Gernas BBI, jadikan produk lokal kian dicintai dan berkelas

Royke Sinaga
·Bacaan 7 menit

Membidik pasar mancanegara tak mesti bahan baku harus didatangkan dari luar negeri, hasil pertanian lokal pun bisa disulap menjadi olahan makanan berkualitas tinggi.

Itulah yang dilakukan Ida Ayu Puspa Eny, pendiri UMKM BALIBEL yang bergerak di bidang produksi makanan dan minuman, yang produk-produknya telah dijual ke kancah nasional bahkan internasional.

Wanita asal Desa Sangeh, Kabupaten Badung, Bali sejak 2008 merintis usaha makanan olahan seperti selai buah lokal, roti garlic, bacon dan daging olahan.

"Produk kami dibuat dengan metode tradisional dan hanya menggunakan bahan pertanian lokal serta bahan alami lainnya," ujar Puspa Eny saat memaparkan produknya dalam Rapat Koordinasi Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI) di Kantor Gubernur Bali, Kota Denpasar belum lama ini.

Selain itu, pihaknya tidak menambahkan bahan aditif atau pengawet buatan untuk menjaga kualitas sehingga berbagai macam daging masak BALIBEL selama ini telah dipasok ke berbagai restoran, hotel berbintang, dan toko makanan.

Untuk membidik pasar kelas atas dan menyiapkan makanan berkualitas tinggi, Puspa Eny mengaku harus mengikuti standar kualitas yang sangat ketat dan berstandar internasional dalam mengolah makanan dan minumannya yang bahan-bahannya diperoleh dari para petani di Bali.

"Produk-produk kita sesuai dengan harapan para pelanggan mancanegara yang berada di Bali serta di seluruh Indonesia," ujarnya.

Saat ini BALIBEL juga sedang merintis produksi minuman beralkohol tradisional arak Bali yang berkualitas tinggi. Namun masih dalam proses perizinan, dan pemenuhan standar alkohol di bawah 20 persen.

Jika proses perizinan berjalan lancar, Puspa Eny ingin mengenalkan bahwa arak Bali dan produk minuman beralkohol lainnya tidak kalah dengan anggur-anggur kelas dunia lainnya.

"Saya juga sedang mengembangkan agar ayam betutu yang menjadi makanan khas Bali bisa diproduksi dan dikemas misalnya dalam bentuk kalengan sehingga bisa lebih awet dan cita rasanya dapat dinikmati lebih luas," ucap Puspa Eny.

Upaya mengangkat bahan-bahan lokal menjadi produk UMKM berkualitas tinggi juga dilakukan I Ketut Widiadnyana, Ketua Kelompok Tenun Putri Mas dari Kelurahan Pendem, Kabupaten Jembrana.

Widiadnyana dengan dibantu istri dan 55 anggota kelompoknya yang mayoritas ibu rumah tangga telah berhasil melambungkan kain songket dengan motif khas Kabupaten Jembrana di kancah nasional bahkan hingga diekspor.

"Kami kental mempertahankan motif songket asli Jembrana dan menggunakan warna-warna alami," ujar pria berusia 46 tahun ini sembari mengatakan digitalisasi dari aspek pemasaran dan pembayaran menjadi hal yang sangat diperhatikan.

Kelompok Tenun Putri Mas yang merupakan salah satu UMKM binaan dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Bali juga menjadi satu dari 26 UMKM yang terpilih menampilkan "showcase" kategori produk premium dalam Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI) di Provinsi Bali.

Selain memproduksi songket berbentuk lembaran dengan harga premium, untuk bertahan di tengah kondisi pandemi COVID-19, Kelompok Tenun Putri Mas yang telah dirintis sejak 2014 itu kini memproduksi masker berbahan songket

Masker berbahan songket dipadupadankan pula dengan busana untuk kebutuhan dalam negeri, bahkan juga diekspor ke sejumlah negara seperti Hong Kong, Malaysia, Singapura hingga beberapa negara di Benua Eropa.

"Kami pun aktif mengikuti sejumlah pameran langsung maupun pameran virtual yang difasilitasi Bank Indonesia dan sejumlah kementerian," kata pria yang telah memiliki 18 HaKI untuk berbagai produk kerajinannya itu.

Di lokasi peluncuran Gernas BBI 2021 di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, sendiri terdapat "showcase" 26 UMKM yang berasal dari UMKM binaan KPwBI Provinsi Bali, UMKM binaan Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Buleleng, Badung, dan Gianyar, serta UMKM Debitur BCA.


Kepala KPwBI Bali Trisno Nugroho, Sekda Bali Dewa Made Indra, Deputi Bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kemenko Marvest Odo RM Manuhutu, perwakilan perbankan, pelaku UMKM saat mencoba bertransaksi menggunakan QRIS dalam Rakor Gernas BBI (Antaranews Bali/Rhisma/2021)
Kepala KPwBI Bali Trisno Nugroho, Sekda Bali Dewa Made Indra, Deputi Bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kemenko Marvest Odo RM Manuhutu, perwakilan perbankan, pelaku UMKM saat mencoba bertransaksi menggunakan QRIS dalam Rakor Gernas BBI (Antaranews Bali/Rhisma/2021)


Kolaborasi dan digitalisasi

Berbicara mengenai kualitas produk dalam negeri atau produk lokal yang tidak kalah saing dengan produk dari mancanegara sebelumnya juga disampaikan Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan.

Luhut menyampaikan hal tersebut saat mengikuti secara virtual Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI) 2021. Dan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, menjadi lokasi pertama peluncuran kampanye Gernas BBI pada 2021.

Pada 2020, Gernas BBI telah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo sebagai wujud dukungan terhadap pelaku UMKM Indonesia yang terdampak pandemi COVID-19.

