sayangnya menurut Warren mereka justru tidak membayar nilai pajak yang semestinya. Dia mendesak perubahan aturan pajak yang menargetkan raksasa bisnis.

Berselang beberapa jam, akun media resmi perusahaan, @amazonnews menanggapinya dengan menyebut perusahaan justru telah mematuhi aturan perpajakan dengan membayar miliaran dollar untuk pajak penjualan dan pajak federal tahun lalu.

"Anda membuat undang-undang perpajakan @SenWarren (akun resmi Warren) kami hanya mengikutinya. Jika anda tidak menyukai hukum yang nda buat, ubahlah," tulis akun Amazon tersebut.

Meski begitu, beberapa pengguna Twitter justru mengkritik pembelaan Amazon tersebut yang dianggap tidak masuk akal. Nilai miliaran dollar yang diklaim perusahaan sebagai pajak penjualan disebut bukan dibayar langsung oleh perusahaan, melainkan biaya yang dibayar oleh konsumen Amazon lewat pajak pembelian barang dan jasa.

Menariknya, dibalik sikap tak terduga akun resmi perusahaan tersebut, Recode juga melaporkan, sejumlah pekerja Amazon yang merupakan teknisi keamanan mengajukan tuntutan kepada perusahaan tentang adanya aktivitas mencurigakan dari akun @amazonnews. Terutama setelah akun tersebut membagikan twit tanggapan terhadap akun politisi yang menarik perhatian publik.

Dalam tuntutan tersebut, mereka menyebut cuitan kontroversial tersebut dibagikan menggunakan layanan Twitter Web, padahal biasanya @amazonnews membagikan cuitannya lewat software manajemen media sosial Sprinklr.

Isi tuntutan tersebut juga menyebut aktivitas akun tersebut kian mencurigakan karena caranya menulis tweet informasi cenderung lebih antagonis, yang dipandang dapat memperburuk citra perusahaan.

Reporter: Abdul Azis Said

Saksikan Video Ini