Geram Disebut Bubar dan Demisioner, Herzaky: AHY Ketum yang Sah

Dusep Malik, Anwar Sadat
·Bacaan 2 menit

VIVA – Partai Demokrat kubu Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) tak terima disebut demisioner oleh kubu Moeldoko Cs. Sampai dengan saat ini, kepengurusan AHY mengklaim masih sebagai kepengurusan yang sah dan diakui oleh Pemerintah.

Kepala Badan Komunikasi Strategis Partai Demokrat AHY, Herzaky Mahendra Putra, menyampaikan beberapa hal, pertama yakni menyebut Moeldoko Cs sebagai tukang bohong dan tukang fitnah.

Menurut Herzaky, publik juga dinilai sudah tidak mau tertipu oleh narasi bohong dan kosong Moeldoko Cs karena tidak ada bukti, tidak ada fakta, hanya kebohongan.

"Kedua, kepengurusan Partai Demokrat yang sah saat ini, berdasarkan UU Parpol dan sudah dikukuhkan dengan SK Menkumham tahun 2020, adalah kepengurusan Partai Demokrat pimpinan Agus Harimurti Yudhoyono. Menkumham Yasonna Laoly dan Menkopolhukam Mahfud MD juga sudah berulang kali menyatakan itu," ujar Herzaky, Selasa 30 Maret 2021

Ketiga, kata Herzaky, saat ini para pemilik suara di berbagai tingkatan, pengurus DPP, DPD, DPC, maupun anggota Dewan di tiap tingkatan, dari DPR RI, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota, serta kader-kader Partai Demokrat di seluruh Indonesia dalam kondisi solid bersama Ketum AHY. Tidak ada yang terpengaruh oleh intimidasi dan manipulasi gerombolan Moeldoko.

"Keempat, Moeldoko itu Ketum abal-abal hasil KLB ilegal. Syarat sah untuk mengusulkan KLB, tidak terpenuhi sama sekali. Tidak ada satupun pemilik suara sah, baik DPD, maupun DPC, yang mengusulkan KLB, melaksanakan KLB ilegal pun tidak sesuai dengan ketentuan di UU Parpol. Bukan DPP Partai Demokrat yang sah, dan tidak ada surat mandat dari DPP Partai Demokrat yang sah," ujar Herzaky.

Kelima, para begal politik yang tergabung dalam gerombolan Moeldoko ini, gagal penuhi syarat-syarat untuk buat KLB yang sah, sehingga mereka terus menebar kebohongan untuk menutupi kegagalan total mereka. Herzaky memaklumi kebohongan yang dibuat Moeldoko Cs, sebab satu kebohongan perlu ditutupi dengan seribu kebohongan lainnya.

"Saran kami kepada gerombolan Moeldoko, lebih baik miskin harta tapi punya harga diri, daripada kaya raya tapi berkhianat. Sekali pengkhianat, sekali tukang bohong, selamanya akan dicap pengkhianat, tukang bohong, oleh publik, oleh tetangga, oleh keluarga besarnya," ujarnya.