Belum usainya pandemi pada 2021 ini membuat dukungan terhadap UMKM Indonesia yang merupakan mayoritas penggerak ekonomi Indonesia perlu dilanjutkan. Gernas BBI 2021 sendiri mengambil tema Produk Artisan Indonesia 2021 Untuk Kita Indonesia dan Dunia.

Gernas BBI juga bertujuan untuk mengubah pola pikir konsumen bahwa produk UMKM kita nyatanya memiliki kualitas premium dan membanggakan.

Gernas BBI hadir untuk mendorong transformasi digital UMKM di masa adaptasi kebiasaan baru. Ada 6,1 juta UMKM yang ditargetkan masuk platform ekosistem digital (onboarding) setiap tahunnya hingga 2023.

Sebagaimana yang disampaikan Luhut Pandjaitan, Gernas BBI merupakan kerja sama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan swasta agar produk UMKM artisan semakin dibeli masyarakat. Pemerintah menargetkan Gernas BBI di 2021 mampu membangkitkan ekonomi Bali di Januari ini lalu dilanjutkan di provinsi lain.


Sekda Bali Dewa Made Indra didampingi Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali I Wayan Mardiana saat berbincang dengan Ida Ayu Puspa Eny selaku pendiri BALIBEL (Antaranews Bali/HO-Pemprov Bali/2021)
Sekda Bali Dewa Made Indra didampingi Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali I Wayan Mardiana saat berbincang dengan Ida Ayu Puspa Eny selaku pendiri BALIBEL (Antaranews Bali/HO-Pemprov Bali/2021)

Deputi Bidang Koordinasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Odo RM Manuhutu mengharapkan agar pemerintah daerah terus memberikan pendampingan kepada UMKM, sehingga kegiatan menjadi berkelanjutan.

Pemerintah daerah bisa mengarahkan pelaku UMKM untuk menciptakan produk berkualitas sehingga bisa menjadi nilai jual tinggi hingga ke pasar internasional. Dukungan terhadap Gernas BBI harus ditunjukkan hingga ke akar rumput, ke desa-desa yang menjadi simpul produksi UMKM.

Pejabat atau tokoh-tokoh masyarakat harus dapat menunjukkan keteladanan dengan membeli dan menggunakan produk UMKM dalam negeri.

Dengan tangan-tangan terampil perajin di Bali, Odo meyakini produk UMKM Bali tidak kalah dengan produk-produk brand ternama dari luar negeri.

Sebagus apapun produk yang dihasilkan perajin, tidak akan diketahui konsumen jika kini tak bersentuhan dengan teknologi informasi atau digitalisasi.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali mendukung Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI) 2021, sekaligus mendorong UMKM untuk memantapkan digitalisasi dari hulu hingga ke hilir.

"Kita tidak tahun kapan pandemi COVID-19 akan selesai, sehingga kami terus berusaha mendorong digitalisasi dan menjadikan 2021 ini sebagai tahun UMKM," kata Kepala Perwakilan BI (KPwBI) Provinsi Bali Trisno Nugroho.

Trisno menambahkan, selama ini selalu Bank Indonesia senantiasa mendukung gerakan mempromosikan produk buatan UMKM dalam negeri baik dalam berbagai kegiatan nasional maupun internasional.

Bank Indonesia juga turut melibatkan asosiasi perbankan untuk ikut memajukan pelaku UMKM melalui produk-produk berkualitasnya.

Di era digitalisasi seperti sekarang, Bank Indonesia pun ikut berkontribusi memudahkan sistem pembayaran dengan menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) yang diharapkan akan semakin menyambungkan pelaku usaha dengan dunia digital.

Digitalisasi yang didorong tidak hanya untuk pemasaran, tetapi juga mulai dari di hulu atau proses produksi, kelembagaan, pembiayaan hingga hilirisasinya.

Sinergi pemasaran dapat ditempuh dengan mengoptimalkan marketplace e-commerce, media sosial, gerai ritel seperti di bandara, pusat perbelanjaan di kota-kota utama dalam negeri serta optimalisasi marketplace, toko ritel produk Indonesia hingga jaringan diaspora dan pekerja migran Indonesia di luar negeri.

Sekretaris Daerah Provinsi Bali Dewa Made Indra mengajak masyarakat dan pemangku kepentingan terkait di Pulau Dewata untuk memasifkan Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (BBI) sebagai upaya penguatan ekonomi lokal.

"Karena sudah menjadi gerakan, menjadi tugas kita bersama untuk memberdayakan sumber daya lokal dan potensi lokal dan harus lebih dimasifkan lagi gerakan ini," ujarnya.

Pemprov Bali sebelum adanya Gernas BBI juga telah membuat berbagai kebijakan ekonomi untuk pemberdayaan UMKM lokal dan pemerataan kesejahteraan ekonomi diantaranya dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah harus 40 persennya menyerap produk UMKM lokal.

Kini, ketika ada Gernas BBI, sesungguhnya membuat kebijakan di Pemprov Bali menjadi lebih masif dan hal yang sama didorong untuk diterapkan di kabupaten/kota, terkait pengadaan barang dan jasa, yang memungkinkan UMKM lokal turut mengambil peran.

Gernas BBI sebagai gerakan yang mulia untuk memberikan penghargaan dan menyelamatkan UMKM harus dapat menjadi gerakan yang berkelanjutan dan membumi.

"Jangan sampai berhenti pada gerakan yang sebatas seremonial. Jangan sampai gerakan ini melukai UMKM kita dan memberikan harapan sesaat. Kita harus bertanggung jawab terhadap gerakan yang kita lakukan ini," pesan Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta saat menghadiri Rakor Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia.