Gerindra: Tak Hanya Pemilu, Parpol Harus Hadir saat Rakyat Sulit

Bayu Nugraha, Anwar Sadat
·Bacaan 2 menit

VIVA – Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani, menyoroti bencana banjir bandang dan siklon tropis seroja yang melanda Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Menurut Muzani, peristiwa ini begitu mengkhawatirkan karena berdasarkan data dari BNPB, korban jiwa meninggal dunia akibat peristiwa itu berjumlah 181 orang.

Muzani mengatakan, partai politik (parpol) memiliki tanggung jawab besar untuk turut memberikan bantuan kepada masyarakat di kala tertimpa musibah. Karena itulah, DPP Partai Gerindra turut serta bergerak untuk memberikan bantuan kepada masyarakat NTT yang tertimpa musibah.

"Lazimnya sebuah partai politik bergerak mendekati masa pemilu atau pilkada sibuk membangun pencitraan, seolah-olah dia (parpol) paling membela kepentingan rakyat. Akan tetapi Bapak Prabowo Subianto tidak mengajarkan kami untuk melakukan hal demikian," kata Muzani, Senin 19 April 2021.

Menurut Muzani, Prabowo mengajarkan agar memberikan bantuan tidak hanya dilakukan ketika menjelang pemilu saja. Tetapi juga di saat genting seperti bencana alam yang melanda provinsi NTT ini.

"Beliau mengajarkan kami bahwa berpolitik adalah proses yang tidak pernah berhenti untuk terus memikirkan rakyat dan tidak kenal lelah untuk terus memperjuangkan kepentingan rakyat demi mencapai tujuan bangsa dan negara. Sehingga partai Gerindra hadir untuk rakyat bukan hanya saat menjelang pemilu saja, tapi juga di saat-saat sulit seperti ini," ujar Muzani.

Wakil Ketua MPR itu juga merincikan sejumlah bantuan yang diberikan seperti beras, mie instan, ikan kaleng, susu, biscuit, sabun mandi, sikat gigi, pasta gigi, selimut, masker serta air mineral. Menurutnya, komoditi tersebut adalah kebutuhan yang paling utama bagi masyarakat korban bencana agar bisa bertahan hidup di saat sulit seperti ini.

Dalam kondisi bencana ini, Muzani menilai dibutuhkan sinergisitas antara kepala daerah di provinsi NTT. Sinergitas sangat dibutuhkan agar pemulihan pasca bencana bisa dilakukan dengan cepat.

"Karena yang paling rawan dari bencana adalah pada saat satu minggu pertama, ada yang menjerit, menangis serta kehilangan anggota keluarganya dan tidak sabar menunggu (bantuan datang). Itulah awal krisis sebenarnya, sehingga butuh penanganan dari Walikota dan Wakil Bupati agar bencana dapat terkendali, sehingga dua minggu setelah bencana kondisi sudah terkendali," ujar Muzani.

Baca juga: Temui Rais Aam PBNU, Ahmad Muzani Bahas Toleransi hingga Vaksinasi