Ghana, Negara Produsen Emas Alami Krisis Ekonomi Dahsyat

Merdeka.com - Merdeka.com - Ratusan pengunjuk rasa berbaris di ibu kota Ghana, Accra. Mereka menyerukan pengunduran diri Presiden Nana Akufo-Addo di tengah krisis ekonomi yang menyebabkan harga bahan bakar dan makanan melonjak ke tingkat tertinggi.

Sambil dikawal polisi dengan perlengkapan anti huru hara, lebih dari 1.000 massa meneriakkan "Akufo-Addo harus pergi". Kerumunan berpakaian merah itu juga meneriakkan "IMF No" sebagai bentuk protes kepada Pemerintah Ghana yang sedang melakukan pembicaraan dengan International Monetary Fund untuk mendapat pinjaman dana senilai miliaran dolar.

Presiden Akufo-Addo pekan lalu, berusaha meyakinkan rakyat Ghana bahwa pemerintah berjanji akan mengembalikan keuangan negara ke titik normal. Setelah negara tersebut mengalami inflasi konsumen yang mencapai 37 persen pada bulan September lalu.

"Dia telah gagal dan kami memintanya untuk mengundurkan diri. Kenaikan harga bahan bakar yang tinggi membunuh rakyat Ghana," kata seorang pengunjuk rasa, Rafael Williams dikutip dari Aljazeera.

Protes ini adalah bagian dari serangkaian demonstrasi yang berlangsung sepanjang tahun ini, yang sebagian besar didasari atas melonjaknya biaya hidup.

Di mana dengan tingginya biaya hidup itu telah membuat masyarakat semakin sulit untuk bertahan hidup di negara ini. Apalagi menurut Bank Dunia, sekitar seperempat penduduk Ghana hidup hanya dengan pendapatan kurang dari USD 2,15 per harinya.

Produksi Emas

Ghana sebagai negara yang fokus memproduksi emas, kakao dan minyak, juga terkena dampak yang makin buruk akibat penurunan mata uangnya.

Cedi, mata uang Ghana tercatat telah kehilangan nilainya lebih dari 40 persen terhadap dolar pada tahun ini. Sehingga Cedi menjadi salah satu mata uang dengan performa terburuk di antara kawasan yang juga terdampak atas perlambatan ekonomi global.

"Cukup sudah. Kami memiliki emas, kami memiliki minyak, kami memiliki mangan, kami memiliki berlian. Kami memiliki semua yang kami butuhkan di negara ini. Satu-satunya hal yang kita butuhkan adalah kepemimpinan," ujar salah satu pengunjuk rasa lainnya, Francisca Wintima.

Reporter Magang: Hana Tiara Hanifah [idr]