Gernas BBI upaya agar UMKM siap bertahan hadapi ancaman resesi

Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI) diharapkan akan dapat menciptakan permintaan atas produk-produk UMKM sehingga pelaku UMKM bisa mampu bertahan menghadapi ancaman resesi tahun depan.

“Kuncinya meningkatkan demand, kalau demand ada maka produk UMKM akan terjaga untuk tetap berproduksi,” kata Deputi Bidang Koordinasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kemenko Kemaritiman dan Investasi (Marves) Odo RM Manuhutu dalam konferensi pers yang dipantau secara daring di Jakarta, Selasa.

Di sisi lain, ujar dia, UMKM juga perlu menjaga dan meningkatkan standard produk mereka agar tetap memiliki daya saing.

Pemerintah, lanjutnya, juga terus mendorong akses pembiayaan bagi para pelaku UMKM untuk menjaga mereka tetap bisa mengembangkan usaha di masa-masa penuh tantangan.

“Himbara sudah mengalokasikan lewat DigiKu sebesar Rp16 triliun, apalagi ada KUR (Kredit Usaha Rakyat) dan lainnya,” katanya.
Baca juga: Mendes PDTT: Gernas BBI dorong UMKM berorientasi pasar

Odo menegaskan keberpihakan pemerintah terhadap UMKM tidak pernah kendur. Bahkan, dibandingkan dengan krisis moneter 1998, sejak pandemi COVID-19, pemerintah menggelontorkan dana dukungan pemulihan ekonomi nasional, termasuk untuk UMKM.

“Keberpihakan sudah ada, yang penting sekarang bagaimana masyarakat bisa mengapresiasi produk-produk dalam negeri,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Staf Ahli Bidang Keuangan dan Pengembangan UMKM Kementerian BUMN Loto S Ginting mendorong agar pelaku UMKM bisa bersemangat untuk mencari cara mengantisipasi ancaman resesi global yang akan datang.

Meski demikian, Loto menilai UMKM adalah golongan pengusaha yang lincah dalam menghadapi masalah, berdasarkan pengalaman sejak krisis moneter hingga krisis saat pandemi melanda.

“Dengan kondisinya mereka pandai sekali menyesuaikan diri dan melihat potensi yang ada di depan, misal melihat market dengan kondisi yang ada,” katanya.

Loto juga mengamini bahwa Gernas BBI akan mendorong permintaan atas produk dalam negeri baik dari konsumen langsung, maupun permintaan dari K/L, pemda maupun BUMN sejalan dengan target belanja pemerintah dan BUMN untuk produk dalam negeri.

“Jadi potensi belanja instansi pemerintah, pemda dan BUMN ini sangat besar dan harus dimanfaatkan peluangnya,” katanya.
Baca juga: BI: UMKM tulang punggung transformasi digital dan ekonomi Indonesia

Tidak kalah penting, Loto juga mengingatkan pelaku UMKM agar memanfaatkan momentum untuk meningkatkan jejaring dengan banyak pihak yang nantinya bisa mendukung pengembangan usaha di masa depan.

Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) Bima Laga menjelaskan hingga saat ini hampir sekitar 21 juta unit UMKM sudah mulai masuk ke dalam ekosistem daring (onboarding) melalui Gernas BBI. Pemerintah menargetkan untuk bisa mendorong 30 juta UMKM onboarding hingga 2024 mendatang.

“Kita sekarang UMKM yang sudah onboarding kurang lebih 21 juta, atau 20 juta sekian. Kita masih ada PR 9 juta lagi, tapi kita tidak bisa sendiri, harus saling kolaborasi sehingga target bisa tercapai,” katanya.

Direktur Jaringan, Operasi dan Penjualan PT Pegadaian Eka Pebriansyah mengatakan pihaknya tak hanya fokus pada pembiayaan tetapi juga pendampingan UMKM sehingga diharapkan mereka bisa naik kelas.

“Di saat krisis, UMKM jadi salah satu kelompok yang punya daya tahan luar biasa. Ditambah dengan dukungan pemerintah, saya yakin ke depan potensi perkembangan UMKM akan semakin meningkat,” kata Eka.

Baca juga: Apresiasi UMKM, pemerintah gelar Anugerah Bangga Buatan Indonesia 2022