Ghibah adalah Menggunjingkan Orang Lain, Dosanya Lebih Besar dari Zina

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta Ghibah adalah salah satu perbuatan dosa yang dibenci Allah SWT. Dalam kehidupan sehari-hari, ghibah adalah perbuatan yang sangat mudah dilakukan, bahkan tanpa disadari. Ghibah menjadi istilah populer dalam masyarakat untuk menyebut perilaku bergunjing atau bergosip.

Dalam kehidupan sehari-hari, ghibah adalah perilaku tercela. Ghibah bisa membawa kerugian, bukan hanya untuk orang lain, tapi juga untuk diri sendiri. Maka dari itu, ghibah adalah perbuatan yang harus dijauhi dalam hidup.

Dalam Islam, perilaku ghibah adalah perilaku yang pasti akan menuai ganjaran di dunia dan akhirat. Ghibah adalah perbuatan zalim yang sangat dilaknat oleh Allah SWT. Berikut arti ghibah, hukum, dampak, dan cara menghindarinya, dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Jumat(23/4/2021).

Mengenal ghibah

Ilustrasi Perempuan Muslim Credit: freepik.com
Ilustrasi Perempuan Muslim Credit: freepik.com

Secara etimologi, ghibah berasal dari bahasa Arab dari kata ghaabaha yaghiibu ghaiban yang berarti ghaib, tidak hadir. Berdasarkan etimologi ini dapat dipahami, gibah adalah bentuk “ketidakhadiran seseorang” dalam sebuah pembicaraan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, gibah adalah kegiatan membicarakan keburukan (keaiban) orang lain atau bergunjing.

Ghibah adalah perbuatamembicarakan aib atau keburukan orang lain. Bahkan meskipun yang dibicarakan itu sesuai kenyataan, ghibah tetaplah perbuatan yang zalim.

Dalam Islam, gibah bukan perilaku yang terpuji dan sangat dilarang karena berisiko menimbulkan fitnah. Orang yang berghibah bahkan diibaratkan seperti memakan bangkai saudaranya sendiri. Selain itu, ghibah adalah perbuatan yang sangat dekat dengan perbuatan tercela lainnya seperti fitnah, iri, dan dengki.

Hukum dan larangan berghibah

Ilustrasi Bergosip Credit: freepik.com
Ilustrasi Bergosip Credit: freepik.com

Ghibah merupakan perilaku yang dilaknat oleh Allah SWT. Hal ini bahkan tercantum dalam Al-Qur'an dan hadis. Allah berfirman dalam Surat An-Nur Ayat 19:

"Siapapun gemar menceritakan atau menyebarluaskan kejelekan saudara Muslim kepada orang lain diancam dengan siksa yang pedih di dunia dan di akhirat."

Allah menggambarkan perilaku orang yang suka menggunjing dan membicarakan orang lain dalam Surat Hujurat Ayat 12:

"Wahai orang-orang beriman jauhilah banyaknya prasangka sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, janganlah kalian mencari-cari kesalahan, jangan menggunjing sebagian terhadap sebagian, apakah engkau senang jika makan daging bangkai saudaranya? Maka kalian membencinya, dan takutlah kepada Allah sesungguhnya Allah menerima taubat dan Maha penyayang."

Rasulullah pun melarang umatnya untuk berghibah. Diriwayatkan dalam Hadis Tirmidzi, Rasulullah bersabda,

"Orang Islam itu saudara bagi orang Islam lain, jangan saling mengkhianati, jangan saling membohongi, dan jangan saling merendahkan, setiap Muslim atas Muslim yang lain itu haram rahasianya, hartanya dan darahnya, taqwa itu ada disini (dalam hati) cukup seseorang dikatakan jelek jika memandang rendah saudaranya Muslim."

Dosa ghibah berat dari dosa zina

Ilustrasi Perempuan Muslim Credit: unsplash.com/HasanAlmasi
Ilustrasi Perempuan Muslim Credit: unsplash.com/HasanAlmasi

Dikutip dari Dream, Rasulullah SAW sudah menyatakan bahwa dosa ghibah berat dari dosa zina,

“ Ghibah itu lebih berat dari zina. Seorang sahabat bertanya, ‘Bagaimana bisa?’ Rasulullah SAW menjelaskan, ‘Seorang laki-laki yang berzina lalu bertobat, maka Allah bisa langsung menerima tobatnya. Namun pelaku ghibah tidak akan diampuni sampai dimaafkan oleh orang yang dighibahnya,” (HR At-Thabrani).

Tak hanya itu, diriwayatkan bahwa Allah pernah berfirman kepada Nabi Musa AS,

“ Siapa saja yang meninggal dunia dalam keadaan bertaubat dari perbuatan ghibah, maka dia adalah orang terakhir masuk surga. Dan siapa saja yang meninggal dalam keadaan terbiasa berbuat ghibah, maka dia adalah orang yang paling awal masuk neraka.”

Lebih bahaya lagi, kelak di akhirat orang yang suka ghibah akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah oleh orang yang dighibahnya. Amal kebaikannya dibayarkan kepada orang-orang yang pernah dizaliminya, termasuk kepada orang yang telah dighibahnya. Setelah amal kebaikannya habis, amal keburukan orang-orang yang dizaliminya ditimpakan kepada dirinya.

Cara menghindari ghibah

Ilustrasi Perempuan Muslim Credit: freepik.com
Ilustrasi Perempuan Muslim Credit: freepik.com

Mengingat pedihnya ganjaran akibat ghibah

Ghibah yang diucapkan akan dicatat oleh malaikat dan diminta pertanggungjawabannya oleh Allah SWT. Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman.

“ Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir”. (Qaf : 18)

Menjauhi orang yang yang sering ghibah

Tidak dapat dipungkiri lagi jika nyatanya pergaulan merupakan hal yang dapat membawa dampak besar pada kehidupan sehari-hari. Ketika kamu bergaul dengan orang-orang dengan kelakuan baik, maka dengan sendirinya akan ikut terpengaruh dan melakukan hal-hal yang baik pula.

Sebaliknya, ketika kamu bergaul dengan orang yang berperilaku buruk, maka hal ini juga akan membentuk kepribadianmu juga. Jika ingin menghindari perilaku ghibah tentu kamu harus menghindari orang yang gemar melakukan ghibah.

Cara menghindari ghibah

Ilustrasi Muslim, puasa, buka puasa. (Photo by mentatdgt from Pexels)
Ilustrasi Muslim, puasa, buka puasa. (Photo by mentatdgt from Pexels)

Perbanyak ilmu agama

Orang yang mengetahui ilmu agama akan menjauhi ghibah. Mengikuti kajian, membaca Al-Qur'an dan tafsirnya, dan selalu berpikir positif dapat menjauhkan diri dari menggunjingkan orang lain.

Diam atau tidak menanggapi

Agar tidak terjerumus dalam perkataan ghibah, maka cara mudah menghindarinya adalah dengan diam. Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“ Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)

Menasehati pelaku ghibah untuk menyudahinya

Kamu dapat mengatakan dan mengingatkan pelaku ghibah bahwasannya perbuatanya itu salah. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“ Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran, rubahlah dengan tangannya. Jika dia tidak mampu, rubahlah dengan lidahnya. Jika dia tidak mampu, rubahlah dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemah iman” (HR Muslim 70)